Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Restoran bintang lima kini sudah di sulap menjadi dekorasi yang begitu indah. Malam ini Sena dan Arin akan memberikan kejutan kepada Aaron yang sedang berulang tahun.


Semua kelaurga besar sudah berkumpul di restoran itu, dan beberapa kerabat ataupun orang penting di perusahaan LWS juga menghadiri pesta kejutan untuk Aaron, di mana Sena malam ini akan memberikan hadiah terindah untuk sang suami dan kelaurga besar nya yang belum tahu jika dirinya hamil kecuali Arin.


"Papa.." Sena memeluk Bimo ketika pria paruh baya itu mengulurkan tangan nya, akhir-akhir ini mereka jarang bertemu karena Sena yang ingin tinggal di mansion Lewis.


"Apa kabar sayang, kamu cantik sekali." Bimo mengecup kening Sena, putrinya itu nampak begitu cantik dengan gaun pesta yang dia kenakan.


"Em..putri papa memang paling cantik." Balas Sena dengan nada percaya diri. Membuat Ren yang berada di sampingnya mencebik.


"Cih, mentang-mentang sudah laku." Cibir Ren yang melirik Sena jail.


Sena tidak menggubris, melainkan hanya menjulurkan lidah nya pada Ren.


"Oh ya, suami kamu belum datang." Tanya Bimo yang melihat jam di tangannya sudah pukul tujuh lewat.


"Kata Niko masih di perjalananya sekitar lima belas menit lagi baru sampai." Jawab Sena yang sudah mendapat pesan sari Niko, karena Sena meminta Niko untuk membawa Aaron ke tempat yang sudah dia siapkan.


"Ren kamu bilang ingin membawa teman kamu mana?" Tanya Sena yang ingat, jika Ren akan membawa teman nya untuk di kenalkan.


Ren tersenyum lebar. "Sebentar lagi sampai, dia tidak mau Ren jemput." Ucap Ren. Tak lama ponsel nya bergetar mendapat pesan masuk dari seseorang.


"Ren tinggal dulu Pah,kak teman Ren sudah di depan." Pamitnya dengan wajah sumringah.


"Pah, sepertinya papa akan mendapat menantu lagi." Goda Sena pada Bimo.


"Dengan senang hati papa akan menerimanya." Bimo tersenyum lebar, dan kembali merangkul putrinya.


.


.


"Nik, kenapa kamu bawa saya kesini?" Aaron menatap Niko dari kaca dalam mobil, dimana mobil mereka berhenti di depan restoran bintang lima.


"Ada klien yang menunggu anda di dalam pak, seperti yang saya ucapkan tadi." Jawab Niko dengan sopan.


"Ck. sudah aku bilang, aku tidak mau menemui klien di waktu kerjaku sudah habis, dan ini sudah jam berapa hah." Aaron kesal dan sedikit meninggikan suaranya.


"Hanya sebentar pak, mereka memaksa ingin bertemu sekarang, dan ini memang klien penting kita." Niko masih terus membujuk bosnya agar mau masuk ke dalam.


Sejak tadi siang Niko sudah memberi tahu Aaron, tapi memang Aaron menolak bertemu klien di atas jam tujuh malam, karena waktu kerja nya sudah habis dan tinggal waktunya bersama sang Istri.


"Kamu memang tidak bisa diandalkan." Aaron yang kesal keluar dari mobil, dan membanting pintu mobil dengan keras untuk melupakan kekesalannya.


Bukan tanpa alasan dirinya tidak mau bertemu klien di malam hari, Sena adalah prioritas nya dan pasti istrinya itu sudah menunggunya di rumah untuk makam malam bersama.


"Sayang, aku akan pulang telat malam ini, karena harus masih ketemu klien di hotel xxx, dan semua itu karena Niko sialan.."


Aaron mengirim pesan pada Sena.


"Awas saja lu Nik, sampe bikin gue tidur di luar malam ini, gue potong gaji lu tujuh puluh persen." Ucap Aaron ketika Niko berjalan di belakangnya.


Niko menelan ludah kasar, meskipun rasanya untuk malam ini tidak mungkin. Tapi mendengar ucapan Aaron membuatnya menciut.


"Jangan sampe deh, kalau di potong mana bisa gue bayar kereditan apartemen dan rumah.." Batin Niko ngenes.


.


.


Aaron dengan langkah lebar memasuki restoran hotel bintang lima itu, tapi mendadak langkah kakinya berhenti karena merasa janggal.


"Nik, kamu tidak salah pilih tempat?" Tanya Aaron pada Niko yang berdiri di sampingnya.


"Tidak pak, memangnya kenapa?" Niko melirik Aaron yang masih mengedarkan pandangannya.


"Ini restoran bintang lima, tapi kok kayak kuburan." Ucapan Aaron sontak membuat Niko tersedak.


Tak lama seorang pelayan datang, dan memberi tahu dimana klien nya sudah menunggu.


Aaron mengikuti pelayan itu dan diikuti Niko di belakangnya.


"Pak Ar, sudah masuk lokasi nyonya."


Niko mengirim pesan pada istri bosnya, agar bersiap-siap.


"Silahkan tuan." Pelayan itu mengantar Aaron sampai di pintu bagian outdoor.

__ADS_1


"Gak salah, restoran kok gelap." Ucap Aaron, tapi kakinya tetap melangkah masuk. "Nik, apa kamu tidak bisa menyalakan lampunya." Aaron menoleh ke belakang tapi sudah tidak ada Niko.


"Happy Birthday to you..." Suara nyanyian selamat ulang tahun, diikuti lampu gemerlap yang menyala terang benderang, Sena mendorong troli yang berisikan kue tart tinggi. Dengan tulisan Happy Birthday Daddy, mendekat kepada Aaron.


Aaron menatap nanar wanita cantik dengan gaun pesta malam ini, dan ternayata sang istri menyiapkan pesta untuk nya.


"Sayang.." Aaron menatap Sena dengan senyum lebar.


"Selamat ulang tahun sayang, maaf sudah membuatmu sibuk hari ini." Sena memajukan wajahnya untuk mencium pipi Aaron. "Semoga yang kamu inginkan tercapai." Sena tersenyum manis didepan Aaron.


"Terima kasih, terima kasih sudah mau berada di sampingku." Aaron memeluk Sena dan mencium keningnya.


"Sayang, selamat ulang tahun ya." Arin yang mengucapkan pada Aaron, dan diikuti oleh Arthur, Kakek Lewis beserta papa mertua, serta adik iparnya.


Aaron membalas ucapan mereka dengan suka cita, sejak tadi sebenernya sudah ada yang menarik perhatiannya dan bibir nya sudah gatal untuk bertanya.


Sena yang di peluk pinggang nya oleh Aaron menatap wajah sang suami.


"Sayang, kenapa ucapan di kue seperti itu." Tanya Aaron langsung, tanpa bisik-bisik.


Sena hanya tersenyum, pasti sejak tadi suaminya itu sudah heran dan bingung.


"Aku punya hadiah buat kamu." Sena memberikan kotak kecil berwarna hitam pada Aaron.


Aaron menerima dengan mengerutkan keningnya, "Kamu memberiku hadiah? tidak perlu sayang, ada kamu di sisiku sudah membuatku bahagia." Ucap Aaron dengan senyum merangkul pinggang sang istri.


Para tamu yang melihat adegan mesra pasangan muda suami istri itu hanya tersenyum dan geleng kepala, satu-satunya manusia yang sejak tadi dongkol hanyalah Birendra yang merasa panas melihat keromantisan kedua pasutri itu.


"Nasib kalo belum punya pasangan ini." Ucap Ren di samping gadis cantik yang dia bawa dan kentalkan pada papanya tadi.


"Gak yakin kalau pria tampan dan mapan kayak kamu masih jomblo Ren." Ucap Jihan yang mendapat ajakan undangan Ren malam ini.


"Kalau kamu tidak percaya, maka jadilah kekasihku." Ucap Ren dengan senyum, menatap Jihan yang wajahnya sudah memanas.


"Buka sayang." Sena berbisik pada Aaron.


"Ulangi lagi." Aaron malah tersenyum aneh pada Sena.


"Apa?" Sena memincingkan matanya, tidak mengerti.


"Hm..sayang.." Sena berucap dengan nada manja, pasalnya ini adalah kali pertama dirinya memanggil sayang.


"Ya, panggil aku sayang." Aaron memeluk Sena.


"Ar, kami sudah tak sabar menunggumu membuka kado itu, dan kami sakit mata melihat keromantisan kalian berdua." Ucap Arin dengan nada kesal, dirinya sejak tadi menunggu momen bahagia yang akan mereka dapatkan, tapi kedua orang itu sejak tadi hanya pamer kemesraan.


"Ck, kenapa mama yang tidak sabaran." Aaron berdecak kesal, Mamanya itu selalu merusak suasana.


Tanpa menunggu lama, Aaron membuka kotak kecil itu, dan mengernyitkan keningnya ketika melihat benda kecil di dalam nya.


"Sayang, kenapa alat ini kamu berikan aku seharusnya papa yang mendapatkannya." Ucap Aaron yang sedikit kesal, karena melihat tespeck di dalamnya dengan garis dua, dirinya sudah tahu pasti Mamanya hamil lagi.


"Maksud kamu apa?" Arthur mendekati Aaron dan meraih benda kecil di dalam kotak itu.


Sedangkan Aaron menepuk keningnya, karena lagi-lagi Aaron salah tanggap, jika dirinya benar-benar hamil.


"Papa lihat, sebentar lagi papa yang akan punya bayi, karena Mama hamil lagi." Ucap Aaron menatap papanya sengit.


Semua mendekati kedua pria itu, Sena hanya menghela napas. "Ar, bukan Mama yang hamil tapi_"


"Sudahlah sayang, aku tidak apa-apa jika harus memiliki adik di usiaku yang sudah dua puluh tujuh, padahal sepantasnya aku yang memberi mereka cucu." Ucap Aaron yang sudah malas.


Acaranya yang dia pikir akan meriah dan bahagia, malah membuatnya kesal karena mendapat kado yang seharusnya untuk ayahnya.


"Ar, Mama tidak hamil akulah yang hamil..!!" Sena yang kesal akhirnya berbicara dengan keras.


Deg


Jantung Aaron serasa berhenti, matanya menatap Sena intens.


"Aku hamil Ar, kita akan punya Beby." Sena menatap Aaron dengan mata berkaca-kaca. "Daddy, kamu akan menjadi Daddy." Air mata Sena jatuh seketika.


"Sen, ini_" Aaron menyentuh kedua bahu Sena. "Kamu tidak bohong." Aaron dengan wajah tak percaya diiringi dengan air mata yang menetes.


"Hu'um." Sena hanya mengangguk dengan tangis.


"Ya tuhan terima kasih." Aaron langsung bersimpuh di depan sang istri memeluk perut Sena dan menciuminya dengan rasa haru dan tangis.

__ADS_1


Arthur memeluk bahu Arin yang sudah mengusap air matanya. "Pah, Mama tidak menyangka Ar bereaksi seperti itu." Ucap Arin yang melihat putranya begitu meluapkan rasa syukur dan bahagianya.


"Iya mah, putra kita sudah dewasa dan akan memiliki anak, berarti kita sudah tua." Arthur mencoba mencandai istrinya.


"Ish, umur hanya angka papa, lihat kita saja masih pantas memiliki bayi lagi." Ucapan Arin sontak membuat Arthur melirik Arin ngeri.


"Kalau urusan buat papa akan selalu kuat, dan papa tidak akan kenal umur untuk melakukannya."


Arin langsung mencubit pinggang Arthur karena sudah bicara mesum.


"Ck. kalian sama saja." Ketusnya melihat kelakuan papa dan anak sama saja. Dan Arthur hanya tertawa.


"Like father, like son mama."


Bimo yang mendengar jika putrinya tangan mengandung membuatnya bahagia dan terharu, dirinya tidak akan menyangka jika akan mendapatkan cucu secepat ini.


"Papa bahagia sayang, semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya dan dalam kebahagiaan." Bimo memeluk Sena dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih papa, Sena menyayangi papa." Sena membalas pelukan Bimo.


"Ar, juga sayang papa mertua, meskipun dulu pernah menyebalkan." Ucap Aaron sambil tertawa dan memeluk kedua orang yang saling berpelukan itu.


"Terima kasih sudah menjaga putri papa dengan baik, kerena kebahagiaan anak-anak papa, adalah kebahagiaan papa juga." Bimo tersenyum bahagia, hatinya begitu merasakan kebagian yang tak bisa di gambarkan.


"Ren juga menyayangi kalian semua." Ren yang baru mendekat juga memeluk mereka bertiga, akhirnya ketiga pria itu memeluk satu wanita dengan rangkulan satu sama lainnya.


Kebagian jelas ketara malam ini di kelaurga Lewis, di mana pewaris utama akan mendapatkan penerus untuk kelangsungan kekayaan yang sudah turun temurun.


Disini mereka semua menunjukan wajah bahagia dan haru, memberikan selamat setelah Aaron benar-benar mengumumkan jika sang istri tengah mengandung buah hati nya.


.


.


Prang


Gelas yang berada di nampan seketika jatuh pecah berantakan di lantai marmer ketika seseorang menabraknya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Ren menyentuh bahu kekasihnya yang memar karena tak sengaja menyenggol nampan dan membuat gelas di atas nampan itu pecah berantakan.


"Tidak apa-apa sayang." Jihan hanya melirik pelayanan yang sedang membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai. Karena siang ini pengunjung sangat ramai membaut kejadian barusan menjadi pusat perhatian.


"Ada apa ini." Suara bariton menyapa dari balik punggung Ren.


"Pak Birendra." Sapa pemilik restoran itu, yang memang mengenal Birendra.


"Maaf, kalau sudah membuat bapak tidak nayaman disini." Ucap pria itu, yang seolah mengerti situasi.


"Maaf jika saya ikut campur, tapi pelayan ini sudah membuat tangan kekasih saya memar." Ucap Ren menatap dingin wanita yang masih menunduk mengambil pecahan gelas yang bisa Ia ambil. "Jadi lebih baik anda pecat pelayan itu, dari pada restoran anda yang akan saya tutup." Ren berbicara tegas.


Alexa yang sejak tadi menunduk, kini mendongak menatap wajah pria yang ternyata sudah tiga kali membuatnya dalam masalah dan berakhir di pecat.


"Baik pak, saya akan pecat dia." Ucap pria yang ketakutan jika restoran nya akan di tutup, lebih baik dirinya kehilangan satu karyawan dari pada kehilangan aset penghasilannya.


"Alexa kamu dengar, mulai sekarang kamu saya pecat."


Alexa tak bergeming, sorot matanya menatap tajam Ren yang juga menatapnya.


Dengan perasaan kesal dan dongkol, Alexa berdiri di depan wajah Ren dan menatap kedua mata pria itu penuh kebencian.


Ren yang mendapat tatapan mata Alexa mendadak hatinya gundah, dirinya bisa melihat kebencian yang dalam dari sorot mata gadis itu.


"Baik pak, terima kasih." Alexa berbicara tanpa menatap atasnya, kedua matanya fokus menatap kedua bola mata Ren yang juga menatapnya.


"Kenapa dari sorot matanya dia begitu 😂membenciku.." Gumam Ren dalam hati, dirinya menatap punggung Alexa yang semakin menjauh, tapi hatinya merasa tak tenang, seperti ada yang rasa yang mengganjal.


.


.


.


Hai..hai... kesayangan otor😘😘 maaf Yee, kalo otor update nya masih melancong..🤭 Mak otor masih dalam suasana liburan jadi masih sedikit sibuk..😂


Tapi tenang gaesss...mulai besok Mak otor udah aktif, dan insyaallah gak pelit deh Update nya..asal kalian kasih Mak otor semangat kirim hadiah..pasti Mak otor tambah Semangat 🤣🤣


Di bab selanjutnya, Mak otor udah mulai di kehidupan Birendra ye, kalau neng Sen-Sen nanti buat pemanis deh kalau kalian kengen, karena mereka sudah bahagia..sekarang mak otor mau cari jodoh untuk Si Birendra yeee...

__ADS_1


__ADS_2