
Tak lama orang yang dimaksud nyonya Diana pun datang dengan penampilan anggunnya.
Leina mendekati tempat duduk nyonya Diana beserta suami, dan Alena belum menyadari jika kedua pria yang duduk membelakangi nya adalah suami dan sahabatnya.
"Selamat siang ibu." Alena menyapa dengan ramah, tersenyum melihat dua orang paru baya yang juga baik padanya.
Nyonya Diana langsung mengembangkan senyumnya melihat Alena. "Nak Alena sini duduk, ada yang ibu mau obrolin sama kamu." Nyonya Diana menyuruh Alena duduk di samping kiri nya, kursi kosong sebelah Bimo, karena pak David duduk disebelah kanan.
"Maaf, tapi kan ibu dan bapak lagi ada tamu." Ucap Alena yang masih belum menyadari kedua pria yang duduk membelakanginya.
Yuda menahan senyum sejak tadi, karena melihat wajah Bimo yang sepertinya sedikit salah tingkah, setelah mendengar ucapan nyonya Diana tadi.
'Lihat saja kalau aku bertemu dengan suaminya pasti akan aku jewer telinganya sampai putus..' Ucap nyonya Diana, dan reflek Bimo langsung memegang kedua telinganya membuat Yuda tertawa keras.
"Tidak apa, sekalian ibu kenalin sama orang yang akan membeli pabrik kami."
Alena yang merasa tidak enak akhirnya duduk di sana, ketika duduk dirinya mencium aroma parfum maskulin yang sangat Ia kenali.
Karena penasaran Alena menoleh ke samping kiri, dan benar saja matanya membola sempurna ketika melihat senyum suaminya yang terasa aneh menurutnya.
"Mas.." Cicitnya pelan.
__ADS_1
Bimo hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum aneh nya.
Yuda sejak tadi sudah sakit perut karena menahan tawa, menarik napas dalam dan menghembuskan nya dirinya mencoba untuk tenang.
"Nak Bimo kenalin ini Alena yang tadi ibu ceritakan." Nyonya Diana berucap, tangannya mengelus punggung Alena.
"Em.."Alena bingung harus berkata apa.
"Saya sudah kenal Bu, bahkan sebelum ibu mengenakannya." Ucap Bimo dengan tersenyum.
"Kenal, jadi kalian saling kenal." Tanya nyonya Diana.
"Dia pria yang tadi ibu akan jewer telinganya jika bertemu." Sambar Yuda, dengan meledakkan tawa nya. "Bimo suami Alena Bu, pria yang tidak bisa menjaga istrinya seperti yang ibu bilang tadi." Yuda masih dengan tawanya.
Secepat kilat kakinya di tendang oleh Bimo dari bawah. Tapi tak membuat Yuda berhenti tertawa.
Nyonya Diana membulatkan kedua matanya karena terkejut. "Jadi mereka suami istri." Katanya dengan wajah yang masih syok.
"Betul Bu, kami suami istri dan saya baru menemukan dia yang kabur dari saya." Bimo merangkul bahu Alena dan mendaratkan kecupan di balik kerudung kepalanya.
"Ternyata dunia sempit ya.." Pak David hanya terkekeh.
__ADS_1
"Jadi apa ibu masih mau menjewer telinga saya?" Tanya Bimo dengan menatap nyonya Diana yang menjadi diam dan salah tingkah.
"Em..itu.." Nyonya Diana menjadi kikuk.
"Tidak apa Bu, jewer saja dia tidak akan membatalkan pembelian pabriknya meskipun ibu menjewer telinganya sampai putus." Yuda masih saja mengompori nyonya Diana.
Bimo yang kesal melempar serbet tepat mengenai wajah Yuda dengan tatapan membunuh.
"Mas.." Alena menggelang kan kepala melihat kelakuan suaminya.
"Dia nyebelin sayang." Ucap Bimo mendelik ke arah Yuda.
Tersangkanya hanya cengar-cengir tanpa dosa.
"Anak-anak papa, jangan tiru kelakuan Om Yuda, amit-amit yaa." Bimo mengelus perut Alena.
Pak David dan nyonya Diana hanya tersenyum melihat perhatian Bimo yang begitu menyanyangi istri dan calon anak mereka.
Mereka tidak menyangka jika pria muda itu adalah suami dari Alena yang begitu baik dan cantik.
Dan mereka semua melanjutkan makan siang diselingi obrolan Yuda yang masih saja memojokkan Bimo, mumpung ada kesempatan jika hanya berdua pasti dirinya sudah habis babak belur oleh Bimo.
__ADS_1