
Sore hari setelah seharian berada di apartemen dan menghabiskan waktu berdua, kini Alexa meminta untuk di antar ke suatu tempat, entah mengapa dirinya ingin kesana.
Ren yang selalu menuruti permintaan sang Istri hanya bisa pasrah, menjadi pelayan tuan putri saja Ren layani, apalagi hanya menjadi supir untuk Alexa.
"Loh, kok rumah nya." Alexa langsung turun ketika mobil yang dikendarai Ren berhenti.
Wanita itu berdiri didepan pagar yang terkunci dan tertera spanduk rumah disegel.
"Kenapa? ini rumah siapa?" Tanya Ren yang berdiri disamping Alexa. Rumah tingkat dua didepan sana nampak kosong, apalagi rumah tersebut dalam keadaan di segel. Ren tidak tahu rumah siapa tapi sepertinya begitu berarti untuk Istrinya.
"Rumah almarhum ayah, rumah ini di ambil alih oleh istri kedua ayah, dan kami di usir setelah ayah meninggal. Aku kira kak Maura dan ibunya masih meningali rumah ini tapi." Alexa tak melanjutkan ceritanya, dia sungguh sedih dan kecewa. Rumah ini adalah kenangan masa kecilnya bersama keluarga. Meskipun ayahnya menikah lagi tapi mereka masih tetap tinggal di rumah itu dan saat ayahnya meninggal barulah istri kedua dan Maura berulah merebut hak yang bukan miliknya.
Alexa menatap rumah itu sendu, jika sudah seperti ini mungkin saja mereka mengadakan surat rumah sebagai jaminan.
Melihat wajah Istrinya yang muram membuat Ren mengehela napas, dirinya sedikit menjauh untuk menghubungi Juno.
"Sudah jangan bersedih, biar Juno yang membereskan." Ren mengusap bahu Alexa. Alexa menoleh menatap wajah suaminya. "Maksudnya?"
"Kamu menginginkan rumah ini bukan?" Tanya Ren tersenyum, mengusap pipi Alexa.
Alexa hanya mengangguk. "Tapi untuk mengembalikan lagi pasti sangat mahal, dan uangku tidak akan cukup." Tutur Alexa yang rupanya melupakan sesuatu.
"Hey...hey.. kau lupa suamimu ini siapa hm." Ren menangkup kedua pipi Alexa. "Uangku tidak akan habis hanya untuk mengembalikan rumah ini." Ucap Ren dengan pongahnya.
Alexa tersenyum. "Aku lupa, jika tuan Birendra memiliki banyak uang, tapi aku hanya sangsi setelah kebaikan yang kamu beri pasti ada imbalanya." Keluh Alexa dengan wajah kesal.
Suaminya pasti tidak akan cuma-cuma melakukannya, meskipun Alexa tahu, jika Ren akan memberikan apapun tapi Alexa hanya tidak tahan dengan kemesuman suaminya itu.
"Em, tentu saja. Karena kamu harus membayarnya dengan seumur hidup melayaniku." Ren merangkul bahu Alexa. "Bagiamana setuju, dan aku tidak mendengar penolakan."
__ADS_1
Bugh
"Selalu begitu." Alexa mencebik lalu tersenyum, tangannya merangkul tubuh suaminya. "Terima kasih, rumah ini adalah satu-satunya kenangan ayah dan ibu."
Tangan Ren mengusap kepala sang istri, "Ya, dan nanti malam adalah malam pertama kamu melayaniku."
"Masss ."
"Auwss..sakit sayang." Ren meringis mengusap pinggangnya yang dicubit Alexa.
"Jangan mesum terus, kasian baby."
Ren malah tertawa dan mengecup kepala Alexa, mengusap perut buncit Istrinya.
Mereka kembali masuk ke dalam mobil, malam ini ada acara makan malam di kediaman Bagaskara, semua berkumpul, termasuk Alisa dan keluarga.
"Kita langsung kerumah papa." Ren kembali mengemudikan kendaraannya. Jalanan sore cukup ramai meskipun hari biasa tapi jalanan kota Jakarta tidak pernah sepi.
Ren menoleh lalu kembali fokus menyetir. "Apapun untuk nyonya."
.
.
Sesampainya di kediaman Bagaskara, Ren membantu menurunkan bawaan yang di beli oleh sang istri. Makanan dan beberapa mainan untuk baby A.
"Kenapa kamu begitu suka sekali membeli mainan untuk A, padahal rumah papa sudah seperti toko mainan." Ren melihat paperbag yang dia bawa.
"Kami tidak mengeri rasanya sakit mata jika melihat barang yang ingin kita beli." Alexa berlalu meninggalkan suaminya yang hanya menghela napas.
__ADS_1
"Hidup wanita memang sudah dimengerti." Gumamnya dengan berjalan mengikuti langkah sang Istri.
Alexa disambut dengan Sena yang begitu senang melihat ibu hamil itu datang. "Uhh.. aku selalu gemas lihat perut kamu." Sena mengusap perut Alexa lembut. "Semoga twins cewek, biar aku bisa lampiaskan yang aku inginkan pada mereka." Sena berbinar membayangkan jika bayi Alexa adalah bayi perempuan dan dia yang akan menjadikan bayi itu princess.
"Ck, kakak manjakan saja baby A, sepertinya kakak tidak pernah memanjakan kedua anak kakak menggunakan uang kakak sendiri." Bukan Alexa tapi hanya Birendra yang berani berkata seperti itu.
"Ck, kau menyebalkan." Sena berdecak. "Mereka semua yang tidak memberi kesempatan kakak untuk memanjakan baby A." Sena mengerucutkan bibirnya, ketika melihat Aaron yang menghampirinya dengan senyum.
"Mereka selalu dikelilingi orang-orang baik, dan menyayangi mereka, jadi kita harus bersyukur." Aaron mengusap kepala sang istri.
"Lagian kak, bagus dong. Dengan begitu kakak tidak udah repot-repot keluar dolar untuk kebutuhan baby A." Seloroh Alexa membuat kedua pria itu tertawa, tapi tidak dengan Sena.
"Kalian tidak mengerti, bagaimana rasanya memiliki keinginan yang tidak bisa dilampiaskan, pokoknya twins harus perempuan, biar aku bisa melampiaskannya."
Ren hanya geleng kepala. Mereka sepakat untuk merahasiakannya jenis kelamin kedua putri mereka yang sudah di ketahui. Karena Sena pasti akan kegirangan jika keponakanya adalah perempuan.
"Kalian sudah datang." Bimo menuruni tangan dan melihat anak-anaknya berkumpul. Waktu masih sore dan mereka sudah ada di rumahnya.
"Pah." Alexa menyalami tangan papa mertuanya, begitupun dengan Ren. "Sengaja karena ingin bermain lebih lama sana baby A." Jawab Ren dengan senyum.
"Ya, mereka sekarang semakin menggemaskan papa saya tidak bisa tidak melihat mereka satu jam saja." Bimo terkekeh. Cucunya yang mulai aktif di usianya menginjak lima bulan membuat Bimo enggan untuk lama-lama berada di luar, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan si kembar di rumah.
"Nanti jika anak kalian lahir. Tinggal di sini, papa ingin menjaga cucu-cucu papa." Ucap Bimo dengan tersenyum.
Alexa den Ren saling tatap, dan Alexa mengangguk. "Iya pah, nanti kami akan tinggal disini." Alexa tersenyum.
Dirinya tahu jika papa mertuanya yang ingin dekat dengan anak dan cucunya diusianya yang semakin menua. Dan Alexa sekalian ingin belajar merawat baby bersama sang kakak.
"Terima kasih, kalian adalah anak-anak papa yang baik." Bimo merangkul Sena dan Alexa. Membuat kedua pria yang berdiri disana juga teeseyum.
__ADS_1
Aaron yang memang lebih memilih tinggal bersama sang Istri, karena dia mengerti bagaimana kehidupan sang papa mertua sejak mengurus Sena, dan Aaron yang mencintai sang istri.
Bagi mereka keluarga adalah yang utama. Kebersamaan yang sekarang mungkin sebentar lagi tidak akan bisa dirasakan kembali. Hidup seseorang siapa yang tahun, tua dan muda tidak menjadi patokan untuk mengukur hidup seseorang, karena jika tuhan sudah menghendaki maka semua tidak akan ada yang bisa menghindarinya.