
Aaron sudah siap dengan menggunakan pakaian rapi, pagi ini dirinya kembali bekerja di pabrik milik Sena meskipun sampai sekarang dirinya tidak tahu pabrik itu adalah milik perempuan yang dia cintai.
"Kenapa ke sini bukannya langsung berangkat?" Ucap Sena yang melihat Aaron bersandar di samping motor besarnya.
Aaron sengaja menunggu Sena di parkiran basement apartemen, berniat untuk mengajaknya berangkat bersama.
Ya, setelah lelah dan juga stres karena setiap hari di datangi dan merengek, Sena akhirnya membantu Aaron untuk bisa masuk kembali bekerja di pabrik.
"Karena sudah memberikan aku kesempatan bekerja lagi, maka mulai sekarang aku akan menjadi supir ojek untuk tuan putri." Aaron berdiri didepan Sena, tatapan matanya begitu berbinar melihat wajah cantik Sena pagi ini.
"Aku tidak perlu tukang ojek." Sena menaruh tasnya di dalam bagasi motornya.
"Eiitt, tidak ada penolakan." Aaron merebut asena yang akan ditaruh Sena.
"Kamu tidak lihat aku memakai pakaian apa? dan lihat motormu."
Aaron memperhatikan penampilan Sena dan melirik motor besar nya sekilas.
"Berikan kunci mu." Aaron mengulurkan tangannya untuk meminta kunci motor pada Sena.
Sena pun langsung memberikannya.
"Ayo..karena kamu memakai rok jadi hari ini kita berangkat naik motor kamu dulu." Aaron menaik turunkan alisnya, menunjukan ide berliannya.
"Cih, bilang nya mau berterima kasih tapi masih merepotkan." Gerutu Sena, dan dia pun mengalah, dan naik di jok belakang Aaron dengan duduk menyamping
Aaron tersenyum lebar, tangannya meraih kedua tangan Sena untuk berpegangan pada perutnya.
"Pegangan sayang."
__ADS_1
Sena hanya diam dengan mengulum senyum, karena kelakuan Arron dirinya menjadi sering tersenyum.
Aaron melajukan motornya dengan kecepatan sedang, walaupun sebenarnya dirinya tidak sabaran karena terlalu sering menggunakan motor dengan kecepatan tinggi, tapi karena membawa wanita yang dia cintai Aaron tidak akan kebut-kebutan.
"Ar..apa tidak bisa lebih cepat sedikit." Ucap Sena di samping pundak Aaron.
"Kamu tidak takut, kebut-kebutan?"
Sena menggeleng "Tidak." Ucapnya sedikit keras.
"Baiklah ayo pegangan." Aaron Aaron kung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi setelah Sena memintanya untuk lebih cepat.
"Apa kamu takut..!" Aaron sedikit berteriak, agar Sena mendengarnya.
"Tidak, ini justru seru." Ucap Sena dengan senyum mengembang, Aron bisa melihat senyum Sena dari kaca spion.
Aaron ikut tersenyum.
keduanya menjadi pusat perhatian, apalagi melihat Aaron yang membantu melepaskan helm di kepala Sena.
"Terima kasih." Ucap Sena dengan tersenyum manis, senyum yang tidak pernah ditunjukkan kepada pria manapun.
"Sayang hati abang meleleh," Aaron mendramatisir keadaan dengan menyentuh dadanya. "Sumpah Kamu jutek aja aku sudah jatuh cinta, apalagi kamu tersenyum manis seperti itu. Masya Allah hati abang adem." Aaron membalas dengan senyum manis.
"Iss... berisik, jangan bikin malu deh." Ucap Sena kembali ke mood datar.
Aaron pun hanya terkekeh.
"Wah..wah..itu si Rian, pake pelet apa bisa dekat sama Bu Bos, berangkat aja naik motor bareng." Bisik Dadang pada ada asep yang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Iya...yaa, itu si Rian Kok bisa masuk kerja lagi." Gumam Asep.
"Udah ayo masuk nanti saja kita tanya, udah mau masuk kerja nih." ajak Dadang merangkul bahu Asep untuk masuk ke dalam pabrik karena jam sudah menunjukkan waktu kerja akan dimulai.
"Nanti pulangnya tungguin aku ya, Jangan pulang sendiri bahaya.." Ucapan sebelum meninggalkan Sena dengan wajah yang kesal, karena sebelum pergi Aaron sempat mengacak-ngacak rambutnya.
Ehem
Deheman seseorang membuat Sena tersadar dan menoleh ke belakang.
"Om Yuda." Sena membulatkan kedua matanya ketika melihat Yuda dan Kemal sudah berdiri di belakangnya.
"Pagi Kak." Kemal mengulum senyum. Melihat wajah panik Sena untuk pertama kali, seperti maling yang tertangkap basah.
"Roman-romannya ada yang sedang dekat dengan cowok nih." Sindir Yuda dengan bibir menyunggingkan senyum.
Sena hanya menunduk, wajahnya begitu terasa panas karena merasa malu.
"Udah ayo masuk udah waktunya kerja. "Yudha merangkul bahu Sena berjalan beriringan untuk masuk ke dalam pabrik. "Om akan dukung Kamu asal itu membuatmu bahagia, dan terbaik buat kamu." Bisik Yuda dengan senyum jahil.
"Ish.. Om apaan sih tadi hanya kebetulan lewat, dan motornya mogok jadi Sena kasih tumpangan, gak lebih." Kilah untuk membela dirinya.
Meskipun Yudha tidak marah tapi bagi Sena kepergok dengan seorang pria membuatnya malu.
"Apapun alasanmu Om akan percaya." Yuda mengelus kepala Sena, Shena pun membalas dengan senyum.
"Duh kayaknya om Bimo bentar lagi mau hajatan Pah." Ledek Kemal.
"Kemal, apa-an sih, rese tau gak." Sena memukul lengan Kemal, yang berada di sampingnya, dan Sena pun posisinya berada di tengah.
__ADS_1
Mereka tertawa, beberapa karyawan menatap mereka yang begitu akrab, meskipun ada yang mengadang-gadang Sena calon Istri Kemal, atau Sena saudara presedir mereka. Semua orang nampaknya menggosipkan Sena yang sedang trending topik di pabrik.