
Pesta yang seharusnya meriah dan berkesan malah menjadi berantakan karena kemarahan Leina.
Semua tamu membubarkan diri setelah Bimo berbicara dan meminta maaf atas kejadian yang mereka lihat.
Sepanjang jalan Alena hanya diam dengan pandangan lurus kedepan.
Bimo sesekali melirik wajah istrinya yang terlihat murung.
"Sayang.." Tangan nya mengambil dan mengeggam tangan Alena. "Maaf jika Mama sudah berbuat kasar padamu." Ibu jarinya mengelus punggung tangan Alena lembut.
Alena menatap suaminya dan tersenyum. "Tidak apa Mas, mungkin Mama hanya marah karena pesta yang seharusnya tidak aku hadiri."
"Kamu adalah istriku, dimana pun aku pergi pasti ada kamu disisiku." Bimo mengecup tangan istrinya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Alena dengan memiringkan badannya sedikit kearah Bimo.
"Hm." Respon Bimo, dengan pandangan fokus kedepan.
"Bagimu seorang Mama seperti apa?."
__ADS_1
Bimo nampak diam sejenak menatap istrinya sekilas.
"Mama adalah segalanya bagiku, apapun yang bisa membuat Mama bahagia akan aku berikan."
"Ya, kamu benar ibu adalah segalanya tanpa mereka kita tidak akan menjadi orang seperti sekarang, dan semua itu kita harus berbakti dan membahagiakan beliau." Alena bicara dengan wajah biasa saja dan tersenyum tipis. Meskipun hatinya sedikit nyeri mendengar ucapan Bimo.
Bimo pun mengerti arah ucapan istrinya. Meskipun Alena nampak biasa saja dan tersenyum tapi hatinya pasti merasakan sakit jika dirinya belum diterima oleh sang mama menjadi menantunya.
"Berbakti bukan berarti harus menuruti semua kemauan beliau, membahagiakan bukan berarti harus reka mengorbankan kebahagiaan kita sendiri, seorang ibu seharusnya memberi dukungan dan semangat untuk anaknya, bukan malah membuat sang anak menjauhi nya, jika kamu berfikir menyuruhku menjauh dan meninggalkanmu, maka kamu salah besar Ale. Sampai kapankah aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan kamu aku pastikan tidak akan pernah pergi dari sisiku."
Glek
Bimo tidak suka dengan pemikiran Alena yang ingin mencoba menjauhinya karena sang Mama, jika dirinya ingin mungkin tidak akan mau dengan Alena dan lebih memilih wanita pilihan mamanya, namun semua itu tidak berarti karena dirinya mencintai Alena yang sudah menjadi istri nya, dirinya rela jika harus di benci sang Mama karena memilih Alena yang notabennya bukan menantu idaman sang Mama.
Ketika sampai dirumah ternyata Alena tertidur didalam mobil.
Tangan Bimo terangkat untuk merapikan anak rambut Alena yang menutupi sebagian wajahnya.
"Jangan pernah pergi dariku, meskipun aku harus mengemis dan bersujud padamu." Bimo menatap wajah Alena yang terlelap dengan dalam. Hatinya ikut sakit merasakan istri yang dicintainya direndahkan dan dipermalukan oleh Mama nya sendiri. Sebagai anak Bimo juga tidak ingin menyakiti hati sang Mama, tapi disisi lain dirinya juga harus menjaga hati sang istri.
__ADS_1
Merebahkan tubuh Alena di tempat tidur, Bimo menarik selimut sampai batas dada Alena.
"Tidur yang nyenyak sayang." Kecupan selamat malam pun tak pernah Ia lupakan.
Setelah berganti pakaian Bimo keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.
Alena bergerak gelisah di dalam tidurnya.
"Jangan.." Alena bergumam dengan mata terpejam erat.
Ceklek
Bimo masuk ke kamar pukul satu dini hari, dirinya yang tak bisa tidur menghabiskan waktu untuk mengecek proyek di kota S.
Meskipun sedikit kesulitan, tapi karena otak cerdasnya Bimo bisa menangani kekacauan yang orang tua Siera perbuat.
Duduk di pinggir ranjang, Bimo melihat jika wajah istrinya basah oleh keringat.
"Sayang.." Bimo mengusap kening Alena dan menepuk pipi Alena pelan agar membuka mata. "Demam." Bimo segera beranjak dan kembali keluar kamar untuk mengambil air dan kain untuk mengompres.
__ADS_1
"Maaf sayang.." Bibir Bimo terus mengucap maaf dengan wajah sedih.