Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Sama-sama ingin dimengerti


__ADS_3

Meskipun Ren menyuruh Alexa untuk resign tapi wanita hamil itu tetap ngotot untuk tidak mau resign.


Nathan sudah membujuk ataupun merayu Alexa tapi Wanita itu keras kepala.


Alexa berjalan mendekati ruangan suaminya. Seperti biasa jam makan siang mereka selalu makan bersama di kantor.


Alexa yang memakian dress untuk pakaian kerjanya, meskipun begitu dirinya tetap dihormati karena istri CEO pemilik perusahaan. Dan Alexa yang selalu menebar senyum ketika disapa membuat karyawan lain begitu senang.


Sejak hamil Alexa sudah tidak memakai sepatu/sandal yang berhak, dia lebih suka memakai model flat shoes, lebih nyaman untuknya berjalan.


Alexa mendorong pintu besar ruangan suaminya, dia melihat Juno yang berdiri didepan meja suaminya.


"Keluarlah, nanti kita bicarakan lagi." Ucap Ren yang melihat Istrinya masuk keruanganya.


Dan Juno pun mengangguk, lalu pergi setelah menyapa Alexa.


"Masih sibuk Mas." Tanya Alexa dengan berjalan menuju sofa, dan menaruh bekal yang dia bawa dari rumah untuk makan siang mereka.


"Tidak." Ren menghampiri Istrinya setelah membuka jas yang dia pakai, dan menaruhnya di sandaran kursinya. Menggulung lengan kemejanya Ren mengecup kepala Alexa. Ren terlihat kusut membuat Alexa bertanya.


"Apa ada masalah." Alexa menatap suaminya, Ren yang bersandar di punggung sofa menoleh.


"Sedikit." Alexa menyipakan makanan.


"Makan dulu." Alexa menyuapkan sendok ke arah Ren, membuat pria itu terseyum dan membuka mulutnya.


Alexa juga menyuapkan ke dalam mulutnya, bergantian dari satu sendok yang sama, itu yang sering mereka lakukan jika sedang makan siang dikantor.


Setelah selesai, Alexa kembali merapikan kotak bekal yang dia bawa, dan Ren menegak minuman untuk meringankan tenggorokannya.


"Mas harus pergi keluar kota untuk beberapa hari." Ucap Ren setelah melihat istrinya duduk santai di sampingnya.


Alexa menoleh, menatap wajah lesu suaminya. "Berapa lama?" Tanyanya, dengan mengusap dada Ren, kepalanya bersandar bahu suaminya.


"Paling cepat satu Minggu, karena masalah di sana begitu rumit. Bahkan kantor sudah rugi ratusan juta, dan baru diketahui." Ucap Ren sambil mengelus kepala Alexa.

__ADS_1


Bukan pekerjaan yang membuat Ren lesu dan kusut, melainkan harus berpisah dari sang istri dengan waktu yang lumayan lama, dan Ren tidak tega meninggalkan Alexa sendiri apalagi dalam keadaan hamil.


Disana Ren akan cukup sibuk dan waktunya pasti terkuras habis untuk pekerjaan, satu Minggu belum tentu selesai dengan kerugian yang cukup besar.


"Kami tinggal dirumah papa, biar tidak sendiri." Ucap Ren dengan sedikit menunduk melihat wajah Alexa, dan Alexa mendongak sedikit.


"Em, tidak apa, lagian aku bisa tinggal Sen_"


"Jangan membantah, ini demi kebaikan kami dan anak kita. Sudah cukup aku mengalah karena kamu masih ingin bekerja, tapi tidak dengan tinggal sendiri sedangkan aku tidak ada." Ucap Ren dengan tegas. Matanya menatap Alexa penuh dengan perintah, membuat Alexa diam tanpa bisa menjawab lagi.


Alexa masih keras kepala, jika hanya dirinya saja mungkin Ren bisa memakluminya, tapi ini Alexa sedang mengandung buah hati mereka tidak hanya satu tapi dua.


Suasana hangat tadi kini menjadi hening dan sedikit tegang. Alexa yang merasa tidak dimengerti dan Ren yang tidak bisa membiarkan Alexa terus berbuat sesuai keinginannya, Ren melakukan itu demi mereka yang dicintainya.


Alexa perlahan melonggarkan pelukannya, dirinya ingin kembali keruanganya.


"Mau kemana?" Tanya Ren yang melihat Alexa berdiri, mengambil kotak makannya.


"Sudah waktunya kembali bekerja." Alexa tersenyum tipis. Lalu berjalan keluar dari ruangan Ren tanpa menoleh lagi.


Ren mengusap wajahnya kasar. Dirinya benar-benar sedang pusing tapi Alexa malah membuatnya semakin frustrasi.


Alexa masuk keruanganya yang masih sepi, karena masih ada waktu untuk jam istirahat. Dirinya hanya kesal karena Ren melarangnya, apalagi suaminya mulai posesif padanya.


"Apa salahnya tinggal sendiri, lagian aku juga tidak melakukan apa pun." Keluhnya dengan wajah kesal.


Alexa tidak menyadari jika sifatnya yang dimanjakan dan selalu di turuti oleh Ren membuatnya merasa selalu ingin dimengerti, padahal Ren berusaha untuk membuat Alexa tidak stres dan memikirkan hal yang tidak penting. Tapi Alexa berpikiran lain, dan sekarang mereka saling merasa tidak dimengerti.


Ren berkutat dengan pekerjaanya, dirinya harus menyelesaikan urusan yang penting, karena sore nanti dirinya harus terbang untuk pergi ke Bali. Dimana kantor cabang yang sedang menangani proyek tersandung masalah dan Ren sendiri yang harus kesana.


Sejak tadi Alexa hanya diam, membuat Mita dan Gesya saling tatap untuk mencari tahu. Tidak biasanya Alexa diam dengan wajah kesal.


"Lexa, kamu ada masalah." Tanya Mita yang lebih dulu mendekati Alexa.


"Tidak." Jawabnya pendek.

__ADS_1


Tapi Mita melihat mata Alexa yang sudah berkaca-kaca. "Cerita jika ada masalah." Mita meraih bahu Alexa dan mengelusnya. Melihat itu Gesya ikut mendekati.


Air mata Alexa yang susah payah Ia tahan akhirnya jatuh juga, Wanita hamil itu menangis.


"Jangan di pendam sendiri, tidak baik ibu hamil menyimpan masalah dan stress." Ucap Mita lagi yang masih mengusap bahu Alexa, wanita itu menyandarkan kepalanya di perut Mita yabg berdiri.


Alexa menceritakan apa yang tadi siang dia rasakan dan bicarakan pada suaminya, dirinya merasa jika Ren sudah tak lagi mau mengerti dia.


Mita dan Gesya mengehela napas. "Kamu terlalu dimanjakan suamimu, jadi membuatmu tidak bisa membedakan mana peduli dan mengekang." Ucap Mita dengan tersenyum tipis.


"Tidak ada suami yang tega meninggalkan Istrinya dirumah sindiri dalam keadaan hamil, apalagi ditinggal untuk beberapa waktu. Suamimu sudah benar melakukan hal itu, dan sekarang hanya tinggal kamu yang mau mendengarkan atau tidak."


Alexa mulai reda dengan tangisnya, Ia mendengarkan apa yang dikatakan Mita, karena Mita sudah mengalami hal seperti ini tentunya.


"Temui lah suamimu, sebelum kamu menyesal membuatnya pergi dengan memikirkan masalah sepele karena keegoisanmu." Mita mengusap kepala Alexa, yang sudah dia anggap adik sendiri.


Alexa mengusap air matanya, dia tersenyum. "Terima kasih mbak."


Sebentar lagi jam kantor habis, dana Alexa berniat keruangan Ren menunggu jam pulang sekalian. Karena dia merasa sudah egois dan ingin meminta maaf.


Dan waktu sudah menunjukan pukul empat, Alexa beranjak dari kursinya lebih, dulu karena ingin menghampiri suaminya, perasaanya sudah lebih baik, dia akan menuruti perkataan Ren yang menyuruhnya agar tinggal di rumah papa Bimo. Dan Alexa pikir dengan begitu suaminya tidak akan marah dan kesal seperti tadi. Meskipun tidak berkata tapi Alexa tahu dari tatapan mata suaminya.


Alexa keluar dari lift, dengan langkah santai, dirinya menuju kembali ke pintu besar yang tadi dia tinggalkan dengan perasaan kesal.


"Bu Alexa, belum pulang?" Tanya Angel yang berdiri, dan menyapa Alexa.


Alexa yang ingin mendorong pintu suaminya berhenti.


"Belum, aku ingin menemui suamiku." Ucap Alexa dengan senyum.


Angel merasa ada yang salah. "Bukankah pak Ren sudah berangkat ke bandara satu jam yang lalu, karena harus ke Bali untuk urusan pekerjaan."


Deg


Senyum Alexa seketika memudar, berubah menjadi senyum kecewa.

__ADS_1


__ADS_2