Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

"Sayang, aku mau ke salon sama Mama." Ucap Sena ketika melihat Aaron yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk putih melilit di pinggangnya.


Sena yang sedang duduk di meja rias, berdiri mendekati sang suami.


"Boleh ya." Ucap Sena lagi dengan senyum manisnya, karena belum mendapat persetujuan suami.


"Jadi kamu tidak ikut ke kantor."Jawab Aaron dengan menatap wajah sang istri yang masih tersenyum manis.


"Setelah dari salon, aku akan ke kantor hm." Sena meraih handuk kecil yang Aaron pegang, dan membantu mengeringkan rambutnya.


Aaron duduk di sisi ranjang dengan Sena yang berdiri di depan Aaron di antara kedua kaki Aaron.


Aaron berpikir sejenak, akhir-akhir ini Sena memang sering melakukan hal jarang dia lakukan, dan jika permintaanya tidak di turuti otomatis dirinya yang akan kesulitan jika Sena merajuk.


"Bagaimana boleh." Ucapan Sena membuat Aaron tersenyum.


"Tentu saja boleh." Ucapnya dengan mengetatkan tangannya di pinggang Sena, dan membuat perut Sena menempel pada wajah Aaron.


"Apapun yang membuat kamu senang akan aku kabulkan, asal kamu tidak menangis karena aku." Ucap Aaron mencium perut Sena, yang masih menggunakan baju tidur berbahan satin.

__ADS_1


Deg


Sena terenyuh, mendapat perlakuan manis Aaron. Suaminya belum tahu jika dirinya tengah mengandung, tapi perlakuan Aaron mampu membuatnya terharu.


"Terima kasih." Sena sedikit menunduk ketika Aaron mendongak, dan Sena meraih bibir suaminya untuk di kecup. "Pakailah pakaian mu, nanti kedinginan." Ucap Sena yang ingin mengambil pakaian yang sudah Ia siapkan. Tapi tangan Aaron menahannya dan malah menarik tubuhnya membuat Sena duduk di atas pangkuan Aaron.


"Sayang apa kamu merasakan sesuatu." Ucap Aaron dengan wajah menatap intens wajah Sena, Tangannya mengelus lengan sampai bahu Sena yang terbuka, hanya ada tali kecil di kedua pundaknya.


"Engh," Sena yang mendapat pertanyaan seperti itu menjadi bingung.


Dirinya merasa tidak akan aman pagi ini.


"Tidak apa, aku tidak datang pun tidak ada yang akan memarahi." Ucapnya dengan napas yang sudah memburu, Sena yang merasakan napas hangat Aaron di wajahnya memejamkan mata.


Aaron mendekati wajah Sena ketika memejamkan mata, dan meraih bibir yang sudah menjadi candunya.


"Emph.." Tangan Sena mengalung di leher Aaron, ketika merasa tubuhnya semakin menginginkan lebih.


Tangan Aaron terus bergerak, mengelus punggung dan bahu Sena, lalu menurunkan kedua tali kecil dari bahu Sena, hingga gaun tidur tipis yang di gunakan Sena jatuh hingga perut, menampakkan gunung kembar Sena yang bertambah ukuranya membuat mata Aaron kian berkabut gairah.

__ADS_1


"Ah.." Sena meremas lembut rambut Aaron, ketika lidah dan bibir Aaron memainkan kedua nippel nya bergantian.


"Ar.. pelan-pelan." Ucap Sena dengan suara tertahan ketika merasakan rasa geli bercampur linu ketika tangan Aaron meremat dua buah dadanya kuat.


"Kenapa ukuran mereka semakin besar, dan_"


"Auws..Ar." Sena mendesahh bercampur menjerit, ketika Aaron dengan ganas melahap dan meremasnya kuat.


"Mereka semakin membautaku gila sayang," Ucap Aaron dengan seringai lebar di bibirnya.


"Ar, aku ingin." Ucap Sena dengan nada sensual, dirinya sudah tak kuasa menahan gejolak dalam dirinya yang semakin menginginkan lebih.


"As you wish honey." Aaron mengecup bibir Sena, melumatt nya dalam.


"Kau ingin memimpin?" Tanya Aaron dengan napas yang sudah memburu.


Sena mengangguk dengan wajah merona, membaut Aaron gemas. "Baiklah, berikan servis terbaikmu pagi ini sayang."


Dengan cepat Aaron melepas ikatan handuk yang melilit di pinggangnya.

__ADS_1


Dan kini keduanya melakukan penyatuan dengan penuh gairah.


__ADS_2