Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part46


__ADS_3

Bugh


"Eh..maaf mbak.." Alena membantu mengambil tas yang jatuh karena dia tabrak.


Wanita itu hanya melirik Alena sinis.


Alena kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan wanita tadi.


Mega yang memang tahu wajah Alena dari ponsel Diki, mengenali Alena. "Ck. ternyata tunangannya anak igusan." Mega melenggang pergi.


"Jangan-jangan dia bersama Diki?" Mega bergumam sendiri.


Mega datang kerestoran itu sendiri, karena sejak pagi nomor ponsel Diki susah di hubungi. Dan Mega mengingat kata Diki yang ingin mengajak Alena.


Melihat kearah sudut restoran Mega sama sekali tak melihat keberadaan Diki. "Lalu dimana mereka duduk." Mega masih menyusuri ruangan yang nampak ramai dengan pengunjung. Tanpa sadar dirinya menghalangi seseorang yang ingin lewat.


"Maaf nona anda menghalangi jalan saya." Ucap seseorang dari arah belakang.


Mega menoleh mendapati pria muda yang lumayan tampan.


Pria itu nampak menelisik wajah Mega, sepertinya tidak asing. Dan dirinya baru sadar jika kemarin baru melihat adegan syur wanita di depannya melalui laptop. Yuda nampak tak percaya jika selingkuhan tunangannya Alena berada disini.


"Eh..sorry." Mega tersenyum manis, mendapati pria tampan didepannya.


"It's oke." Yuda membalas senyum Mega.


Yuda kembali berjalan dan duduk dimeja bersama Gina dan Alisa, dirinya tadi yang baru saja dari toilet.


"Ck. ternyata sudah punya anak, istri." Mega mengamati Yuda.

__ADS_1


.


.


"Maaf menunggu lama." Alena baru saja datang dan duduk, yang sudah melihat Bimo memotong stik.


"Tidak apa." Bimo mengulurkan piring berisi stik yang sudah dirinya potong kecil untuk Alena.


"Eh..kenapa dikasih." Alena menatap Bimo.


"Untuk kamu." Ucapnya yang kembali memotong stik miliknya sendiri.


Alena speechless dengan perlakuan sederhana Bimo. Karena memang baru kali ini dirinya mendapat perlakuan yang menurutnya manis.


Keduanya makan dalam diam, Alena sesekali melirik Bimo yang tenang dalam makannya.


"Makan Yank, jangan liatin aku terus."


Tangan Alena berhenti ketika ingin menyuapkan potongan daging stik kedalam mulutnya. 'Jadi dia tahu.'


Bimo menatap Alena, dan buru-buru gadis itu kembali memakan stiknya.


"Kamu kalau makan kebiasaan belepotan yank." Bimo mengusap sudut bibir Alena menggunakan ibu jarinya lalu menyesap bekas sisa noda yang tertinggal di ibu jarinya sendiri.


Alena semakin dibuat berdebar melihat aksi Bimo yang begitu membuat hatinya terenyuh.


"Apa perlu aku suapi?" Tanya Bimo yang sudah mengulurkan garpu nya yang berisi potongan daging.


Alena buru-buru menggeleng, jangan sampai perbuatan Bimo semakin membuat dirinya merasa di lambung kan lebih tinggi. Begini saja sudah membuat hatinya ketat ketir.

__ADS_1


Bimo hanya terkekeh melihat tingkah Alena yang lucu.


.


.


.


"Kalian sudah selesai." Bimo lebih dulu selesai dan menghampiri Yuda setelah bertanya dimana posisi mereka lewat pesan.


"Sudah kak, makanan disini enak-enak." Alisa yang paling semangat untuk menjawab.


Bimo mengusap kepala Alisa. "Alis suka?" Tanyanya yang langsung dapat anggukan cepat dari Alisa. Mereka tertawa melihat kelucuan Alisa yang sedang bahagia.


"Oke, lain kali ajak kak Yuda makan disini, pasti kak Yuda senang." Ucap Bimo yang sama sekali tak melirik Yuda.


"Busett gue di jadiin umpan." Yuda menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sedangkan Alena dan Gina hanya menyimak dan tersenyum.


"Kita pulang, sudah mau sore." Ajak Bimo yang langsung di angguki oleh mereka semua.


"Sayang kamu tunggu di mobil, aku bayar dulu." Ucap Bimo menyuruh Alena. Dan ucapnya barusan sukses membuat Alena malu pada Gina dan Yuda, apalagi melihat reaksi Gina yang syok.


"Duh, panas gue bos..udah ayang-ayangan." Yuda mengusap dadanya.


Alena hanya mengangguk dengan menunduk, dirinya terlalu malu dan belum biasa mendapat perhatian lebih dari Bimo.


Gina sampai bengong tak percaya mendengar ucapan bosnya yang begitu lembut dan hangat.

__ADS_1


'Sisakan satu pria seperti pak bos tuhan.' Doa Gina dalam hati.


__ADS_2