
Alena nampak biasa saja mendengar obrolan mereka, toh dirinya juga tidak tahu apa-apa.
"Permisi." Setelah menaruh minum dan cemilan Alena keluar begitu saja, tidak melirik Bimo.
Dan yang merasa tidak dilirik pun menggeram dalam hati. Niat hati ingin melihat reaksi Alena tapi malah dirinya yang kesal sendiri karena sikap gadis itu biasa saja.
"Yasuda Mama pesan tempat restoran yang enak dulu." Leina mengambil ponselnya untuk memesan tempat mereka makan siang.
"Apa kam_"
"Maaf, saya keluar sebentar." Ucap Bimo langsung melenggang pergi.
Mulut Siera kembali tertutup rapat melihat pria itu mengabaikan dirinya yang ingin berkata. 'Tantangan yang menarik' Siera tersenyum tipis, kali ini dirinya akan mendapat tantangan baru.
Leina hanya melihat putranya keluar tanpa bertanya, karena masih sibuk mereservasi restoran.
.
.
"Halo..?"
"..."
"Tidak, Makan dimana?"
"..."
__ADS_1
"Di restoran xx..Baik lah Lena akan kesana."
"...."
"Bye Mas."
"Kamu tahu, jika sedang bekerja dilarang bermain ponsel, apalagi bertelepon."
Alena segera membalikkan badannya ketika mendengar suara yang sangat familiar.
"Bapak." Alena menunduk, dengan tangan meremat ponsel.
Bimo berdiri bersandar di pintu dengan kedua tangan bersedakep, matanya intens menatap Alena.
Tak disangka ketika dirinya sengaja ingin melihat Alena karena malas di ruangan nya malah mendapati gadis yang dia cari sedang bertelponan dengan kekasihnya.
Alena mengusap dadanya yang terus berdebar. "Cuma gitu aja." Ucapnya tak percaya.
Padahal Bimo bisa saja menyuruhnya mengambilkan yang dia butuhkan, tidak perlu datang ke pantry dan memergokinya sedang mengangkat telpon.
.
.
"Kenapa kita malah kesini sih Bim, Mamakan sudah memesan tempat yang enak dan mahal." Leina terus saja menggerutu sejak turun dari mobil.
Sedangkan Siera nampak diam saja mengamati Bimo yang sepertinya sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
Mata Bimo berkeliling mencari seseorang yang sudah janjian untuk makan di restoran xx, dan disinilah dirinya berada mengikuti Alena yang sedang makan siang dengan tunangannya.
Matanya menangkap dua orang yang baru saja duduk, dan langkanya menuju meja yang masih kosong berjarak sekitar tiga meja, agar dirinya bisa mendengar obrolan mereka.
"Loh..loh..kok malah ditinggalin sih." Leina yang kesal akhirnya menarik tangan Siera untuk mengikuti putranya.
Bimo nampak duduk dengan tenang meskipun ekor matanya selalu melirik ke arah dua insan yang asik menikmati makan siangnya.
Bahkan sejak tadi Leina selalu mengoceh tidak Ia dengarkan, dan lebih memilih memasang telinga untuk mendengar obrolan Alena.
Siera hanya membalas ucapan Leina seadanya, dirinya juga penasaran apa yang membuat Bimo datang ke restoran kelas menengah seperti ini, jika dipikir tidak cocok untuk dirinya yang notabennya seorang CEO kaya raya.
"Kamu kalau makan pelan dong Len, lihat jadi belepotan kan." Diki mengusap sudut bibir Alena yang terkena saus, stik yang Ia makan.
"Makasih Mas." Alena tersenyum dan mengambil tisu yang berada di tangan Diki.
Semua hal yang mereka lakukan tak luput dari mata tajam Bimo yang bisa dengan jelas melihat apa yang semua mereka lakukan. 'Dasar pria modus' Umpatnya dalam hati.
Merasa dadanya yang panas membuatnya seperti pacar yang sedang cemburu karena melihat kekasihnya dengan pria lain.
"Bim makan dong, sejak tadi kamu hanya diam." Siera mencoba membuka suara agar terlihat akrab.
Wajah nya datar tanpa menjawab ucapan Siera, dirinya makan dengan hati yang penuh kedongkolan.
'Awas kamu Ale.'
__ADS_1