
"Mas, pakai baju dulu." Alexa memalingkan wajah ketika Ren baru saja keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, rambutnya yang basah membuat air yang menetes mengalir di tubuh kekar pria itu.
Ren terseyum, dua menyukai ekspresi Istrinya yang seperti itu, Ren suka menggoda.
"Kenapa sayang?" Ren berdiri dibelakang Alexa yang memunggunginya tanpa jarak.
Alexa menahan napas dalam, ini baru satu minggu dirinya melahirkan dan suaminya itu suka sekali menggodanya.
"Malu di lihat kedua putrimu."
Alexa meringis, jawaban bodoh apa yang dia katakan.
"Baby B, atau Mamanya." Ren terseyum simpul, sambil mengecup bahu Alexa yang terbuka, karena Alexa memakai dress rumahan bertali kecil dan belahan dada rendah, agar mempermudahkan untuk B menyusu.
"Mass.." Suara Alexa terdengar manja ditelinga Ren.
Ren batu saja pulang dari kantor jam delapan malam, kedua bayinya baru saja terlelap ketika Ren sampai rumah.
"Sstt, kecilkan suara mu, kalau tidak B akan bangun." Bisik Ren lagi di telinga Alexa.
Plak
Alexa menggeplak tangan Ren yang melingkar di perutnya.
"Minggir Mas, aku memompa ASI untuk B." Ucap Alexa yang mencoba melepaskan diri dari rangkulan suaminya yang mesum.
"Em, kalau begitu aku bantu." Ren langsung melepaskan rangkulannya dan mengajak Alexa untuk duduk di atas sofa, dipangkuannya.
"Eh, mau apa?" Alexa terkejut ketika tubuhnya langsung duduk dipangkuan suaminya.
"Membantumu memompa ASI." Ucap Ren, tanganya mengambil alat yang sudah Alexa sediakan di atas meja didepan mereka.
"Tidak usah, aku saja." Tangan Alexa ingin merebutnya, tapi Ren menahan.
"Semenjak punya B, kau begitu pelit sayang."
Ucapan Ren seketika membuat mata Alexa melotot dengan wajah tak percaya.
"Kau iri pada anakmu?" Tanya Alexa, dan semakin tak percaya melihat Ren mengaguk dengan wajah masam.
"Ren kau benar-benar_"
"Meskipun begitu aku tetap mengalah."
Seketika dada telanjang Ren mendapat serangan dari Alexa.
__ADS_1
"Auuwwss, sayang sakit." Ren mengusap dadanya yang terasa panas akibat tangan Alexa yang mencubitnya.
"Itu pelajaran untuk Papa yang tidak mau mengalah." Kesal Alexa dengan mengerucutkan bibirnya.
"Aku mengalah sayang, tapi aku tidak rela."
Lagi-lagi ucapan Ren semakin membuat Alexa gemas bercampur kesal.
"Sudahlah jangan berdebat, sini aku bantu." Ren menuturkan tali kecil yang bertengger di bahu mulus istrinya.
"Mas.." Tangan Alexa menahanya. "Nanti kamu tersiksa sendiri." Cicit Alexa dengan wajah merona.
Ren terseyum simpul, "Ada bibir dan tangan kamu yang membebaskannya." Jawab Ren santai, membuat Alexa cemberut
"Hei.. kenapa cemberut begitu?" Ren menatap wajah istrinya yang cemberut. "Apa kamu merindukannya karena tidak bisa merasakannya."
Pluk
Alexa menepuk bibir suaminya pelan. "Jangan bicara yang tidak-tidak." Kesalnya, karena Ren selalu bisa membuatnya merasa malu dengan kata-katanya yang mesum.
Ren terkekeh, pria itu kembali pada pekerjaanya yang sempat tertunda.
Ren tidak perduli dengan keadaannya yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi aset di tubuhnya, pria itu hanya ingin bermanja-manja dengan dengan sang Istri.
"Apa ini tidak sakit?" Tanya Ren yang melihat bagaimana pucuk kecil yang biasanya di sesap dan kulum kini bisa mengeluarkan ASI dan pucuk itu nampak membesar ketika tangannya menekan alat pompa, sedangkan Alexa membatu menopang kelembutannya.
Ren tertawa. "Dia lucu sayang, mengemaskan." Pria itu malah gemas sendiri melihat pucuk kelembutan Alexa yang membuat bibirnya gatal.
"Mas, sudah biar aku saja." Ucap Alexa yang sudah merasakan tidak nyaman lagi duduk diatas pangkuan suaminya.
"Sebentar lagi penuh sayang, lagian batu sebelah." Suara Ren sudah terdengar berbeda, bahkan jakun Ren menelan ludahnya kasar beberapa kali.
"Tapi Mas.."
"Ssstt, diamlah tidak apa-apa." Ucap Ren yang masih fokus memebantu Istrinya memompa ASI.
Alexan hanya pasrah, meskipun dia sedikit risih dengan bibir Ren yang juga tidak bisa diam, bahkan tangan kiri pria itu ikut aktif.
"Mas, jangan memancing." Peringat Alexa, namun tidak membuat Ren diam.
Alexa kesal bercampur menikmati apa yang Ren lalukan meskipun hanya sebatas bersentuhan tanpa bisa melakukan hal lebih.
"Ck, kenapa lama sekali." Ren tiba-tiba menjatuhkan kepalanya dibahu polos Alexa, dengan tangan yang masih memegang alat pompa.
Alexa tertawa, suaminya membuatnya kesal namun juga bisa membuatnya tertawa.
__ADS_1
"Tidak lama jika kamu tidak meningginya, karena semakin di tunggu akan semakin lama." Kata Alexa dengan mengusap surai hitam kecoklatan milik suaminya.
"Satu Minggu saja lama sayang apalagi empat puluh hari." Tutur Ren lemas, menatap wajah Alexa dengan tatapan memelas.
Jemari Alexa mengusap wajah suaminya, "Begitulah kodrat sebagai wanita sayang, tidak mudah perjuangan seorang wanita untuk menjadi ibu, dan seorang suami hanya menunggu empat puluh hari saja mengeluh."
Ren terseyum, Alexa benar dirinya merasa egois dengan ucapannya tadi.
"Maaf sayang, aku tidak bermaksud begitu, hanya saja mungkin aku belum terbiasa."
Alexa terseyum. "Ya, dan sekarang ayo pakai baju, nanti kamu masuk angin." Alexa melepas alat yang masih menempel di kelembutannya, dan menuangkannya pada tempat yang sudah disediakan untuk ditaruh di lemari pendingin.
"Em, apa aku boleh bermain dengan mereka sebentar." Ucap Ren menatap dua gundukan yang sudah lama tidak memainkan, padahal baru satu minggu tapi Ren merasa lama.
Alexa mengangguk, diirinya tidak tega melihat wajah Ren yang memelas.
.
.
Dikamar yang berbeda, Aaron yang sejak tadi di diamkan oleh Sena menjadi pusing sendiri.
"Sayang, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu bicara?" Aaron duduk bersimpuh didepan Sena yang duduk di sofa sambil menonton TV, kebetulan A sudah terlelap, dan kedua orang tuanya ternayata terlibat percekcokan.
Sena masih diam, Ia tidak mau menatap wajah suaminya.
"Sen, tadi hanya kebetulan dan tidak disengaja, kamu tahu sendiri kan tidak ada wanita yang menarik dimataku kecuali ibu dari A." Ucap Aaron merayu Sena.
Sena mencebik. "Gombal." Ucapnya ketus.
"Ck, sejak kapan aku jualan gombal."
Sena memukul pundak Aaron, membuat pria yang berjongkok itu terhuyung ke belakang.
"Kamu nyebelin Ar, selalu nyebelin." Kesal Sena sambil memukul dada suaminya.
"Aku akan nyebelin jika kamu tidak mau bicara padaku." Aaron menangkap tangan Sena yang memukul dadanya, meskipun tidak berasa sama sekali.
"Kamu pria nyebelin, dari dulu sampai sekarang." Ucap Sena dengan wajah ditekuk.
"Ya, dan aku dari dulu sampai sekarang tetap mencintaimu." Aaron terseyum, wanitanya tidak akan bisa lama-lama mendiamkannya, karena Aaron memiliki cara untuk membuat Sena luluh.
"Percayalah, tidak ada yang lain, jika ada kamu disampingku." Aaron memeluk tubuh istrinya.
Siang tadi seperti biasa Sena mengantarkan makan siang Aaron, tanpa sengaja Sena melihat suaminya yang memeluk pinggang wanita lain, ketika wanita itu akan terjatuh, entah disengaja atau tidak yang jelas Sena cemburu dan kesal.
__ADS_1
"Mumpung A, sudah tidur bagaimana jika kita buatkan A adik."
"Aarr, kau_ Emph"