
Alena pagi ini kembali bekerja, setelah cuti lama untuk merawat Alisa, dan hari ini dirinya akan memberi tahu Gina jika esok dirinya akan menikah.
Sebenarnya Diki sudah melarang Alena untuk bekerja lagi di perusahaan rivalnya itu, namun karena Alena membujuk untuk yang terakhir kali dan ingin berpamitan kepada sahabatnya membuat Diki mau tidak mau memberi ijin.
"Kenapa dipercepat sih Len, kan aku jadi gak punya teman." Ucap Gina memeluk Alena.
"Nanti juga ada gantinya Gin, kamu tenang saja." Ucap Alena sambil mengelus bahu Gina.
Alena sebenernya masih ingin bekerja, tapi karena dirinya esok akan menikah dan Alena harus menuruti ucapan calon suaminya itu.
Calon suami?
Bahkan Alena pun tak merasakan apa-apa ketika akan menikah, biasanya calon pengantin akan merasa gugup atau apa, tapi dirinya biasa saja tidak ada yang membuatnya senang.
Meskipun begitu Alena mengharapkan sesuatu terjadi di pernikahan mereka besok.
"Aku cuma mau kasih kamu kabar, jangan lupa Dateng ya." Ucap Alena tersenyum, senyum tanpa bahagia.
"Sabar ya, pasti ada jalan jika kalian tidak berjodoh." Ucap Gina yang memang tahu, karena Gina sekarang adalah tempat curhat Alena.
"Hem..doa-in yang terbaik buat aku." Ucap Alena.
"Pasti Len." Gina memeluk sahabat nya lagi.
__ADS_1
"Pak bos ada di ruangan nya, apa kamu tidak ingin ketemu." Tanya Gina.
"Hm..tidak perlu Gin, sudah cukup aku buat dia sedih dan kecewa." Ucap Alena yang teringat ucapan mereka tadi malam.
"Aku mohon tunggu aku." Ucap Bimo
"Jangan habiskan waktumu hanya untuk aku, diluar sana masih banyak wanita yang menunggumu." ucap Alena menatap sendu wajah pria yang dicintainya.
Bimo menggeleng mendengar ucapan Alena. "Tidak, tidak akan ada yang bisa gantiin rasa cinta aku sama kamu..aku cinta kamu Alena, I love you." Ucap Bimo mengecup bibir Alena lembut. "I love you so much"
Alena tersenyum dengan mata berkaca-kaca "I love you more.." Alena mendekatkan wajahnya mencium bibir Bimo untuk pertama kali.
Alena tersenyum sendiri mengingat dirinya yang sudah mengungkapkan perasaan nya sendiri betapa dia juga mencintai pria itu.
"Siapa?" tanya Alena.
"Pak bos minta di bikinin kopi, padahal ini sudah gelas ke lima yang diminta baru empat jam kerja." Ucap Gina yang heran dengan bosnya itu.
Alena menggeleng, biasanya Bimo hanya butuh satu cangkir kopi setengah hari bekerja, dan ini baru empat jam sudah gelas kelima.
"Biar aku saja." Alena menggeser tubuh Gina kesamping, dirinya membuatkan minuman untuk Bimo sebelum pergi, namun Alena tidak membuatkan kopi melainkan teh lemon madu hangat untuk pria tampan itu.
"Lah..kan mintanya kopi Len?" Tanya Gina yang melihat Alena membawa segelas teh lemon.
__ADS_1
"Banyak minum kopi tidak baik, biar aku saja yang antar." Ucap Alena sambil berjalan menuju ruangan Bimo.
Alena menyapa sekertaris Bimo didepan meja kerja nya.
Dan masuk ketika mendengar sahutan dari dalam.
Alena menaruh segelas minuman yang dirinya buat, tanpa bicara.
Bimo melihat gelas yang ditaruh di mejanya berupa minuman yang bukan dia minta, membuatnya kesal.
"Apa kamu tuli, membawakan minuman lain bukan yang saya minta." Ucapnya di gin tanpa melihat siapa yang masih berdiri didepan mejanya.
"Minum kopi terlalu banyak, tidak baik untuk kesehatan." Ucap Alena. "Apa lagi kamu sudah menghabiskan empat gelas."
Bimo mendongak mendengar suara yang sangat Ia kenali.
"Sayang, kamu disini." Ucap Bimo begitu tersenyum melihat Alena.
"Jangan biasakan memanggil aku sayang, karena besok aku sudah sayang orang lain." Ucap Alena tersenyum miris.
.
.
__ADS_1
Semangat Yoo kasih author semangatš¤..menuju halal mbak Ale..š„°