
"Apa..!!" Sena yang terkejut tak sadar sudah berteriak di depan Bimo.
Sena kini sudah berada di rumah papanya, di Jakarta. Dan Sena tidak memberi tahu Aaron jika dirinya pulang ke Jakarta, seperti yang Bimo suruh, Sena harus pulang karena ada yang mau disampaikan.
"Kak, ish..beringsik." Ren yang duduk di samping Sena mengusap telinganya.
"Pah, papa gak serius kan..?" Tanya Sena dengan wajah yang masih syok.
"Papa serius Sena, papa sudah jodohkan kamu dengan pria yang papa sudah tahu asal usul pria itu, papa yakin kamu akan bahagia jika menikah dengannya." Bimo menatap putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Pah, ini bukan jaman situ Nurbaya lagi, kenapa harus Sena? kenapa tidak Ren saja yang di jodohkan." Ucap Sena melirik Ren sinis, karena sejak tadi Ren menertawakan nya.
"Ren, laki-laki. Jadi papa rasa Ren bisa memilih wanita yang tepat untuknya."
Ren semakin besar kepala dengan tersenyum bahagia.
"Nasib jadi anak cewek." Ledek Ren dengan gaya yang membuat Sena bertambah kesal.
"Dan kami sudah siapkan pernikahan kalian satu bulan kedepan."
"What..!!" Lagi-lagi Sena menjadi toa dadakan.
"Pah, Sena gak gak mau, Sena gak kenal pria itu siapa?" Sena merengek, dirinya tidak mau di jodohkan seperti ini, apalagi hatinya sudah memilih pria lain.
"Tidak bisa sayang, dia pria baik dan dari keluarga baik-baik, papa rasa kalian cocok. Dan papa tidak akan merubah keputusan papa. Dan papa harap kamu tidak mengecewakan papa." Bimo berdiri dan pergi meninggalkan kedua anaknya.
"Pah.." Sena memanggil tapi tak di hiraukan.
"Terima saja kak, pilihan papa tidak akan salah. Papa ingin yang terbaik untuk kakak, karena sudah menjaga kita dengan baik. Maka papa juga menginginkan hal yang terbaik juga untuk masa depan kakak."
Ren merangkul bahu Sena yang terlihat syok dan terpukul, dirinya juga tidak tahu kenapa papanya tiba-tiba menjodohkan kakaknya.
Sena hanya diam, hatinya menjadi gundah, bagaimana jika dirinya menolak perjodohan itu, dan jujur jika dirinya sudah mencintai pria lain. Tapi hal itu tidak mungkin pasti papanya akan terluka dan sedih, sebagai anak yang dibesarkan oleh seorang ayah. Sena mengerti perasaan papanya, dan dirinya tidak mungkin bisa membuat papa nya kecewa.
.
.
.
Aaron melihat ruangan Sena terus menerus sudah pukul sembilan tapi gadis itu belum juga datang ke pabrik.
"Kenapa?" Tanya Dadang yang melihat Aaron celingak-celinguk.
"Cewek gue gak masuk kerja kali ya." Jawabnya dengan arah mata masih melirik ruangan Sena yang kosong.
"Yaelah, gue kira kebelet brot-brot, taunya kebelet kangen." Dadang melirik Aaron snewen.
__ADS_1
Aaron tidak menanggapi perkataan Dadang, melainkan melihat jam tangannya waktu istirahat masih lama.
Tidak biasanya Sena tidak membalas pesan nya walaupun terkadang hanya satu huruf, tapi bagi Arron itu sudah cukup untuk membuatnya tidak khawatir.
Apalagi kejadian tempo lalu masih membuat Aaron waspada kalau-kalau kakeknya akan menyakiti Sena lagi.
Aaron mengendarai motor besarnya dengan kecepatan tinggi, jalanan yang lumayan ramai tak membuatnya kesulitan.
Jika yang lain menggunakan waktu istirahat untuk makan siang, maka Aaron menggunakan waktu istirahatnya untuk menyambangi apartemen Sena.
Tak lama motor besarnya berhenti di parkiran basement, Aaron masih melihat motor Sena di sana.
"Kenapa tidak masuk kerja." Gumamnya sambil berjalan untuk masuk ke dalam lift, jika motor Sena masih ada kemungkinan gadis itu memang tidak masuk.
Ting
Lift terbuka di lantai lima, Aaron berjalan dengan sedikit lari menuju pintu nomor 59 milik Sena.
Menekan angka password Aaron bisa membuka pintu apartemen Sena.
"Sen..Sena..!!" Panggilnya ketika memasuki apartemen Sena, yang terlihat kosong.
"Sen.." Aaron menyusuri tempat dan kamar Sena, tapi tidak ada wujud Sena di sana.
"Kemana sih." Aaron kembali mengeluarkan ponselnya, dua kali panggilan masih belum di angkatan.
Drt...Drt...Drt...
Sena yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat ponsel nya bergetar, dan melihat tertera nama 'Pria Gila'
"Hal_"
"Kamu dimana? gak masuk kerja? aku cari ke apartemen gak ada, padahal motor kamu ada di parkiran..! kamu dimana Sena..!! jangan buat aku khawatir." Suara Aaron terdengar begitu panik, bahkan napasnya tak beraturan.
"Aku_"
"Pulang Sena.. paling tidak kamu kasih tau aku kamu dimana, jangan buat aku gila, hanya karena tidak tahu keberadaan kamu." Aaron lagi-lagi tidak memberi kesempatan Sena untuk bicara.
Tut...Tut..Tut..
"Halo..halo..sen, Sena..?" Panggil Aaron.
"Ah..shial..di matiin." Umpatnya yang melihat panggilan terputus sepihak.
Drt...Drt..Drt..
Ponselnya kembali berdering, membuat Sena memutar kedua matanya malas.
__ADS_1
"Kenapa dimatikan..!!" Sena menjauhkan ponselnya dari telinga, ketika Aaron berteriak.
"Sudah puas ngomelnya." Ucap Sena tenang.
"Kamu belum jawab pertanyaanku?"
Sena menghela napas kasar. "Diam dan dengarkan." Sena berkata ketus dan tegas.
Di sebrang sana Aaron hanya mengangguk meskipun Sena tak melihat.
"Aku sedang ada di Jakarta, dan_"
"Kenapa tidak bilang aku kan bisa_'"
"Stop..!!!" Sena berteriak, membuat Aaron menutup bibirnya rapat-rapat disana.
Sena yang tidak mendengar suara Aaron lagi kembali bicara. "Kamu bukan siapa-siapa aku, dan aku juga tidak perlu meminta ijin sama kamu kemana pun aku pergi. Dan satu lagi." Sena menarik napasnya dalam.
"Jangan pernah datang, dan masuk ke apartemen tanpa ijin dariku."
"Tapi sen ke_"
Tut...tut..Tut..
"Halo..halo...Sena..!!" Aaron yang kesal membanting ponselnya ke atas sofa.
"Apa yang kamu bicarakan, kamu masih tidak bisa menerima ku setelah apa yang sudah aku lakukan untuk kamu selama ini." Aaron menatap sendu foto Sena yang berada di atas meja.
Dirinya yang selalu menunjukan rasa cinta dan kasih sayangnya tidak membuat Sena luluh dan menerima dirinya, padahal Aaron yakin jika Sena sudah ada namanya di hatinya.
Dan perubahan Sena mulai hari ini ketika gadis itu berada di Jakarta. Padahal kemarin-kemarin Aaron merasakan jika Sena mulai menerima kehadirannya, dan wanita itu terus tersenyum padanya.
Aaron keluar dari apartemen Sena, dirinya kembali menunggangi kuda besi nya menuju tempat nya tinggal.
Tidak peduli jika dirinya akan di pecat, yang jelas dirinya harus menyusul Sena untuk melihat apa yang terjadi pada gadis itu.
Karena Aaron menetap dan ingin kembali bekerja di pabrik hanya untuk berdekatan dengan Sena, dimanapun gadis itu pergi dirinya harus tau.
Sena menatap layar ponselnya yang sudah terputus, kenapa dia melakukan ini. Karena Sena tidak ingin membuat Aaron mengharap lebih dari hubungannya.
Oleh karena itu Sena melakukan hal yang mungkin akan melukai hati pria itu. Lebih baik kehilangan pria yang baru dirinya kenal, dari pada harus mengecewakan seorang papa yang sudah merawatnya dari kecil dan mencintainya sepenuh hati.
Sedih, tentu saja. Baru saja dirinya merasakan jatuh cinta, tapi di patahkan dengan kenyataan yang ada di depan mata.
Perjodohan memang bukan hal yang buruk, tapi bagi Sena perjodohan hanya di lakukan untuk mengikat dua keluarga yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Apakah dirinya termasuk di antara salah satunya. Dan rasanya itu tidak mungkin jika papanya menerima perjodohan hanya untuk keuntungan bisnis semata.
"Maaf Ar, perasaan ini tidak bisa aku biarkan lama-lama." Sena menatap sendu langit cerah siang ini.
__ADS_1