
Setelah beberapa menit Bimo kembali dan melihat makanan sudah tersaji penuh dimeja mereka.
"Kenapa tidak dimakan?" Tanya nya yang melihat Alena dan lainya masih diam belum menyentuh makanan yang sudah tersedia.
Bimo duduk disamping Alena, disebelah Alena ada Alisa.
"Kita nunggu kakak, gak sopan kalau makan duluan." Ucap Alisa.
Bimo tersenyum, ternyata Alisa sudah pintar menghormati seseorang. "Baiklah, maaf kalau kak Bimo lama, sekarang ayo kita makan, dan sebelum makan Alisa yang memimpin doa."
Dan mereka pun makan dengan tenang dan hikmat, setelah Alisa membacakan doa, diikuti yang lainnya.
"Makan nya pelan-pelan.." Bimo mengusap sudut bibir Alena yang terkena sisa makanan.
"Makasih." Alena tersenyum dengan dada berdebar, wajahnya menunduk malu karena ada mbak Mirna dan suami.
Dirinya takut jika mbak Mirna akan melaporkanya kepada Diki, atau mengadu jika dirinya dekat dengan bosnya.
Bimo hanya tersenyum santai, tidak perduli jika dua orang dewasa didepanya merasa malu sendiri.
__ADS_1
Alena tidak tahu jika mbak Mirna dan suami sudah tahu kedekatan mereka, bahkan Bimo memberi uang bulanan untuk mbak Mirna karena sudah membantu Alisa.
Bimo melakukan itu untuk Alena dan Alisa, agar mereka tidak sendiri. jika Alena, Bimo masih bisa mengawasi ketika dari kantor, tapi tidak dengan Alisa yang seharian ditinggal oleh Alena.
Selama tiga jam mereka berada diluar, dan kini Bimo mengantarkan mereka pulang, Alisa sudah tidur di pangkuan Mirna, gadis kecil itu terlalu lelah dan kekenyangan.
"Kamu lelah?" Tanya Bimo yang melihat Alena hanya diam, semenjak keluar dari Mall. Bimo juga membelikan beberapa mainan untuk Alisa.
Alena menoleh dan menggeleng dengan senyum. "Tidak, terimakasih sudah baik pada kami." tiba-tiba Alena berucap. Dirinya tidak tahu harus mengucapkan apa pada Bimo.
"Kenapa harus berterimakasih, kalian sekarang tanggung jawabku." Ucap Bimo yang fokus kedepan.
Alena menatap wajah Bimo sekilas. "Aku tidak tahu harus ngomong apa, entah aku gadis baik atau tidak karena sudah bertunangan tapi memiliki perasaan lain kepada kamu." Ucapnya menatap wajah Bimo.
Keduanya membalas senyum, Alena tidak tahu saja jika Bimo sudah memiliki kartu As tunangannya.
Maka hanya tinggal tunggu tanggal mainnya maka semua akan baik-baik saja.
'Aku tidak akan melepaskan mu'.
__ADS_1
.
.
.
"Ohh..yes..Beby faster.." Suara rancauan dan erangan menggema dikamar apartemen milik Mega, hawa panas menyelimuti kedua insan yang sedang menikmati percintaan mereka.
Mega bergerak liar diatas tubuh Diki, dengan penuh keringat di tubuh keduanya.
"Ahh..."Mega mencapai pelepasannya ketika hentakan Diki dari bawah membuatnya tak bisa menolak lagi.
Diki segera membalikkan tubuh Mega untuk dirinya kungkung, kembali bergerak cepat sodokan yang begitu kuat.
Mega sampai menggerang sakit, ketika Diki menumbuknya kasar dibawah sana terasa ngilu. Namun tidak Diki hiraukan karena dirinya mengejar gelombang pelepasan yang akan datang.
"Ohh...kamu nikmat sayang." Diki terus memacu pinggulnya untuk lebih cepat bergerak, ketiga sodokan Diki menyemburkan lahar panas miliknya ke dalam rahim Mega.
Diki tidak tahu jika Mega sudah melepas alat kontrasepsi nya, sejak seminggu yang lalu. Karena sebelumnya Diki yang mengantar Mega untuk memasang alat KB.
__ADS_1
"Argghh..." Diki menggeram di ceruk leher Mega, dengan napas tersengal.
Keduanya bermandikan peluh keringat karena percintaan panas barusan.