
Menjadi anak pertama dan satu-satunya dalam keluarga Bagaskara membuat Bimo yang masih 24tahun harus menjadi pria yang dewasa dan memiliki wibawa sebagai calon CEO utama pewaris Bagaskara Grub, meskipun tidak dididik terlalu keras sejak kecil, bahkan Bimo terbilang cukup di bebaskan semasa remaja, kini malam menjadi pria yang begitu kompeten dan ambisius dalam bisnis.
Jika para pewaris yang lain akan di didik keras sedari kecil untuk melatih mental dan kecerdasan namun tidak bagi seorang Bimo, Rendy termasuk ayah yang menuruti kemauan anak nya. Rendy membiarkan Bimo mencari jati dirinya sendiri tidak mau mengekang ataupun ikut campur urusan putranya jika memang tidak ada masalah. Terbukti jika sewaktu remaja Bimo sudah memiliki karakter yang kuat dan tidak gampang terpengaruh, hingga sampai menyelesaikan pendidikan dengan nilai Cumlaude membaut Rendy yakin jika putranya mampu memimpin perusahaan seperti dirinya.
Rendy yang dulu tidak seperti Bimo yang sekarang, kehidupannya sudah di atur sebagai pewaris. Semua sudah disiapkan, bahkan masa remajanya pun tak sebebas putranya sekarang. Rendy yang dulu lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar sampai dirinya layak sebagai pewaris utama.
"Sayang akhirnya kamu datang, mama merindukanmu." Leina langsung menyambut putranya ketika masih di depan pintu.
Memeluk menciumi seluruh wajah putranya membuat Bimo geli sendiri.
"Mah, plis deh..Bimo udah bukan anak kecil lagi." Protes Bimo dengan kesal kepada mamanya, karena mendapat ciuman di seluruh wajah nya.
"Bagi mama kamu tetap Imo nya mama." Leina merangkul putranya, Imo adalah panggilan sayang semasa dirinya masih kecil.
Begitulah Leina seorang ibu yang sangat menyayangi putra semata wayangnya.
"Pah, lebih baik papa adopsi anak biar mama gak anggep aku anak kecil terus." Bimo mengadu pada Rendi yang sedang duduk di ruang keluarga.
Leina hanya mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Bimo. "Kenapa harus adopsi, jika kamu saja bisa memberikan cucu sama mama."
"Mama ngaco kalo ngomong, pacar aja gak ada mau minta cucu, dikira gampang bikin cucu." Bimo bersungut sambil memakan cemilan yang sengaja mama nya buat untuk nya.
"Lah, emang gampang kan, tinggal adon bolak balik semburin jadi." Ucap Leina enteng, tidak perduli sudah mendapat tatapan horor oleh putranya.
"Pah, papa udah gak bener ngajarin mama." Bimo melirik Rendy yang hanya diam tersenyum mendengar anak dan istrinya berdebat.
"Sembarangan, kalo gak bener gak akan keluar seperti kamu tau." Leina mendelik ke arah Bimo.
"Dih, pake aku di bawa-bawa." Bimo kembali asik memakan cemilan.
Sedangkan Leina pergi kebelakang.
"Kalian ini kalo ketemu ribut melulu, kalo gak ketemu di cariin." Rendi menaruh koran di meja. "Papa dengar kamu sedang mau melakukan iklan untuk produk minuman baru kita?" Tanya Rendy kepada putranya.
__ADS_1
"Ya pah, dan rencana Minggu depan akan mulai syuting iklan." Bimo mulai serius ketika membahas pekerjaan.
"Jika sudah selesai dan akan launching papa juga akan mengadakan rapat dan penyambutan di kantor kita untuk meresmikan jabatan baru kamu." Rendy menatap putranya serius.
Karena sudah memenangkan tender di kota S, dan sekarang dalam tahap pembangunan membuat Rendy menepati janjinya jika berhasil dirinya akan melepas jabatannya kepada putranya.
"Apa tidak terlalu cepat Pah?" Bimo nampak sedikit tidak yakin jika dirinya mampu.
"Sekarang atau nanti sama saja, yang papa lihat kamu sudah mampu untuk mengemban tugas utama kamu."
"Baik lah, jika begitu aku akan berusaha lebih baik lagi."
"Harus, karena kamu adalah pewaris satu-satunya."
Keduanya masih berbicara seputar pekerjaan dan kegiatan di kantor.
Jika sudah di gariskan menjadi pemimpin di perusahaan, sebagai pewaris utama membuat Bimo menerima dengan lapang dada.
Tanggung jawabnya semakin bertambah, ketika menjadi seorang pemimpin tidak bisa memikirkan dirinya sendiri melainkan mengayomi para anak buah yang bernaung di Bagaskara Grub, kesejahteraan kehidupan mereka bergantung di Bagaskara Grub.
.
.
Jam sebelas malam Bimo keluar dari rumah kedua orang tuanya, seperti biasa dirinya tidak mau tinggal di rumah besar itu.
Mobil mewahnya membelah jalanan kota yang sudah sepi karena memang waktu sudah hampir tengah malam.
Ketika ingin berbelok ke arah apartemen nya, pikiranya teringat tentang Alena.
"Si Ale udah sadar belum ya."
Bimo memutar arah menuju rumah sakit. Meskipun tidak yakin dirinya akan bisa menemui Alena namun bisa melihat keadaan gadis itu saja sudah membuatnya merasa lega.
__ADS_1
Dua luluh menit mobil mewah Bimo sudah terparkir di halaman rumah sakit.
Suasana sudah sepi karena memang jam besuk sudah habis, tapi entah apa yang di lakukan Bimo hingga bisa masuk keruangan Alena.
Bimo melihat ruangan Alena dari bilik pintu yang terdapat kaca, hingga dirinya bisa melihat jika Alena sendiri masih terbaring di ranjang pasien.
Tangan nya meraih handel pintu pelan untuk membuka agar tidak menimbulkan suara berisik.
Bimo melangkah masuk dengan pelan dirinya hanya melihat Mirna dan Alisa seperti biasa sudah tidur di sofa yang lumayan besar untuk tidur mereka berdua.
Melihat kesekeliling tidak ada tunangan Alena yang menunggu. Kata Mirna memang biasa nya tunangan Alena yang setiap malam menunggu, jika begitu malam ini adalah malam keberuntungannya tidak mendapati tunangan Alena.
"Ck. ternyata kamu belum sadar juga." Bimo duduk di kursi samping ranjang Alena. Menatap wajah Alena yang masih sedikit pucat.
"Sudah satu Minggu kamu tidur Ale, jika seperti ini terus kamu tidak akan menerima gaji, dan hutang kamu tidak akan lunas." Bimo membuang napas kasar. Sepertinya tidak ada bahasan lain selain membahas utang dengan Alena.
Bimo adalah tipe pria yang belum Leka terhadap hal yang romantis, keromantisan seorang Bimo akan keluar sendiri dari hati nuraninya.
"Ale dengarkan saya, Jika kamu tidak bangun dalam waktu satu hari maka tiga bulan akan saya menjadi empat bulan kamu menjadi pembantu saya." Bimo berkata pelan namun terdengar seperti ancaman.
Plak.
Sebuah tangan memukul bahunya dengan pelan.
"Bapak kita saya mau selama itu jadi pembokat anda." Alena membuka mata dan menatap tajam Bimo dengan wajah yang masih sedikit pucat.
Mata Bimo membola melihat Alena yang bicara dan membuka matanya.
"Ka-kamu sudah sadar." Bimo nampak terbata dengan wajah yang masih syok melihat Alena yang hanya memutar bola matanya malas.
Antara percaya atau tidak, sebenarnya tadi dirinya berbicara dengan Alena yang masih koma, apa Alena yang sedang tidur? Ehh bukanya sama aja ya..wkwk.
.
__ADS_1
.
Like...komen kalian sangat berarti bagi author😘..