
Bimo benar adanya sebelum mereka sampai rumah eskrim yang belum sempat Alena makan sudah berjejer rapi di dalam lemari pendingin.
"Yank..kenapa mereka semua sudah ada disini?" Tanya Alena yang di tunjukan kepada jejeran eskrim beraneka rasa.
"Untuk kamu cicipi." Bimo duduk di kursi ruang makan sambil membuka tutup botol minum yang baru saja dirinya ambil.
Keduanya sampai dirumah setelah menemani Alena memakan eskrim di cafe tadi.
"Iya maksudnya kenapa bisa langsung masuk sini, mbak Mirna kan gak ada?" Ucap Alena lagi sambil membawa satu cup sedang eskrim dengan rasa vanilla coklat.
Karena Mirna memang sedang menjemput Alisa sekolah, dan dirumah mereka memang tidak ada pembantu lainya lagi.
"Mereka yang masukin yank." Ucap Bimo santai.
Alena menautkan alisnya, kenapa orang lain bisa masuk kerumah mereka seenaknya, pikirnya.
"Kamu yang menyuruhnya?" Tanya Alena lagi.
"Hm.." Bimo hanya berdehem menanggapi ucapan istrinya.
Alena hanya mengangguk dan tidak berniat memperpanjang pertanyaannya lagi, kalau suaminya yang menyuruh berarti dia percaya dengan orang itu.
Setelah menemani Alena memakan eskrim, Bimo menyuruh Alena untuk beristirahat dan kini mereka berada di dalam kamar.
Bimo mengecek email yang masuk pagi tadi, karena dirinya tidak masuk kantor Daniel mengirim semua laporan padanya lewat email.
__ADS_1
Alena keluar dari kamar mandi menghampiri suaminya yang fokus pada laptopnya dan langsung duduk di pangkuan Bimo.
"Engh...sayang.." Bimo langsung melingkarkan tangannya di pinggang Alena.
"Kenapa hm." Melihat istrinya yang tiba-tiba manja membuat Bimo senang.
Tangan Alena mengalung di bahu suaminya, kepalanya Ia rebahkan di dada bidang nya.
"Aku mau bulan madu." Ucap Alena tanpa melihat wajah suaminya, sejujurnya dirinya malu mengatakannya.
"Kapan?" Tangan Bimo mengelus punggung istrinya naik turun, sambil menciumi pucuk kepala Alena.
"Terserah kamu, tapi secepatnya." Alena mendongak kan kepalanya menatap wajah suaminya.
"Oke." Bibir Bimo tersenyum menatap wajah Alena, tangannya menyingkirkan anak rambut dan menyelipkannya kebelakang telinga. "Lusa kita berangkat, biar Daniel yang mengurus paspor dan keperluan kamu."
Alena tersenyum bahagia, matanya berbinar mendengar itu.
"He'um terima kasih." Alena memajukan wajahnya untuk meraih bibir suaminya.
Dengan senang hati Bimo menerima ucapan terima kasih sang istri, dan menekan tengkuk Alena untuk memperdalam ciuman mereka, ketika Alena akan melepas cumbuannya.
"Emph.." Alena mulai terbuai, ciuman yang awalnya biasa saja kini semakin menuntut lebih dalam.
Decapan kedua bibir mereka membuat tubuh keduanya semakin panas, Bimo menyesap lidah Alena merasakan rasa di dalamnya yang begitu memabukkan.
__ADS_1
Lidah keduanya saling membelit bertukar saliva dengan perasaan yang menggebu-gebu.
"Aku mencintaimu."Bimo mengusap bibir Alena yang sedikit bengkak yang tersisa basah saliva.
Alena tersenyum dan kembali mendekatkan wajahnya mengulangi ciuman panas mereka dengan intens.
Setelah cukup lama berciuman Alena merasakan sesuatu yang keluar dari intinya.
"Engh.." Tangannya mendorong dada suaminya agar melepas tautan bibir mereka.
"Kenapa?" Wajah Bimo sudah nampak sayu, matanya berkilat gairah yang sudah menguasainya.
"Sepertinya aku kedatangan tamu." Ucapnya lalu bangkit dari pangkuan suaminya.
Bimo mengernyit bingung. "Tamu?"
"Hem." Alena ingin berjalan ke kamar mandi namun tangan nya di cekal oleh Bimo. "Aku mau ke kamar mandi Mas."
"Tidak mau melanjutkan, lihat dia." Jari telunjuk Bimo menunjuk miliknya di bawah sana yang sudah On.
Wajah Alena tiba-tiba masam. "Sepertinya tidak bisa karena tamu bulanan ku datang." Wajah Alena tampak menyesal, karena dia yang memancing gairah suaminya lebih dulu.
"Oh mau good." Bimo menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi dengan wajah frustasi.
Alena hanya menatap suaminya sekilas dan berlalu kekamar mandi dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1