
Leina mengamati bangunan dua tingkat dari dalam mobilnya. Hari ini Leina mendatangi rumah milik putranya karena Siera memberikan alamat rumah yang selama ini di tinggali Bimo beserta istrinya, bukan rumah Bimo melainkan rumah itu adalah milik Alena yang Bimo berikan sebagai mas kawin pernikahan mereka.
"Jadi mereka tinggal disini." Leina bergumam dan membunyikan klakson mobilnya didepan gerbang yang tertutup rapat.
"Maaf, nyonya cari siapa?" Fandy mendekati mobil yang berada di gerbang rumah majikanya, Fandy yang tidak mengenal Leina pun bertanya.
"Saya ingin bertemu anak saya yang punya rumah ini." Ucap Leina ketus.
Fandy nampak berfikir apakah wanita di dalam mobil itu ibu dari majikanya, karena selama ini memang dirinya tidak pernah tahu kedua orang tua majikannya.
"Kenapa? kamu tidak percaya kalau saya mama dari majikan kamu Bimo Bagaskara?!" Leina menatap tajam dengan suara kesal, karena di perhatikan seperti seorang pencuri.
"Eh..maaf nyonya, bukan begitu."
"Yasudah bukakan pintu gerbangnya." Leina kembali menutup kaca mobilnya, menunggu pintu gerbang dibuka lebar.
"Duh, semoga aku gak kesalahan." Fandy bergumam dengan penuh harap, karena dirinya merasakan aura tidak mengenakkan melihat cara bicara wanita yang mengaku ibu dari majikan nya itu.
Leina keluar dari mobil menatap sekilas Fandy dengan tatapan sinis.
"Kenapa anak sama emak kelakuannya beda jauh." Fandy hanya bergeridik ngeri melihat tatapan ibu majikannya itu.
Leina menekan tombol bel rumah hingga tiga kali, dan tak lama pintunya terbuka.
"Maaf, anda cari siapa nyonya." Tanya Mirna yang melihat wanita yang masih cantik di umurnya yang kepala empat.
Melihat tamu didepanya menggunakan kaca mata hitam dan bersedakep dada Mirna nampak menebak-nebak apakah itu ibu dari Bimo, yang berarti mertua Alena.
"Saya ingin bertemu pemilik rumah ini." Leina berbicara dengan gaya angkuhnya, ketika membuka kaca mata hitamnya.
"Maaf nyonya, Alena dan mas Bimo sedang tidak ada dirumah." Ucap Mirna dengan sopan.
"Ya, saya tahu dan mereka sedang dalam perjalanan pulang." Leina masuk begitu saja tanpa memperdulikan Mirna yang heran dengan tindakannya.
Leina tahu jika putranya hari ini akan pulang ke tanah air, karena sebelumnya Ia sudah mengirim pesan kepada Bimo.
Leina memasuki rumah putranya untuk pertama kali dan melihat kesekeliling furniture dan barang didalamnya adalah barang mewah semua.
"Ternyata selera Bimo tidak bisa di ragukan." Leina tersenyum tipis, melihat isi dalam rumah itu dirinya yakin jika putranya lah yang membeli semuanya.
"Nyonya mau minum apa?" Mirna berdiri dibelakang Leina.
"Buatkan saya minuman dingin, dan dimana kamar tamu disini." Tanya Leina pada Mirna yang sudah pasti dia tahu jika Mirna adalah pelayan di rumah itu.
"Di sebelah sana nyonya." Mirna menunjukan kamar tamu di lantai satu.
__ADS_1
"Baiklah, antar minuman saya ke kamar, dan jangan lupa turunkan koper saya dari dalam mobil." Leina berjalan menuju pintu kamar yang di tunjukkan Mirna.
"Koper? jangan-jangan dia mau tinggal disini." Mirna yang memikirkannya menjadi bingung sendiri. Karena tuan rumah sedang tidak ada.
"Loh Bu, kamu ngapain?" Fandy mendekati istrinya yang sedang membuka mobil ibunya Bimo dan menurunkan kopernya.
"Ini pak, nyonya mau tinggal disini, padahal Alena dan Mas bimo saja belum sampai rumah."
"Apa? tinggal disini?" Tanya Fandy terkejut.
Mirna mengangguk mantap. "Iya pak, barusan ibu mengantar minuman dingin ke kamar tamu."
"Semoga ibu mas Bimo naik ya Bu, menerima Alena yang sudah menjadi menantunya.
Mirna hanya mengangguk. "Iya pak."
.
.
.
.
"Selamat datang tuan." Seorang pria yang membawa mobil Bimo atau supir dari kantornya menunggu untuk me jemput atasannya itu.
Bimo hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Bapak pulang saja, saya yang akan mengemudi sendiri."
"Baik pak, ini kuncinya." Pria itu menyerahkan kunci mobil Bimo setelah menaruh koper bawaan bosnya itu.
"Terima kasih."
"Ayo Ale." Ajak Bimo menyuruh Alena masuk kedalam mobil setelah pintunya Ia buka.
Alena tersenyum, dengan senang hati menerima perlakuan kecil suaminya yang begitu manis.
"Kamu tidak lelah yank."
Kini keduanya sudah berada di jalan raya menuju kediaman rumah mereka.
"Hanya mengemudi tidak akan capek, bekerja untuk proyek besar saja aku kuat." Bimo melirik Alena dengan seringai tipis.
"Proyek besar? dimana?" Tanya Alena.
Bimo gemas sendiri dengan pertanyaan Alena, ternyata istrinya itu benar-benar polos.
__ADS_1
"Disini." Tangan Bimo terulur untuk menyentuh perut rata Alena.
Alena terpaku sejenak sebelum akhirnya senyum lebar terbit di bibirnya.
"Kamu ingin memiliki anak secepat ini." Alena ikut mengelus perut ratanya menatap Bimo.
"Hm, biar kalau pulang dari kerja dirumah ramai karena tangisannya."
"Semoga yang kamu inginkan segera terwujud." Alena tersenyum menatap wajah suaminya.
"Semoga sayang." Bimo meraih tangan Alena dan mengecupnya.
keduanya memang sedang menunggu kabar bahagia itu, Alena berharap setelah acara bulan madunya nantinya akan mendapatkan kabar bahagia untuk suaminya.
Jika mereka sedang merasa bahagia, lain jika seorang wanita yang tengah menyeringai puas melihat rencananya berhasil untuk mengirim Leina ke dalam rumah tangga Bimo.
"Perlahan kehancuran akan kamu dapatkan, bukan dari orang lain melainkan orang tuamu sendiri, dan kamu pantas untuk mendapatkan itu." Siera menatap tajam bangunan lantai dua yang terparkir mobil yang dirinya sangat kenal.
Bukan tanpa alasan Siera menjadi wanita yang egois dan berambisi, karena dirinya yang tidak terima di hina oleh pria seperti Bimo yang sempat membuatnya jatuh cinta, tapi rasa itu kini berubah menjadi kebencian ketika dirinya di permalukan sebagai wanita murahan.
Kembali melajukan mobilnya setelah puas dengan berita dari anak buahnya jika Leina mendatangi kediaman Bimo dan membawa sebuah koper, yang Siera tahu pasti berisikan pakaian Leina untuk tinggal disana.
Tak lama setelah mobil Siera pergi, mobil yang dikendarai Bimo masuki pintu gerbang rumahnya.
"Mas Bimo sudah pulang." Tanya Fandy dengan membuka pintu gerbang.
"Iya, Mas. Apa semua aman." Bimo bicara lewat jendela kaca mobil yang dirinya buka.
"Tenang saja Mas, semua aman." Fandy pun tersenyum lebar.
Bimo menunjukan jari jempolnya pada Fandy dan kembali melajukan mobilnya memasuki garasi.
"Ada tamu Mas?" Tanya Leina yang melihat mobil tak dirinya kenal.
" Kayaknya mobil Mama sayang, mungkin papa mama ada disini." Ucap Bimo yang memang mengetahui jika itu mobil Mamanya.
Deg
"Mama disini?" Tiba-tiba jantung Alena berdebar, entah apa yang membuat mertuanya datang, padahal mereka tidak tahu alamat rumah baru mereka.
"Tapikan mereka tidak tahu alamat rumah kita Mas." Ucapnya sambil melepas sealtbeat nya.
"Mungkin dari papa, karena papa selalu memantau anaknya ini." Bimo tersenyum menatap Alena.
Alena berharap apapun itu, semoga ibu mertuanya bisa luluh dengan sendirinya.
__ADS_1