
Makan malam yang seharusnya menjadi momen bahagia bagi kedua keluarga malah menjadi berantakan karena pengakuan Bimo.
Rendy meminta maaf atas kejadian yang kurang mengenakan di depan tuan Richard, walaupun dirinya yang awalnya juga kurang setuju dengan istrinya mengundang keluarga Richard namun Rendy tetap meminta maaf dengan tulus.
Tuan Richard yang marah pun enggan menjawab ucapan maaf Rendy beliau lebih memilih pergi membawa istrinya dan menyusul anaknya yang lebih dulu meninggalkan meja makan.
Ceklek.
Rendy memasuki kamarnya ketika putranya sudah membawa menantunya pulang.
"Mah." Rendy mendekati Leina yang sedang duduk di atas ranjang dengan mata sembab.
Duduk di depan istrinya, Rendy meraih tangan Leina.
"Mah, Bimo memang sudah menikah." Ucap Rendy pelan. "Papa tahu Mama mungkin kecewa karena mereka menikah tidak memberi tahu kita sebagai orang tua." Leina hanya diam tanpa menatap wajah suaminya ataupun berkomentar.
"Bimo melakukan itu pasti ada alasannya, tidak mungkin putra kita mengambil keputusan besar dalam hidupnya jika dia tidak mencintai gadis itu, sedangkan kita tahu bagaiman sifat Bimo yang dingin dan cuek kepada wanita kecuali Indira dulu." Rendy menatap istrinya yang sama sekali tidak merespon. "Papa mohon Mama mau menerima pernikahan mereka dan merestui hubungan mereka, meskipun Alena gadis biasa tapi papa yakin jika pilihan putra kita tidak akan salah."
Rendy berharap agar istrinya menerima keputusan Bimo.
Leina hanya diam tanpa bicara sepatah katapun, dirinya terlalu marah dengan keputusan putranya yang begitu membuatnya merasa tak di hargai seorang ibu yang melahirkan nya. Meskipun Bimo tidak pernah tinggal bersamanya namun putranya itu tidak pernah mengambil keputusan sendiri apalagi ini masalah pernikahan yang akan selamanya dia jalani, tidak habis fikir kenapa putranya bisa berubah tidak menghargai dirinya sebagai orang tua.
Apakah karena wanita itu Bimo berubah?
Ya, Leina yakin jika putranya berubah kerabat wanita OB di kantor anaknya itu.
.
.
.
Sepanjang jalan Alena hanya diam, dirinya tidak tahu harus bicara apa, pikiranya berkelana memikirkan orang tua Bimo, lebih tepatnya Mama Bimo.
__ADS_1
Meskipun dirinya sudah menduga tentang kejadian ini, namun dirinya tak menyangka jika langsung mendapat penolakan dari Ibu mertuanya.
"Sayang.."
Alena tertegun ketika tangannya dikecup oleh pria yang sejak tadi memperhatikan nya diam saja.
"Memikirkan apa hm." Ucap Bimo yang menatap Alena lekat.
Mobilnya sudah terparkir di basemen apartemen, Alena pun tak menyadari jika dirinya di bawa ke Apartemen suaminya, karena sepanjang jalan dirinya hanya melamun.
Tersenyum ketika melihat wajah suaminya yang begitu mencemaskan nya. "Tidak ada, hanya masih kepikiran ucapan Mama kamu." Ucapnya jujur.
Helaian napas dalam keluar dari bibir Bimo. "Tidak usah dipikirkan, Mama orang baik pasti menerima kamu dan pernikahan kita, mungkin Mama masih merasa kecewa karena kita tidak memberi tahunya."
Jarinya mengusap pipi Alena pelan. "Jangan khawatir semua akan baik-baik saja."
Alena menyentuh tangan suaminya yang berada di pipinya. "Hm..semoga Mama kamu mau menerima ku sebagai menantunya." Ucap Alena menghibur dirinya sendiri untuk menyakinkan jika ini hanya perlu waktu.
Plak.
Alena menapik tangan suaminya yang menarik hidungnya dan menggoyangkan nya kemanan dan kiri, sehingga kepalanya mengikuti gerakan tangan Bimo.
"Sakit yank." Ucap nya merengek dengan memegangi hidungnya yang merah.
Cup
"Maaf, sudah tidak sakit." Ucap Bimo setelah mengecup hidung Alena yang merah karena ulahnya.
Alena mengerucutkan bibirnya kesal.
Keluar dari mobil Alena baru menyadari jika mereka berada di parkiran Apartemen.
"Kenapa kesini?" Tanya Alena pada suaminya.
__ADS_1
"Me time sama istri."
Bimo langsung membopong tubuh istrinya ala bridal style.
"Akh..Bim turunin." Alena yang kaget memukul dada suaminya.
"Nanti setelah sampai."
Bimo mencium bibir Alena setelah masuk lift.
Alena mengalungkan tangannya ke leher Bimo, dirinya merasa beruntung memiliki suami seperti Bimo, pikiranya sedikit lupa akan kejadian tadi.
.
.
"Dad, aku tidak mau tahu bagaimana pun caranya aku harus menikah dengan Bimo." Siera menatap Daddy nya yaitu Richard dengan tatapan memohon.
"Apa kamu sudah gila, kamu mau menjadi istri kedua?" Tanya nyonya Yola dengan suara menggebu-gebu.
"Tapi aku udah terlanjur tertarik padanya Mom." Siera terus mencoba memohon.
"Kamu tidak waras Siera, kamu cantik dan lebih baik dari gadis itu, bahkan kamu bisa lebih mendapatkan pria lain yang lebih pantas dari pada Bimo yang sudah menikah dengan gadis rendahan itu." Nyonya Yola terus saja memarahi putrinya yang bersikeras ingin di jodohkan.
"Dad, Siera tidak mau apa-apa, Siera hanya ingin menikah dengan Bimo." Tangan nya meraih lengan tuan Richard dengan tatapan memohon.
Tuan Richard hanya menghela napas, dirinya yang sebenarnya tidak setuju melanjutkan perjodohan ini karena pria yang akan mereka jodohkan sudah menikah, namun melihat wajah putri satu-satunya yang begitu berharap ingin bersama pria itu membuatnya tak tega.
"Akan Daddy usahakan." Ucapnya tersenyum dan memeluk putrinya.
Wajah Siera begitu bahagia mendengar ucapan Daddy nya. "Makasih Dad." Siera mencium pipi Daddy nya.
"you all are crazy.!" Ucap nyonya Yola tak habis pikir, dan pergi meninggalkan anak dan ayah yang sedang berpelukan.
__ADS_1