Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Wanita itu, dia?


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang menengangkan bagi admistrasi keuangan, dimana mereka hari ini akan mempresentasikan hasil program baru mereka.


Meskipun hanya di wakilkan oleh atasan mereka, tapi Alexa dan rekan kerjanya juga merasakan kecemasan dimana program baru ini juga melibatkan mereka.


Kerja sama mereka dan usaha mereka untuk menciptakan sesuatu yang baru, dengan menggunakan kemapuan mereka munculnya program baru yang lebih mudah dan praktis untuk mengakses data lebih gampang.


Karena menurut atasan mereka, cara lama cukup rumit dan memerlukan waktu, dan kali ini mereka harus bisa membuat trobosan progam baru dengan data keuangan yang lebih spesifik dan mudah di mengerti.


"Semangat ya mbak, kita disini doa'in mbak." Ucap Alexa menyemangati Tia selaku ketua dan atasan mereka yang akan mewakili memprestasikan hasil program baru mereka selama dua minggu ini.


"Iya mbak, nasib kita di tangan mbak." Ucap Keke dengan penuh harap.


"Oke, mbak akan melakukan yang terbaik." Tia menarik napas dan tersenyum untuk menyemangati diri nya sendiri.


"Meskipun aku tidak membantu banyak, tapi aku juga bagian dari kalian dan semoga kali ini program baru kita membuahkan hasil terbaik di kelompok divisi kita." Ucap Gilang yang sudah gabung lagi setelah satu Minggu cuti.


Dan mereka berempat melakukan doa bersama untuk kelancaran presentasi yang akan Tia lakukan.


"Alexa, kamu temani saya ya." Ucap Tia ketika ingin keluar dari ruangan. "Aku lupa jika harus membawa satu orang yang banyak menuangkan ide di sini." Ucap Tia dengan memamerkan giginya nyengir.


"Tapi mbak aku."


"Sudah kamu hanya temani aku saja, tidak usah ngapa-ngapain." Ucap Tia langsung menarik tangan Alexa.


Meskipun bukan pertama kali bagi Alexa berhadapan atau pun bertemu dengan orang penting, tapi tetap saja Alexa merasa tidak percaya diri karena tidak ada kesiapan dalam dirinya.


Dan ini adalah kali pertama dirinya di ajak keruang metting dengan orang-orang penting setelah beberapa bulan lamanya dirinya tidak pernah lagi berhadapan ataupun bertemu klien dalam bisnis.


Tia dan Alexa sampai di depan pintu ruang metting dan disana sudah ada wakil direktur yaitu pak Bayu dan para staf yang bersangkutan dengan hasil program baru ini.


"Siang pak." Alexa dan Tia menunduk hormat kepada empat pria yang jabatannya lebih tinggi dari mereka.


"Kita tunggu direktur kita datang sebentar lagi, dan kalian apa sudah siap dengan presentasi program baru ini." Tanya pak Bayu pada kedua wanita yang duduk sampingan itu.


"Kami siap pak, semoga hasilnya memuaskan dan tidak membuat kalian dan pak direktur kecewa." Jawab Tia dengan pasti.


Karena Tia sendiri merasa takjub dan bangga melihat hasil program yang mereka buat, di mana semua menjadi mudah untuk mengakses data tidak perlu rumit untuk melihat dan menjumlah hasil akhirnya dan pasti mudah di mengerti untuk orang-orang yang ingin mengecek hasil administrasi keuangan kantor.


Tak lama pintu kembali terbuka dan masuklah tiga orang pria dengan langkah tegapnya. Dan mereka berenam langsung berdiri menunduk hormat.


Bimo berjalan yang paling depan, dan langsung mengambil kursi direktur untuk duduk, disusul Ren di sebelah sang papa dan asisten Bimo yaitu Daniel.


Meskipun umur Daniel sudah tua, tapi Bimo meminta Daniel menemaninya. Karena mereka adalah pejuang bersama di Bagaskara Grub, jika Bimo sudah benar-benar pensiun maka Daniel juga akan Bimo berhentikan.

__ADS_1


"Selamat siang semua, saya harap kali ini meeting kita tentang program baru data keuangan akan sangat membatu untuk hasilnya." Ucap Daniel yang lebih dulu membuka meeting.


"Untuk mempersingkat waktu, karena direktur kita sudah hadir, maka silahkan untuk memulai persentasi dari bagian divisi keuangan." Daniel mempersilahkan Tia untuk berdiri.


Sedangkan Alexa sejak tadi sudah tidak nyaman duduk di kursinya, dua pasang mata menatap nya tajam dengan sorot meremhkan, tapi sebisa mungkin Alexa bersikap biasa saja meskipun kali ini dia berhadapan dengan dua orang yang dulu pernah membuatnya di pecat secara tidak hormat, dan berimbas pada dirinya yang susah mencari pekerjaan.


Tia sedang berbicara dan menunjukan hasil analisa dan program yang mereka buat, Tia begitu lancar mengucapkannya.


"Dan itulah program baru dari kami, serta ide-ide baru dari rekan kerja kami yaitu Alexa Akselia, dia yang paling banyak memberikan masukan ataupun ide dan cara bagaimana agar data keuangan kita yang awalnya sangat rumit kini lebih mudah dengan cara baru yang beliau tungakan dalam program ini." Ucap Tia menunjuk Alexa yang duduk dengan wajah terkejut, karena namanya disebut.


Alexa yang mendapat kode dari Tia pun berdiri, DNA memberi hormat kepada semua orang disana dengan senyum tulusnya.


Mereka semua bertepuk tangan meberi selamat pada Tia dan juga Alexa, karena program mereka sangat membantu untuk mempermudah akses data keuangan yang awalnya rumit kini menjadi lebih mudah.


"Semoga program baru ini membatu kita semua, dan kami sangat berterimakasih kasih sudah diberi kesempatan dan kepercayaan untuk mengembangkan program baru ini pada divisi kami." Hanya itu yang bisa Alexa ucapkan, dirinya merasa tidak nyaman karena sejak tadi Ren selalu menatapnya intens.


"Baiklah kalau begitu pertemuan kita selasai." Ucap Daniel yang menutup acara metting itu kembali setelah Bimo mengatakan sesuatu. "Dan untuk nona Alexa, anda di tunggu diruangan direktur." Setelah itu Daniel pergi mengikuti Bimo dan juga Ren yang sudah lebih dulu keluar.


"Lex, kamu kenal bos besar kita?" Tanya Tia yang juga memperhatikan tatapan kedua orang yaitu anak dan juga bapaknya.


"Kenal sih enggak mbak, tapi mereka yang sudah membuat saya di pecat dengan tidak hormat." Jawab Alexa sambil membereskan berkas yang dia bawa tadi.


"Ya salam, jadi kedua bos tadi yang sudah membuat kamu di blacklist."


Alexa hanya menggaguk lemah. "Dan mungkin sekarang saya juga akan bernasib sama." Alexa berjalan keluar lebih dulu, karena dirinya sudah di tunggu oleh direktur diruangan nya.


Tok...tok..tok...


"Masuk."


Alexa mendorong pintu besar itu dan masuk keruangan direktur utama, disana ada tiga orang pria yang sedang duduk dan menatap ke arahnya.


"Ada yang bisa saya bantu pak." Ucap Alexa sopan dan setenang mungkin, karena saat ini dirinya seperti berada di sangkar buaya jantan.


"Duduklah nona." Ucap Daniel dengan menunjuk sofa single di sisi Bimo dan Ren duduk, sedangkan Daniel duduk di sofa kanan bos nya.


"Bukankan kita pernah bertemu waktu dulu." Ucap Bimo langsung, karena dirinya memang mengingat wajah Alexa ketika di restoran itu, bahkan kejadian dimana putranya menangkap tubuh Alexa ketika ingin jatuh masih teringat jelas.


"Iya pak, saya yang dulu pernah membuat anda menunggu lama di restoran dan membatalkan kerja sama kita." Ucap Alexa menatap Bimo dengan sedikit senyum.


Deg


Ren yang mendengar itu mencoba mengingat karena dirinya juga merasa tidak asing dengan wajah Alexa.

__ADS_1


"Ternyata dia wanita itu.."


"Dan karena kecerobohan saya waktu itu saya di pecat secara tidak hormat oleh atasan saya, dan identitas saya juga di blacklist oleh mereka agar saya tidak bisa mencari pekerjaan di kantor lagi, karena saya sudah membuat kesalahan yang merugikan mereka." Tutur Alexa menceritakan kejadian beberapa bulan silam dan di waktu itu dirinya benar-benar terpuruk.


"Blacklist?" Tanya Bimo dengan tak percaya. "Kenapa sampai di blacklist?"


"Mereka bilang saya tidak bisa membuat perusahaan anda bekerja sama dengan perusahaan tempat saya bekerja, dan jika saya berhasil maka perusahaan mereka pasti mendapat keuntungan banyak dengan kerjasama itu."


Bimo hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu beruntung lepas dari perusahaan itu, dan yah kamu ternayata sangat pintar meskipun hanya menyandang predikat setara tapi otak kamu pintar." Ucap Bimo jujur, karena sebelumnya dia melihat biodata dan jejak Alexa dalam bekerja sebelum Alexa masuk ke ruangan itu.


"Terima kasih pak, saya bisa bekerja disini juga berkat bantuan wanita yang pernah saya tolong."


Bimo menautkan kedua alisnya. "Kak Sena yang membantunya Pah." Jawab Ren yang mengerti maksud papanya.


Bimo hanya mengangguk. "Baiklah, ide yang kamu kembangkan tadi sangat bagus, untuk itu kalian yang sudah bekerja keras akan mendapat penghargaan dan bonus di akhir bulan ini."


Ucapan Bimo sontak membuat kedua mata Alexa melebar dengan bibir tersenyum lebar.


"Benar pak, bapak tidak bohong." Tanya Alexa yang tidak percaya, pasti rekannya di bawah sangat senang mendengarnya.


"Tentu tidak, kalian pantas mendapatkan nya." Ucap Bimo dengan sedikit tersenyum.


"Terima kasih pak, terima kasih." Alexa berdiri dan menjabat tangan Bimo serta Daniel, namun tangannya berhenti ketika akan menjabat tangan Birendra padahal baik Ren sudah mengulurkan tangannya.


"Kalau begitu saya permisi pak." Alexa memberi hormat dengan menunduk, dan langsung pergi tanpa menghiraukan tatapan tajam Ren yang sudah menolak untuk berjabat tangan.


"Ck. sepertinya dia memiliki dendam sama kamu Ren." Ledek Daniel yang sejak tadi memperhatikan Alexa dan Ren.


"Cih, wanita sombong." Ren kembali duduk dengan wajah kesal, baru kali ini dirinya ditolak berjabat tangan dengan seorang wanita.


Bimo hanya menggeleng, "Justru wanita seperti itu yang susah di taklukan Ren, dan pasti tidak akan bermain dengan banyak pria."


Ren menatap papanya dengan wajah bingung mendengar ucapan Bimo.


"Yang ada tidak akan ada pria yang mau mendekatinya Pah, kalau sombong seperti itu." Pungkas Ren yang sedikit tersentil mengingat kekasihnya.


"Justru itu adalah benteng untuk melindungi dirinya dari pria-pria yang suka mempermainkan wanita, dan mungkin kamu salah satunya." Bimo melirik Ren dengan satu alis terangkat.


"Cih, papa saja hanya sekali jatuh cinta dengan Mama, mana mungkin papa banyak tahu soal begituan." Ledek Ren yang tidak terima di katakan pria yang suka mempermainkan wanita.


"Tentu saja papa tahu, karena papa sudah hidup lebih lama dari kamu."


Daniel yang mendengar perdebatan kecil mereka hanya tertawa.

__ADS_1


"Ya..ya..ya..papa memang lebih dulu hidup dari aku, makanya papa sekarang sudah tua." Setelah mengatakan itu Ren melarikan diri kabur dari ruangan yang pasti akan membuatnya habis kalau tidak kabur.


"Dasar anak kurang ajar.!!" Umpat Bimo yang melihat Ren kabur.


__ADS_2