Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Plak


"Auwss..sakit Sen." Aaron mengusap pipinya yang terasa panas, setelah kena cap lima jari dari tangan Sena.


"Dasar pria gila..!!" Sena mendengus kesal, menatap Aaron tajam, dan melenggang pergi setelah berhasil memberi pelajaran pada pria kurang ajar itu.


"Seenaknya main sosor, dasar soang mesum." Sena berjalan dengan hati dongkol dan menggerutu.


"Ck, makan apa sih tu cewek, gila tamparan nya..pedes." Aaron masih mengusap pipinya.


"Duh, lupa gue." Ingat ketika dirinya datang ke tempat ini untuk bertemu klien, Aaron segera keluar dan bergegas menemui klien nya.


Dari jarak yang lumayan jauh dirinya melihat dua orang yang dikenalnya.


"Mampus, jangan sampe gara-gara lama menunggu proposal gue gak berlaku." Aaron mengusap keningnya yang terasa basah.


"Maaf, saya telat." Ucap Arron ketika sudah sampai di mana Bimo dan Ren duduk.


"Bahkan aku mau pesan makanan lagi, karena yang tadi sudah habis." Ucap Ren menatap Aaron kesal.


Aaron hanya menampilkan senyum canggung, dimana pria di depannya ini menyindirnya.


"Karena kamu sudah sampai, lalu apa yang yang membuatmu yakin minta bertemu." Ucap Bimo menatap Aaron dengan serius, wajah datar dan wibawanya nampak sangat jelas, ketika membahas pekerjaan dan bisnis.


Glek


Aaron menelan ludahnya kasar. 'Kenapa aku jadi tak percaya diri.' Keluhnya dalam hati.


Ehem..


"Anda bisa lihat kembali poin yang saya tambahkan, saya berharap kali ini bisa bekerja sama dengan perusahaan anda untuk membangun proyek rumah sakit di pelosok." Aaron kembali menyerahkan map yang kemarin sempat di tolak.


Bimo menerimanya dan membuka untuk melihat poin apa yang pemuda itu tambahkan.


"Saya yakin, anda akan menyetujui proposal saya kali ini, karena ini adalah keuntungan terbesar yang pernah saya tawarkan." Ucapnya dengan nada penuh harap.


"Lima puluh persen keuntungan saham?" Ucap Bimo tak percaya dengan isi poin yang Aaron tambahkan.

__ADS_1


"Yap, anda bisa memiliki semua keuntungan itu saya akan berikan keuntungan LWS untuk anda jika anda menerima kerja sama ini." Ucap Aaron mantap, Biarlah dirinya tidak mendapat keuntungan banyak, asalkan Ia bisa bebas dan mengejar cintanya tanpa di atur lagi oleh sang kakek.


Bimo menatap Aaron dengan penuh selidik. "Bagaimana saya bisa yakin jika kamu akan memberikan keuntungan itu? apa kamu memiliki alasan yang cukup masuk akal." Bimo menaruh map itu di atas meja.


"Em.." Aaron nampak berfikir, apakah dirinya harus mengatakan alasan sesungguhnya demi mendapat tanda tangan kerja sama ini.


"Saya sedang mengejar seorang gadis yang saya sukai, dan kakek berusaha menjodohkan saya dengan wanita lain yang menurutnya pantas untuk saya, dan saya pernah kabur untuk menghindari perjodohan itu. Lalu jika saya berhasil mendapatkan kerja sama ini, maka kakek saya akan membebaskan saya dan tidak ikut campur lagi dengan jodoh saya." Ucap Aaron dengan wajah sendu, entah mengapa jiwa percaya dirinya mendadak hilang.


Biarlah dirinya di katakan bodoh, asal keinginannya untuk mengejar Sena terlaksana, dan tidak ada yang mengganggu nya lagi.


Ren yang mendengar curahan hati Aaron meledakkan tawanya. "Lu pria paling bodoh yang pernah gue tau." Ucap Ren masih dengan tawanya.


Aaron mendelik melihat Ren yang menertawainya.


"Ren.." Bimo memperingati. "Kamu yakin ingin memberikan keuntungan saham lima puluh persen jika saya menerima kerja sama ini?" Tanya Bimo untuk menyakinkan.


Karena pikirnya alasan Aaron sangat konyol, bagaimana mungkin pria muda tampan dan pintar sepertinya rela memberikan keuntungan besar hanya untuk mendapat kebebasan mengejar gadis yang dia cintai.


Hah mengingat itu, dirinya jadi teringat seseorang yang pernah dia perjuangkan cintanya.


"Ck. jadi penasaran gue, siapa sih wanita yang bikin pria seperti lu jadi gak waras." Ren tertawa menatap wajah Aaron yang kesal.


Bimo meraih berkas itu lagi, tidak ada salahnya memberi kesempatan bagi pria didepanya ini untuk memperjuangkan cintanya, karena tanpa poin tambahan itu sebenarnya dirinya sudah merasa puas dengan ide yang Aaron tungakan untuk proyek kerja sama yang Aaron tawarkan.


"Berikan pulpen nya." Tangan Bimo terulur meminta pada Aaron.


"Hah..?"


"Pena ogeb, yaelah..heran gue modelan kayak lu bisa jadi CEO pewaris kekayaan keluarga Lewis." Ucap Ren mencibir karena melihat wajah Aaron yang cengo.


"Amit-amit dah kalau modelan Lu yang jadi kakak ipar gue, bisa ikut gesrek deket-deket lu." Ucap Ren lagi melirik Aaron sinis.


Aaron hanya diam, sebisa mungkin dirinya menahan kesal karena di depannya sudah ada hilal untuk menuju kebebasan, dimana tangan Bimo menari di atas kertas berkasnya menggunakan tinta pena.


"Sudah." Bimo mengembalikan berkas yang sudah Ia tanda tangani.


Aaron segera mengambilnya, dan melihat tanda tangan itu senyum cerah mengambang di wajahnya.

__ADS_1


"Terima kasih tuan, saya tidak akan ingkar janji." Karena terlalu bahagia Aaron sampai memeluk Bimo.


"Oh..maaf, saya terlalu senang." Aaron seperti ketiban durian runtuh.


"Yes..!! Sen-Sen gue bakalan dapetin lu." Ucapnya dengan girang.


Bimo hanya menggeleng dan tersenyum tipis, sungguh bahagia jika orang yang kita cintai bisa kita raih, apalagi bisa hidup bersama dan menghabiskan waktu bersama.


"Duh, kalau gue yang kayak gitu, mending nyungsep deh..malu njirr..di liatin banyak orang." Ren menatap ke sekeliling dimana sebagian pengunjung yang dekat dengan meja mereka melihat tingkah aneh pemuda tampan itu.


.


.


Sena yang sedang berada di taman tidak jauh dari restoran tempat pertemuan papanya dengan klien nya sedang memakan satu cup eskrim rasa vanilla coklat kesukaannya, sama seperti kesukaan mendiang sang Mama.


"Kenapa rasanya tak seenak di cafe papa sih." Ucapnya menatap satu cup eskrim yang sudah meleleh.


"Mending kesana aja deh."


"Pah Sena ke cafe papa, mau makan eskrim.." .


Sena mengetik pesan dan menekan tombol kirim.


"Kita ke cafe Ren." Ucap Bimo setelah membaca pesan masuk dari Sena.


"Loh, bukanya kakak ada di taman." Tanya Ren, karena tadi Sena pamit ingin pergi ke taman.


"Kakak mu ingin makan es krim, dia pergi ke sana."


Bimo berdiri dari duduknya. "Baiklah nanti Ren yang akan menangani kerja sama ini selanjutnya, dan semoga kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan."


"Baik tuan, sekali lagi terima kasih." Aaron terus saja mengembangkan senyum.


"Kami permisi." Bimo lebih dulu berjalan keluar, diikuti Ren, setelah berjabat tangan.


"Huh..akhirnya..gue bebas..!!" Aaron berteriak tanpa rasa malu, dirinya terlampau senang hingga melupakan siapa jati dirinya, seorang pewaris tunggal kekayaan Lewis.

__ADS_1


__ADS_2