
"Emh..shh." Alena mendessahh di bawah kungkungan tubuh suaminya.
Bimo terus saja berpacu ketika gelora di tubuhnya semakin berkobar. Dadanya kian berdebar ketika melihat wanita di bawahnya semakin mendessahh keras.
"Yank..ahh." Alena mencekram lengan Bimo yang berada di samping kira dan kanan tubuhnya, tangan yang basah oleh keringat.
Ya, kini keduanya sedang memadu cinta di pagi hari, ketika Alena baru membuka mata dan suaminya sudah mengerayangi tubuhnya yang setengah polos.
Setelah tadi malam menghabiskan waktu bersama hingga membuat Alena tertidur didalam mobil membuat Bimo mendesah pasrah, pasalnya dirinya ingin menghabiskan waktu semalaman untuk bercinta, tapi istrinya malah tidur karena kekenyangan setelah menghabiskan makanan yang di beli.
Alena terus saja mengerang dan merintih ketika dibawah sana semakin cepat menusuk miliknya yang semakin berkedut gatal.
"Emph.." Alena meleguh ketika bibir Bimo menyesap bibirnya bergantian lidah saling membelit dan mengulum membuat keduanya semakin bergairah.
Tangan Bimo tak tinggal diam, menyusuri setiap jengkal kulit mulus istrinya, dan berhenti ketika berada di buah dada Alena yang sudah menjadi favoritnya.
Jarinya meremat dan meremas daging mengkal nan padat itu, ibu jari dan telunjuknya bekerja memilin pucuk buah dada yang tegang mencuat.
Bibirnya terus saja mengeksplor setiap sudut lidah dan gigi Alena, tangannya bekerja memilin nipel yang sudah tegang.
"Engh.." Alena tak tahan dengan serangan yang Bimo lakukan di bawah sana, membuat gejolak dalam dirinya kian mendesak untuk keluar.
Bimo mengangkat wajahnya menatap istrinya yang begitu seksi di bawahnya medesaahh dan menggerang nikmat.
"Emph.." Bimo mengulum dan menyesap nippel Alena dengan gemas, tangan satunya meremas dan memilin buah dada yang menganggur.
Alena semakin dibuat tak berdaya dengan tubuh nya yang semakin bergejolak.
"Yank..aku.. Arghh Ouhg.." Alena mengerang keras ketika pelepasan pertama untuk dirinya.
__ADS_1
Napasnya memburu dengan mata terpejam, merasakan sensasi yang selalu membuatnya terbang melayang.
"you are mine forever." Bisik Bimo ditelinga Alena di sertai kecupan basah dan jilatan pada telinga Alena.
"Ahh.." Alena kembali mendessahh keras ketika tubuhnya dibalik tanpa melepas penyatuan di bawah sana.
"Emh..sshh..sayang Ouhg." Bimo merasakan sensasi yang begitu indah ketika miliknya melesak dalam hingga menyentuh *-**** Alena.
Tangannya meremat kedua bokong Alena yang putih, hingga nampak kemerahan karena sentuhan kasar tangannya.
"Emph..shh..yank aku." Alena menelungsupkan wajah nya di bantal, hingga erangan dan dessahhann nya tertahan.
"Sebentar sayang..engh." Bimo semakin menggerakkan tubuhnya kian brutal, ketika merasakan miliknya yang di cengkram erat di dalam sana.
"Uhh..shh Sayang ahh." Semakin tak bisa terkendali Bimo menghentakkan miliknya kuat dan dalam hingga ketiga kali miliknya menyembur hangat di dalam rahim istrinya.
"Arghh..Ale.." Bimo menggerang kuat menyebut wanita yang dibawahnya sama-sama meneriakkan namanya.
Alena mengatur napas yang masih berkejaran, dirinya bermandikan peluh di pagi hari karena ulah suaminya yang juga Ia sukai.
"Yank..emh." Alena bergerak tak nyaman ketika milik Bimo masih berada dalam miliknya dan terasa mengganjal.
"Jangan bergerak sayang, kalau tidak dia akan bangun lagi." Ucap Bimo dengan menyusuri bahu istrinya yang polos dan basah oleh keringat.
"Minggir Bim..engh." Alena Ingin menyingkir namun tubuhnya dipeluk erat oleh tangan kekar Bimo.
"Sebentar lagi." Bukanya menyingkir Bimo malah mengeratkan pelukannya dan menggerakkan pinggulnya pelan.
"Yankk.." Rengek Alena dengan suara lemah, dirinya masih lelah namun jika seperti ini besar kemungkinan suaminya akan menerkamnya lagi.
__ADS_1
Dan benar saja belum ada sepuluh menit ruangan itu kembali di penuhi dessahann dan erangan keduanya yang mengejar kembali hasrat yang begitu memabukkan.
Seakan tidak pernah lelah, tubuh istrinya adalah candu baginya Bimo menyukai semua yang Alena miliki. Dirinya tidak akan pernah melepas istrinya apapun yang terjadi.
.
.
.
"Sudah siap?" Bimo mendaratkan kecupan di leher istrinya.
"Ck..stop Bim." Alena mendorong kepala suaminya agar menyingkir.
"Kenapa hm." Tanpa rasa bersalah, malah bertanya dan memeluk tubuh Alena dari belakang.
Alena masih cemberut dirinya duduk di depan cermin untuk merapikan penampilannya.
"Sudah cukup, jejak yang kamu buat." Ucapnya kesal, namun malah membuat Bimo melebarkan senyumnya.
"Aku suka melihat tanda itu, membuat mu semakin seksi." Suara Bimo terdengar sensual ditelinga Alena, membuatnya meremang.
Setelah bercinta keduanya memutuskan untuk membersihkan diri bersama, ingat hanya membersihkan diri tidak ada hal lain, karena Alena sudah tidak kuat untuk melakukan itu lagi setelah dua ronde tanpa jeda waktu untuk istirahat.
Alena kesal ketika berada di depan cermin leher sampai dadanya penuh dengan tanda merah, dan alhasil sirinya harus menutupi bekas yang Bimo buat agar tak terlihat, karena hari ini mereka akan menemui kedua orang tua Bimo.
Bagaimana perasaan Alena?
Tentu saja gugup dan takut, takut jika dirinya tidak diterima oleh kedua orang tua Bimo, karena yang Alena tahu, suaminya sudah dijodohkan oleh wanita lain.
__ADS_1
"Ayo kita pergi." Bimo menggandeng Alena untuk keluar kamar. Dan pergi ke rumah kedua orang tuanya.