
Bugh
Bimo menjatuhkan tubuh Alena di ranjang kamar pribadinya.
Alena menatap takut, kepalanya bergerak melihat tempat asing berupa kamar yang lumayan luas.
"Ba-bapak mau apa?" Alena bergerak mundur ketika Bimo melepas kancing kemejanya satu persatu.
Melihat hal itu membuat Alena semakin ketakutan dengan mata berkaca-kaca.
Bimo yang melihat wajah ketakutan Alena tidak perduli meskipun mata gadis itu sudah berkaca-kaca.
Berjalan mendekati Alena yang sedang ketakutan.
Cup
"Untuk hukuman memanggil bapak satu kali."
Cup
"Kedua kali."
Ketika Bimo mendekatkan lagi wajahnya, buru-buru Alena menutup mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
Cup
Bimo mengecup kening Alena lama, menyalurkan rasa yang begitu besar dalam hatinya.
deg
deg
deg
Jantung Alena kian bertalu-talu untuk pertama kali Bimo mencium keningnya.
Bimo menatap manik coklat Alena lekat, bola mata yang begitu dirinya sukai ketika memancarkan binar bahagia.
Keduanya sama-sama saling bertatap, Alena bisa melihat wajah tampan Bimo begitu dekat.
Alena diam membeku, mendengar ucapan bosnya. "Katakan Ale, meskipun kamu harus berbohong." Wajah Bimo begitu membuat Alena terasa sesak, bagaiman tidak. Jika wajah yang biasanya menyebalkan kini menjadi raut wajah berharap dan memelas.
"Aku...?" Alena bingung harus menjawab apa, meskipun dirinya juga tahu jika hatinya sudah berpaling dari tunangannya. Namun untuk mengatakan jika dirinya memiliki perasaan yang sama tidak mungkin juga dirinya akan berterus terang.
Tangan Bimo menyentuh wajah Alena. "Katakan jika kamu memiliki perasaan padaku, maka aku akan berjuang untuk perasaan itu."
"Meskipun kamu mempunyai pria lain, aku tidak perduli jika perasaan kamu sudah untuk ku."
__ADS_1
Alena menatap lekat mata Bimo mencari kejujuran dari mata pria yang tanpa sadar sudah memiliki nama di hatinya.
Alena menelan ludah melihat ketulusan dan kejujuran dari mata pria yang berada didepanya.
"Alena.." Panggilan Bimo membuat Alena tersadar dan menunduk.
"Katakan...Alena." Kepalanya Ia jatuhkan dipundak Alena dengan suara berat dirinya berkata. "Cukup sekali aku kehilangan orang yang aku cintai, beri aku jawaban Ale, agar aku bisa merasakan memperjuangkan cinta yang aku miliki."
Mendengar ucapan Bimo membuat Alena tak tega, hatinya merasakan sesak mendengar ucapan Bimo. Pria dingin dan cuek ternyata memiliki sisi lain yang baru dirinya tahu.
Tangan Alena terulur untuk menyentuh kepala Bimo yang berada di pundaknya, tidak dipungkiri dirinya merasa sedih mendengar ucapan Bimo.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa?" Alena mengelus rambut Bimo pelan. "Aku sudah bertunangan dengan pria lain...tapi aku juga tidak tahu kenapa memiliki perasaan kepada pria lain juga." Ucapnya dengan nada pelan.
Bimo menegakkan kepalanya menatap wajah Alena.
"Aku..." Alena menyentuh wajah Bimo, menatap wajah yang juga sering hadir dalam pikiranya.
"Aku juga memiliki perasaan yang sama." Bibir Bimo nampak tersenyum. "Tapi aku tidak bisa membuat mereka kecewa karena perasaanku, mereka terlalu baik untuk ku dan Alisa, Maaf jika aku harus memendam perasaan ini, aku tidak bisa melukai mereka." Air mata Alena jatuh seketika.
Bimo tersenyum mendengar ucapan Alena, dirinya sudah tahu perasaan gadis itu." Dengar.." Kedua tangannya menangkup wajah Alena. "Kamu akan tetap menjalani hidup mu dengan mereka seperti biasa tidak akan ada yang berubah, aku..aku yang akan berjuang untukmu." Bimo mengecup kening Alena.
"Terima kasih sudah menjawab seperti yang aku mau." Kening keduanya menyatu."Cinta kamu alasan aku untuk berjuang Alena." Jarinya menghapus air mata di wajah Alena dengan kening masih saling menyatu.
__ADS_1
Entah siapa yang memulai duluan kini bibir mereka sudah saling menempel.