
Seperti yang di ucapkan Bimo, Alena mengikuti apa yang membuat pria itu begitu yakin dengan perkataannya tentang Diki.
"Kamu kenapa hm.." Bimo mengelus punggung tangan Alena.
Kini keduanya berada di dalam mobil menuju apartemen Diki.
Bimo kembali menjemput Alena jam delapan malam, karena dirinya pulang dulu ke apartemen untuk membersihkan diri. Alisa pun di titipkan kepada mbak Mirna.
Alena menoleh dan menggeleng, dirinya tidak tahu harus bagaimana jika yang Bimo ucapkan benar. Apalagi melihat perlakuan Diki dan keluarganya selama ini baik padanya.
"Jangan berpikir terlalu keras, jalani saja apa yang ada di depan mata." Ucap Bimo yang melihat Alena seperti orang yang banyak pikiran.
Sebenarnya dirinya juga tidak tega, namun Ia juga tidak mau wanitanya di permainkan. Katakanlah disini yang salah dirinya mencintai gadis yang sudah menjadi tunangan orang lain. Tapi hati dan perasaan tidak ada yang tahu jika akan berlabuh kepada siapa, dan Bimo berharap perasaanya kali ini akan dia dapatkan.
Tiga puluh lima menit mobil mewah Bimo sampai di parkiran apartemen yang memang letaknya seberang jalan dari apartemen milik Bimo.
"Kamu siap?" Bimo tersenyum dan mengelus pucuk kepala Alena, gadis itu diam saja semenjak di perjalanan.
__ADS_1
Bimo keluar di ikuti Alena, disana sudah ada Yuda yang menunggu di lobby.
Yuda sudah memastikan jika kedua orang itu berada di apartemen yang sama, yaitu Mega dan Diki.
"Bagaimana?" Tanya Bimo yang melihat Yuda duduk di sofa tunggu lobby apartemen.
"Beres, mereka berdua ada disana." Ucap Yuda yang sudah memastikan.
"Oke.." Bimo menatap Alena yang sejak tadi hanya diam. "Jangan tegang sayang, belum saatnya." Bimo mengelus pipi Alena demi mengurangi rasa tegang Alena yang begitu ketara.
"Ck. ditempat umum aja sempat-sempatnya bikin baper." Yuda malas melihat ke uwuan manusia didepannya itu, tidak tahu apa kalau dirinya jomblo.
Bimo mengantar Alena menaiki lift menuju lantai dimana unit apartemen Mega berada, Dirinya terlihat santai namun tidak dengan Alena yang sudah merasa ketakutan akan sesuatu.
"Kamar nomor 256." Ucap Bimo yang sudah berdiri di pintu unit kamar milik Mega.
Alena menatap pintu yang masih tertutup rapat itu dengan perasaan berdebar.
__ADS_1
"Kuatkan diri kamu, mungkin pemandangan didalam akan membuat hatimu sakit." Ucap Bimo.
Meskipun begitu Alena hanya mengangguk saja. Entah mengapa rasanya berat sekali hanya untuk bicara sepatah kata.
Bimo menekan tombol password yang sudah di retas lebih dulu oleh Yuda. Dirinya hanya mengikuti petunjuk dari Yuda.
Perkara mudah bagi Yuda untuk mengetahui password yang dipakai oleh Mega, karena meretas adalah keahlian Yuda.
Tak lama bunyi pintu terbuka, tangan Bimo membuka pintu yang sudah tak terkunci itu.
Perlahan dengan perasaan berdebar Bimo membuka lebar pintu itu.
Alena sesaat hanya memejamkan mata sebelum melihat apa yang terjadi di dalam.
Alena masuk setelah mendapat anggukan dari Bimo, bisa Alena lihat sedang apa tunangannya itu di dalam sana.
"Sayang...!!" Ucap Diki yang terkejut karena Alena datang ke apartemen Mega.
__ADS_1
Alena menatap Diki dan orang yang ada di sana dengan perasaan campur aduk.