
Satu bulan Sena telah menjadi atasan kepala bagian di produk pengemasan, dirinya juga membuat program baru untuk data-data bagian pengemasan produk. Dan itu memudahkan dirinya dan anak buah nya yang terdiri dari tiga orang, mereka membatu Sena membuat laporan.
"Bu, anda di panggil ke ruangan pak Yuda." Ucap Umi salah satu anak buah Sena.
"Baiklah.."
Sena memang berada di ruangan itu sendiri, karena ketiga anak buahnya berada di lain ruangan.
Keluar dari ruang kerjanya, matanya tak sengaja melihat pria yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya, entah hanya kebetulan atau di sengaja, tapi pria yang bernama Rian itu selalu terlihat di matanya.
Sena kembali berjalan menuju ruangan Yuda, tumben sekali Om nya itu memanggilnya, karena biasanya Kemal yang akan datang ke ruangannya untuk memberikan laporan ataupun sejenisnya.
Rian menoleh kebelakang dan dirinya melihat punggung Sena berjalan menjauh entah mau kemana.
Tersenyum tipis Rian kembali ke pekerjaanya.
Akhir-akhir ini dirinya memang sering membuntuti Sena, bahkan Rian tahu jam berapa Sena yang biasanya pergi untuk mencari makan malam di tempat mereka bertemu untuk kedua kali, dimana dirinya yang mendapat tonjokan dari gadis itu.
Rian yang tidak pernah penasaran dengan wanita, kini justru dia terlihat selalu mendekat, apalagi sampai membuntuti seorang Biana Sena yang notabennya gadis dingin dan cuek.
Jika gadis lain akan menunjukan sikap manis dan menggodanya, lain jika terjadi pada Sena, gadis itu malah seperti alergi atau menghindar dari pria.
Ceklek
"Ada apa, Om memanggilku."
Ucap Sena setelah mengetuk pintu dan masuk. Yuda menatap Sena dengan senyum.
"Sini Nak, Ada klien yang ingin bertemu dengan mu." Ucap Yuda, menyuruh Sena untuk mendekatinya.
Sena mendekat dan berdiri di samping Yuda, dirinya melihat pria yang sudah berumur tapi masih terlihat gagah dan tampan di usianya yang menua.
"Ini pemilik asli pabrik ini tuan Lewis." Ucap Yuda memperkenalkan Sena.
Pria tua itu menatap wajah Sena dengan senyum di bibir yang sedikit keriput, tapi senyum pria itu masih terlihat manis.
"Kenalkan Nak, saya Alex Lewis." Pria bernama Alex Lewis itu mengulurkan tangannya.
"Sena Sir,.Biana Sena Bagaskara." Ucap Sena tegas dengan bibir tersenyum tipis.
Alex Lewis mengangguk. "Saya ingin bekerja sama di pabrik ini, karena kebetulan saya juga membuka cabang tidak jauh dari sini dan pabrik cabang itu mengelola makanan ringan." Ucap Alex Lewis, mengutarakan maksud kedatangannya dan ingin menjalin kerja sama di pabrik minuman yang sudah Ia cari tahu kemajuan dan cara mereka membuat mengemas dan memasarkan, hingga pabrik yang baru itu kini sudah lumayan besar.
"Sen, Om sudah pelajari berkasnya. Karena sudah ada kamu jadi Om harus meminta pendapat kamu." Ucap Yuda memberikan berkas yang sudah Dia baca dan periksa, Yuda yang tahu jika sepak terjang nama Lewis, sudah mendunia, tapi entah kenapa malah ingin bekerja sama dengan pabrik milik sahabatnya itu yang terbilang masih baru, walaupun sudah berkembang lebih besar tapi setidaknya perusahaan besar milik keluarga Lewis bisa mencari perusahaan besar juga untuk menjalin kerja sama, contohnya Bagaskara Grub.
"Pelajari saja dulu, nanti kita bisa bicarakan hasilnya." Ucap tuna Alex Lewis.
"Baik lah tuan, saya akan pelajari dulu, nanti kami akan melakukan pertemuan dengan anda kembali." Sena tersenyum ramah, dirinya teringat Opa Rendy di Jakarta ketika melihat tuan Alex Lewis.
"Jangan panggil Tuan, itu terlalu formal untuk gadis cantik, muda sepertimu, panggil saja Kakek atau Opa." Tuan Alex tersenyum dan menepuk pundak Sena.
__ADS_1
"Terima kasih kakek." Sena menunduk hormat.
"Terima kasih atas kunjungan anda tuan Alex." Yuda menjabat tangan Tuan Alex Lewis.
"Sama-sama, berikan kabar secepatnya, agar kita bisa makan bersama."
"Baik tuan." Mereka mengantar Tuan Alex dan asisten keluar dari pabrik.
"Sepertinya dia bukan orang sembarangan Om?" Tanya Sena pada Yuda, ketika keduanya sudah berada di ruang kerja Yuda kembali.
"Kamu benar, keluarga Lewis adalah nama besar di Eropa, bahkan bisnisnya sudah hampir mendunia." Yuda menjelaskan siapa di balik nama Lewis itu.
"Nanti akan Om tanyakan dengan papamu, sekarang kamu pelajari berkas kerja sama itu, jika kamu setuju kita akan adakan pertemuan kembali."
Sena hanya mengangguk, dan pamit kembali ke ruang kerjanya.
.
.
.
"Ah sial, kenapa bisa kena paku sih." Sena yang berniat ingin ke kedai untuk makan malam di sana, mendadak motornya bocor kena paku di tengah jalan. "Pasti di sengaja." Kepalanya menoleh kanan kiri, siapa tahu ada seseorang yang sengaja menyebarkan paku di tengah jalan.
"Mana lagi sepi lagi." Sena yang kesal pun mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi kemal.
Tapi karena tidak melihat jika dari belakang ada orang mendekatinya alhasil Sena pun di bungkam hidungnya menggunakan sapu tangan.
Mereka pun pergi setelah memasukan Sena ke dalam mobil, dan yang lain membersihkan paku yang berserakan di jalan, karena mereka dengan sengaja menebar, agar target bisa di tangkap.
"Lah cewek cantik kayak gini, pantesan bos muda terpesona." Ucap pria yang duduk di samping Sena, yang sudah tak sadarkan diri.
"Baru tau kalau si bos tuan, naksir cewek, biasanya paling anti." Ucap si teman satunya, yang duduk di samping supir.
"Bakalan kelabakan dia pasti nyari nih cewek."
Dan mereka pun tertawa, membayangkan bagaimana reaksi orang yang mereka pastikan akan murka dan marah-marah.
.
.
Rian menyambar jaketnya dengan cepat, ketika jam sudah menunjukan pukul tujuh lewat. Seperti biasa dirinya akan menunggu Sena di tempat biasa wanita itu mencari makan malam.
Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, Rian yang seperti di kejar hantu, tapi anehnya bibir pria itu malah mengembangkan senyum.
"Duh, jantung gue." Gumamnya dengan senyum di balik helm yang Ia kenakan.
Entah mengapa jantung nya menjadi berdebar tak karuan ketika pikiranya akan bertemu Sena sebentar lagi.
__ADS_1
"Jangan bilang gue beneran naksir tuh cewek dingin."
Dengan tidak sabaran Rian menarik gas motornya lebih dalam, agar cepat sampai sebelum Sena datang lebih dulu.
"Eh, den Rian lagi, tumben datangnya lebih cepat." Ucap mang Juki penjual makanan di tenda yang biasa Sena datangi.
Rian turun dari motor setelah melepas helm nya.
"Biar lebih lama disininya mang." Ucapnya yang langsung duduk di kursi yang biasa Sena duduki.
"Si eneng teh belum datang atuh Den." Ucap Juki yang tahu maksud Rian datang, karena akhir-akhir ini selain makan Rian juga menunggu Sena.
Rian mengulas senyum. "Ah, si mamang mah bisa aja, saya mau makan, bukan nunggu si Sena."
"Si Aden mah, mamang kan gak nyebut nama, tapi sepertinya Aden sudah kenal sama si Eneng."
Rian menggaruk kepalanya, dirinya keceplosan menyebut nama Sena.
Tak lama makanan yang biasa Rian pesan sudah terhidang di depannya. Matanya sejak tadi memperhatikan jalan yang biasa Sena lewati, tapi sudah satu jam dirinya menunggu di sana Sena tak muncul juga.
Mendadak hatinya gundah, 'Apa terjadi sesuatu'
Karena menunggu lebih satu jam Sena tidak muncul, akhirnya Rian memesankan makanan yang biasa Sena makan, niatnya ingin mengantarkan ke apartemen Sena sekalian melihat gadis itu apa baik-baik saja.
Sepuluh menit Rian sampai di basemen apartemen Sena, tapi melihat kesekeliling motor gadis itu tidak ada.
Tring
Bunyi pesan masuk di ponselnya.
Rian menekan pesan yang dikirim berbentuk gambar.
"Sialan..!!"
Umpatnya kasar, ketika melihat foto Sena yang pingsan dalam keadaan tubuhnya terikat.
Datanglah jika ingin wanita ini selamat.
Tangannya meremas ponsel miliknya dengan kuat, dadanya bergemuruh melihat pesan yang dikirim oleh nomor baru itu.
"Kalian tidak akan selamat..!!"
.
.
Emak nya imut, manis.. kalau si Sena udah wanita kekinian yang modis..🤣
BIANA SENA BAGASKARA
__ADS_1