Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Kehancuran hidupnya


__ADS_3

Alexa menatap kosong kedepan, merasa marah pada diri sendiri yang tidak bisa menjaga diri.


Ingatannya kembali pada peristiwa beberapa jam lalu, pria arogan itu sudah merenggut hal yang berharga dalam dirinya, hal satu-satunya yang bisa Ia banggakan jika menikah dengan pria yang kita cintai sudah direnggut paksa oleh nya.


Alexa pikir semua itu hanya mimpi, tapi ketika dirinya terbangun di hadapannya adalah sebuah kenyataan yang begitu pahit.


Hidupnya sudah tak lagi sempurna, dirinya sekarang sudah hina dan tak berguna.


Air matanya perlahan jatuh ke pipi, sesakit inikah yang dia rasakan, lebih sakit dari pada dihianati.


#Flashback


Setelah Ren tertidur pulas, Alexa bangun dan mencoba lepas dari dekapan tubuh kekar Ren, setelah berhasil Alexa ke kamar mandi yang berada di dalam sana untuk membersihkan milikinya yang terdapat bercak darah kering. Dan untuk pertama kalinya Alexa merasakan perih dan juga sakit di bagian miliknya, berjalan pun dirinya merasa kesulitan.


Keluar kamar mandi Alexa mendapati kemejanya yang sudah robek dan tak bisa dipakai lagi, terpaksa dirinya memakai kemeja putih Ren untuk Ia kenakan, tidak peduli jika pria brengsek itu akan mencarinya, yang jelas Alexa ingin segera pergi dari tempat menyedihkan ini.


Karena masih di jam sibuknya kerja, beruntung Alexa tidak bertemu dengan karyawan lain, yang pasti akan melihatnya aneh.


Dengan perasaan kacau Alexa menunggu taksi di halte, dirinya tidak membawa apa-apa tas dan ponselnya pun tertinggal di ruangannya saat dirinya menemui Ren.


#Flashback of


Ren menatap ranjang tempat tidurnya yang masih acak-acakan, bahkan noda merah di sprei putih itu terlihat jelas dan sudah mengering. Dan ketika dirinya membuka mata Alexa sudah tidak ada diruangan itu, pasti gadis itu sudah pergi karena kemeja milik nya sudah tidak ada.


Mengusap wajahnya kasar, dirinya baru sadar jika sudah sangat keterlaluan pada Alex. Ini adalah kali pertama dirinya memperawani seorang gadis. Semoga saja dengan begini Alexa mau menerima dirinya, jika tidak dirinya akan tetap memaksa.


Jam kantor sudah waktunya pulang, Diaz sejak tadi merasa gelisah dan khawatir karena Alexa tidak terlihat sama sekali, bahkan tas dan ponselnya tertinggal.


"Gue samperin ke kos-an saja." Gumamnya dengan segera memasuki mobilnya, untuk mengembalikan tas Alexa dan melihat keadaan kekasihnya.


Setelah Diaz, Ren juga keluar dan segera masuk ke dalam mobilnya, dirinya ingin menemui Alexa dan bicara dengannya.


Kedua mobil itu saling beriringan dari jarak yang tidak lumayan dekat, hingga mobil Diaz yang lebih dulu sampai di depan kos-an Alexa.


Ren yang melihat sebuah mobil yang sepertinya tidak asing menghentikannya mobilnya sedikit jauh.


Bisa dirinya lihat jika Diaz lah yang datang ke kos-an Alexa.


"Ck, masih berani datang." Geramnya dengan kesal. Dia lebih memilih menunggu di dalam mobil dan melihat apa yang akan pria itu lakukan pada wanitanya.


"Maaf mas cari siap?" Tanya ibu kos yang melihat seorang pria berdiri di depan gerbang.


"Saya mencari Alexa Bu, saya temannya." Jawab Diaz dengan sopan.


Ibu kos yang berhijab dan memiliki tubuh sedikit subur itu, menatap Diaz sekilas.


"Ada perlu apa mas nya kemari, karena ini khusus kos anak perempuan jadi tidak sembarangan pria masuk." Ucapnya dengan memberi tahu Diaz.


"Sayang hanya ingin bertemu, dan mengembalikan barang milik Alexa yang tertinggal di kantor." Diaz memeprlihatkan tas Alexa yang dia bawa.


"Baiklah tunggu sebentar saya panggilkan." Ibu itu membuka gembok gerbang, dan menyuruh Diaz untuk menunggu di sofa ruangan terbuka yang sudah di sediakan jika ada orang berkunjung atau menunggu seseorang.

__ADS_1


Diaz nampak duduk dengan gelisah, perasaanya menjadi tidak enak ketika melihat Alexa berjalan dari jarak yang lumayan jauh.


Diaz melihat Alexa seperti tak biasanya, gadis itu kini terlihat kusut dan seperti banyak pikiran.


"Sayang, kamu baik-baik saja." Diaz segera menyambut Alexa dengan pelukan, gadis itu tak membalas pelukannya, hanya diam.


"Exa, apa terjadi sesuatu?" Diaz menyentuh kedua bahu Alexa dengan menatap mata Alexa yang kosong.


"Exa, katakan apa terjadi sesuatu." Karena tidak mendapat jawaban Diaz menguncang tubuh Alexa.


Rasa sesak seketika menjalar ketika melihat wanita yang di cintai nya tiba-tiba berubah pendiam. Tadi pagi Alexa baik-baik saja, dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Alexa hingga membuat gadis itu menghilang seharian.


"Kakak mengantarkan tasku?" Tanya Alexa dengan suara lemah, dan tanpa ekspresi.


"Iya, tapi katakan apa yang sudah terjadi padamu Exa, aku seharian mencari mu tapi kamu tidak ada di kantor." Diaz masih mencecar Alexa dengan pertanyaan yang sama, dirinya tidak bisa melihat Alexa seperti ini dadanya terasa sesak.


"Tidak apa kak, aku baik-baik saja, sebaiknya kakak pulang." Alexa mengambil tasnya dari tangan Diaz.


"Kenapa kamu menjadi seperti ini sayang, kenapa? katakan padaku?" Belum mendapat jawaban Diaz masih terus mencecar.


"Lebih baik kakak pulang, dan jangan temui aku lagi." Setelah mengatakan itu Alexa tanpa ekspresi meninggalkan Diaz yang sudah menatap sendu Alexa dengan sesak di dadanya.


"Exa, apa maksudnya Exa? aku tidak akan pergi sebelum kamu memberi tahu alasannya." Diaz berteriak karena Alexa sudah menjauh darinya.


Ini tidak tidak mungkin mereka baru sehari jadian dan apa yang Alexa katakan membuat Diaz bingung.


Masalah apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu, hingga membuat Alexa berubah.


Tatapan matanya tak sehangat sebelumnya, wajahnya tak ceria lagi, hanya ada tatapan kosong dan hampa yang kedua mata Alexa tunjukan.


Tapi Ren tidak tahu jika sesuatu terjadi pada Alexa, gadis itu berubah seratus delapan puluh derajat, dengan keadaanya yang sebelumnya.


.


.


Pagi hari Alexa bangun dengan wajah datar dan tanpa ekspresi, dirinya membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Rasanya dirinya tidak perlu lagi untuk pergi ke kantor, dirinya tidak sanggup lagi untuk menunjukan wajahnya di depan rekan kerjanya apalagi didepan Diaz.


Hidupnya telah hancur oleh pria yang sama sekali dirinya benci, jika dirinya bisa memutar waktu kembali Alexa memilih tidak ingin dipertemukan dengan pria brengsek itu.


Setelah naik taksi beberapa menit akhirnya dirinya sampai di sebuah tanah hamparan luas, yang terdiri dari banyaknya batu nisan tertanam.


Alexa berjalan menuju tempat pembaringan sang ibu, disana dirinya ingin bercerita.


Mata Alexa berkaca-kaca melihat gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama sang ibu, Tiara Akselia adalah nama ibunya.


"Ibu.." Alexa menangis tersedu-sedu, sejak semalam dirinya menahan rasa yang begitu menyesakkan dadanya, rasanya Alexa tidak sanggup untuk melanjutkan hidupnya.


Harga dirinya sudah hancur, hidupnya ikut hancur oleh kesalahan yang pria itu lakukan. Dirinya tidak tahu lagi akan seperti apa kehidupan kedepannya.


"Maafkan Alexa Bu, Alexa tidak bisa menjaga diri Alexa sendiri, Alexa bukan lagi wanita baik-baik Bu, Alexa sudah kotor." Isak tangis Alexa terdengar memilukan membuat siapa pun orang yang mendengarnya akan ikut sedih.

__ADS_1


Alexa menumpahkan semua yang dia rasakan, rasanya lebih baik dirinya ikut bersama dengan ibu nya jika tahu kehidupannya akan seperti ini.


Ren menunggu Alexa di dalam ruangannya, dirinya sudah meminta Angel untuk menyuruh Alexa datang keruanganya, tapi sudah lebih dari tiga puluh menit orang yang dia tunggu tidak juga datang.


Dengan gusar Ren berdiri dan menghampiri meja sekertaris nya. "Kenapa Alexa tidak datang keruangan saya?" Tanyanya pada Angel yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Angel langsung berdiri. "Maaf pak, mbak Alexa nya hari ini tidak masuk kerja." Jawab Angel dengan menunduk, dirinya lupa menyampaikan karena banyak kerjaan.


Tanpa menjawab Ren berbalik kembali masuk keruangan nya, dan tak lama pria itu kembali keluar.


"Kenapa dia." Gumam Angel yang melihat wajah atasannya seperti kesal.


Ren mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dirinya ingin menemui Alexa di tempat kosnya.


Tidak peduli jika kos itu adalah kos khusus wanita dan tidak bisa sembarang orang masuk, lebih baik dirinya membawa Alexa ke apartemen nya.


Mobilnya berhenti perlahan, ketika lampu merah menyala. Dan mobilnya berada di barisan paling depan.


Ketika menatap ke depan dirinya melihat seorang wanita yang ingin menyebrang, tapi wanita itu tidak melihat jika lampu akan berubah hijau, itu tandanya kendaraan yang berhenti akan segara jalan. Dan Ren begitu terkejut melihat wanita itu adalah Alexa.


"Alexa.." Dengan cepat Ren keluar dari dalam mobil, dirinya berlari untuk mengejar Alexa yang sudah menyebrang tepat di saat lampu berubah hijau.


"Alexa..!!"


Tiinnnn...tiinnn...tiinn...


Bunyi klakson mobil terus berbunyi dan bersahut-sahutan, Alexa yang tiba-tiba kaget berteriak histeris di tengah jalan dengan menutup kedua telinganya dan memejamkan mata.


"Alexa..!!" Jantung Ren rasanya ingin lepas dari tempatnya ketika sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Alexa, beruntung supir itu mengerem tepat.


"Alexa, apa yang kamu lakukan..!!" Ren membentak Alexa, dan menuntun tubuh bergetar itu ke pinggir jalan. "Tunggu disini sebentar, aku parkir kan mobilku dulu." Ren meninggalkan Alexa sebentar karena di jalurnya lampu hijau sudah menyala dan mengakibatkan mobil di belakang nya tidak sabaran dan saling menghidupkan klakson.


Setelah memarkirkan mobilnya ke sisi jalan, Ren kembali berlari menghampiri Alexa yang masih duduk dengan memeluk kedua lututnya, dengan menunduk.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Ren yang khawatir menyentuh tubuh Alexa memeriksa jika ada yang terluka.


"Kenapa kamu tidak melihat rambu-rambu, apa yang kamu pikirkan sampai berjalan ketika lampu sudah hijau, apa kamu ingin mati.?!" Ucap Ren dengan nada membentak, apa Alexa tidak tahu jika dirinya khawatir bahkan jantungnya seperti ingin lepas dari tempatnya ketika melihat wanitanya berjalan di tengah jalan.


Melihat Alexa yang tidak merespon dan diam saja membuat Ren merasa bersalah. "Maaf, bukan maksud ku untuk membentak mu." Ren memeluk tubuh Alexa yang masih dalam posisi sama, memeluk kedua kaki nya sendiri.


"Katakan sesuatu Alexa, jika kamu baik-baik saja." Ren melonggarkan pelukannya dan memundurkan bahu Alexa agar gadis itu melihatnya.


Deg


Dada Ren mencolos hatinya terasa perih ketika menatap kedua mata Alexa, tatapan mata itu kosong tanpa kehidupan dan arah tujuan.


"Alexa, hey..."Ren menepuk pipi Alexa. "Jangan membuatku takut, katakan sesuatu." Suara Ren tercekat dan bergetar hatinya lebih sakit melihat keadaan Alexa seperti ini.


"Lexa, sayang...tolong bicara padaku." Ren masih menangkup wajah Alexa, tatapan Alexa mengarah padanya, tapi tatapan itu kosong tidak menggambarkan perasaanya.


Air mata Ren tak terasa menetes, dada begitu sesak, apa yang sudah dia lakukan pada Alexa.

__ADS_1


"Alexa.. maafkan aku." Ren memeluk Alexa dengan perasaan bersalah, sedih dan bercampur kecewa pada dirinya sendiri. "Maafkan aku sayang, tolong jangan menjadi seperti ini." Ren menagis memeluk Alexa.


Hatinya hancur melihat wanita yang dia cintai, terpuruk dengan keadaan.


__ADS_2