
Bimo pulang kerumah larut malam, dirinya yang harus menyelesaikan pekerjaan yang akan Ia tinggalkan Minggu depan, karena dirinya ingin liburan bulan madu dengan istrinya cukup lama.
Masuk kedalam rumah sudah nampak sepi bahkan lampu-lampu rumah sudah padam hanya lampu luar yang menyala, kakinya melangkah menuju tangga di mana kamarnya berada, setelah pulang makan siang dengan Mamanya dirinya belum sama sekali melihat keberadaan Alena bahkan pesannya hanya di balas dengan singkat tidak seperti biasanya.
Awalnya dirinya kesal karena Alena meninggalkannya di cafe dan memilih pergi bersama temanya dan entah siapa yang Siera maksud, namun dirinya yang masih berpikir menggunakan logika Bimo ingat jika Alena tidak pernah dekat dengan pria apalagi memiliki teman pria selain mantan tunangannya yang sekarang berada di rumah sakit jiwa.
Membuka pintu kamar dengan penampilan kemeja di gulung hingga siku dan kancing baju teratas sudah dia buka, bisa Bimo lihat jika istrinya sudah terlelap di bawah selimut tebal dengan nyenyak.
Menaruh jas dan tas kerjanya Bimo mendekati Alena Bimo mengecup kening Alena lalu masuk ke kamar mandi.
Lima belas menit dirinya meyelesaikan ritual mandinya, keluar dengan hanya menggunakan handuk di bagian bawahnya, Bimo melihat Alena yang sudah duduk di atas ranjang.
"Kamu bangun." mendekat dengan mengusap rambut basahnya menggunakan handuk kecil Bimo langsung duduk di depan Alena.
"Aku bantu." Alena meraih handuk yang Bimo pegang, dengan senang hati dirinya memberikannya.
Alena memakai kaus oblong milik suaminya yang kebesaran di bandanya sehingga membuat bahu mulusnya terekspose karena kerah baju itu longgar.
Cup
Bimo mengecup bahu Alena yang terbuka karena posisi mereka saling berhadapan dan kepala Bimo menunduk sedikit.
"Kenapa pergi tanpa menungguku."
Alena masih diam tangannya bergerak untuk mengeringkan rambut suaminya.
"Emph." Alena bergumam ketika bibir Bimo kembali mengecup bahunya diikuti sedikit sesapan.
__ADS_1
"Maaf, kalau membuatmu marah dan khawatir." Ucap Alena yang menyudahi gerakannya.
Kini keduanya saling berhadapan menatap wajah satu sama lain, dan entah mengapa keduanya merasakan jantung nya berdebar-debar meskipun bukan hal baru dan pertama kali.
Tangan Bimo terulur untuk mengelus wajah istrinya. "Apapun yang terjadi bicaralah denganku, tidak baik menyimpan semua sendiri apalagi sampai membuat hatimu terluka." Ucapan Bimo membuat Alena bungkam.
"Katakan jika kamu tidak baik-baik saja." Bimo menatap lekat mata coklat istrinya dengan dalam, tersirat rasa kesedihan yang terpendam.
"Maaf jika Mama belum bisa menerima pernikahan kita, jangan menyerah kita berjuang bersama untuk mendapat restu Mama." Tangannya meraih kedua tangan Alena dan mengecupnya.
Mata Alena berkaca-kaca, dirinya tidak menyangka jika Bimo akan berkata demikian kepadanya, Alena pikir Bimo tidak akan pernah tahu perbuatan Mamanya padanya.
"Janji jangan pernah menyerah untuk berjuang bersama." Bimo menyatukan keningnya pada kening Alena, tangannya mengelus pipi Alena.
"Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran mu, yang aku tau kamu adalah wanita ku yang paling aku cintai." Mata keduanya menatap dengan lekat, menyalurkan rasa yang sama dalam diri masing-masing.
Alena menjauhkan kepalanya dan berdiri menuju lemari pakaian untuk mengambil baju ganti suaminya.
"Pakai dulu nanti kami kedinginan." Ucap Alena yang berdiri didepan Bimo, menyerahkan satu setel pakaian tidur suaminya.
"Em, pakaikan." Ucap Bimo dengan wajah manja.
Alena tersenyum, tangannya meraih kaus dan membantu memakaikannya di tubuh suaminya.
"Ini pakai sendiri." Alena menyerahkan celana pendek nya.
"Tidak mau sekalian." Seringai tipis muncul di bibirnya.
__ADS_1
"Jangan lupa tadi siang berakhir seperti apa? dan kali ini aku tidak mau membantu mu." Alena menatap Bimo malas, melihat wajah mesum suaminya.
"Ck. Tamu kamu lama banget sayang, aku dua hari sudah membuatku pusing." Bimo meraih celana yang Alena pegang berdiri lalu memakainya di depan Alena yang menutup matanya rapat.
"Ck. kamu saja tidak bisa tahan jika melihat singkong premium Ku" Bimo hanya tersenyum melihat istrinya yang menutup matanya rapat.
"Isss...jangan mulai, nanti kamu sendiri yang rugi." Alena perlahan membuka matanya, dan Bimo sudah selesai memakai celana nya.
"Sudah makan?" Tanya Alena yang baru saja menaruh handuk yang Bimo pakai ke keranjang baju.
"Sudah." Ucapnya yang merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Alena ikut naik dan merebahkan tubuhnya di samping suaminya lengan Bimo sebagai bantalan kepalanya.
"Semua persiapan kamu sudah di urus oleh Daniel, jadi kamu hanya perlu persiapkan diri kamu saja." Bimo mengelus kepala Alena.
Telunjuk jari Alena bermain di dada bidang suaminya membuat pola abstrak yang dia sukai.
"Dan pastikan tamu kamu benar-benar sudah pergi." Bimo menghela napas kasar, membuat Alena tersenyum sendiri.
Bayangan wajah suaminya yang frustasi untuk pertama kali karena tamu bulannya.
"Tidak usah menertawakan ku." Ucap Bimo yang melihat Alena tersenyum sendiri.
"Iss..kau itu menyebalkan." Alena memukul dada suaminya pelan.
"Karena di bawah tidak bisa, makan sebagai gantinya_"
__ADS_1