Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part61


__ADS_3

Mirna beserta sang suami menunggu Alisa di depan ruangan operasi sudah satu jam ruangan yang tertutup dan lampunya masih menyala tak kunjung mati.


Alisa masuk ruang operasi pukul enam pagi, dan Alena belum juga datang.


Mirna sempat mengirim pesan pada Bimo menanyakan keberadaan Alena, namun juga belum mendapat balasan karena pesan nya belum juga terbaca.


setelah dua jam menunggu akhirnya Mirna bernapas lega, melihat pintu ruang operasi di buka dan dokter keluar bersama beberapa perawat yang mendorong tempat tidur Alisa.


"Bagaimana dok?" Tanya Mirna dan suami yang khawatir.


"Operasinya berjalan lancar." Dokter itu membenarkan letak kacamatanya, dan tersenyum.


"Alhamdullilah terimakasih Tuhan." Mirna dan suami berpelukan.


Mereka mengucap syukur dan senang mendengar operasinya lancar.


Kini Alisa sudah berada di kamar VVIP, berbeda dari sebelum nya yang Alisa tempati.


"Mas, Alena kemana? kenapa belum datang juga." Mirna duduk di samping ranjang Alisa, gadis itu belum sadarkan diri setelah menjalani operasi karena masih terkena efek obat bius.


"Mungkin sedang bersama Bimo, kita tunggu saja mereka." Ucap Fandi.


"Aku tidak menyangka jika Bimo memberikan perawatan sebagus ini pada Alisa." Ucap Mirna yang mengamati ruangan kelas mahal itu, yang seperti kamar hotel.


"Karena dia orang kaya Bu, kita berdoa saja yang terbaik untuk mereka." Ucap Fandi yang memang tahu, jika Bimo pria kaya dan tampan itu menyukai dan mencintai Alena.

__ADS_1


.


.


Ditempat lain, tepatnya di Apartemen dua manusia yang masih nyenyak memejamkan mata tidak perduli jika mata haru sudah menampakan sinarnya sejak tadi.


Alena yang merasa nyaman dalam tidurnya pun enggan untuk membuka mata.


Bimo yang sebenernya sejak tadi sudah bangun juga malam untuk beranjak dari ranjang yang membuatnya malas untuk bergerak, tangan nya malah kembali mengeratkan pelukannya pada pinggang seseorang yang sejak semalam menemaninya.


Meskipun Ingan Alisa, namun pemandangan di sampingnya sayang sekali jika dilewatkan terlalu cepat.


Apalagi Alena yang terlihat begitu nyaman dalam pelukannya yang wajahnya terbenam didadanya, gadis itu sama sekali tidak terusik, padahal sudah jam enam lewat.


Tangan Bimo menyentuh wajah Alena yang polos terlihat sangat cantik, apalagi bibir tipis yang begitu menggoda nya. Jarinya mengelus bibir bawah Alena, hingga kepalanya menunduk dan meraih bibir ranum itu.


Cup


"Engh.." Alena meleguh ketika merasa tidurnya terganggu, apalagi merasakan bibir nya yang seperti di sesap terasa lembut.


Bimo memundurkan wajah nya, menatap mata Alena yang perlahan terbuka.


"Sudah bangun." Ibu jarinya mengelus pipi Alena.


Alena terpaku, matanya tak lepas menatap wajah yang begitu tampan di depan wajahnya.

__ADS_1


Cup


"Ucapan selamat lagi." Bimo mengecup bibir Alena sekilas, karena gemas melihat wajah bengong Alena bangun tidur.


Sadar Alena pun segera duduk. "Kenapa aku disini? dan..ini.?" Alena nampak masih bingung, melihat dirinya yang berada satu ranjang dengan Bimo.


"Memangnya kamu mau dimana, diluar tidur seperti orang gila." Ucap Bimo dengan wajah datar.


Mata Alena mendelik. "Kamu mengataiku gila?" Ucap Alena tak terima. Dirinya melupakan sesuatu, yaitu tujuannya mendatangi apartemen Bimo.


"Tidak." Ucap Bimo menggeleng.


"Mau kemana?" Bimo menarik pinggang Alena ketika gadis itu ingin beranjak.


"Lepas.." Alena mencoba menyingkirkan tangan Bimo dari pinggangnya, karena merasa jantung nya kembali tidak sehat.


Bimo terlalu mempesona di pagi ini, meskipun baru bangun tidur, namun mampu membuat jantung Alena menjadi tidak sehat seperti ingin keluar.


.


.


Satu bab di hari libur...😘😘😘


Brettt aku meleleh..😭

__ADS_1



__ADS_2