Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

"Bagaiman kak, ada kesulitan?" Tanya Kemal ketika berjalan keluar dari pabrik menuju di mana tempat mobilnya parkir.


"Tidak, hanya ada beberapa laporan yang harus di benahi, dan itu masih bisa aku atasi." Sena berbicara tanpa melihat wajah Kemal.


Meski begitu Kemal tidak tersinggung, karena dia sudah tahu bagaimana sifat cuek Sena pada orang sekitar. Karena di balik itu Sena yang Kemal kenal salain pintar Sena juga memiliki hati yang lembut dan baik, hanya saja sifat cuek dan acuhnya itu mungkin adalah benteng untung melindungi dirinya.


"Aku yakin kakak bisa mengatasi itu." Kemal tersenyum, dan membukakan pintu mobil ketika untuk Sena.


"Terima kasih." Sena tersenyum tipis.


Sena menganggap Kemal sama seperti Ren adiknya sendiri.


Karyawan yang melihat kedekatan keduanya pun mulai berbisik-bisik dan menggosip. Sudah menjadi tradisi dan makanan sehari-hari jika para pekerja wanita suka menggosip, apalagi melihat Sena wanita yang begitu cantik dan modis, sudah pasti banyak membuat mereka merasa iri.


"Wah..saingan lu berat War." Ucap seseorang yang berdiri di samping gadis yang menatap tidak suka melihat pria incaran nya dekat dengan wanita yang baru menjadi kepala bagian.


"Duh, kalah saing lu War, kalah banyak malah." Teman satunya lagi mengompori, membuat gadis itu kesal.


"Berisik kalian semua." Mawar, menghentakkan kakinya dan meninggalkan kedua temanya yang bingung.


"Panas dia RI."


"Hooh."


.


.


"Terima kasih atas kerja samanya, semoga proyek kita akan berhasil." Kedua pria berbeda kewarganegaraan itu saling jabat tangan.


Ren selalu menampilkan senyum, ketika klien dari Jerman itu menyetujui untuk bekerja sama dengan perusahaanya.


"Sama-sama sir."


Mereka berbicara menggunakan bahasa asing. Bimo menepuk punggung putranya, setelah klien nya itu pergi dan mendapatkan kontrak kerja sama.


"Papa bangga sama kamu Ren." Pria yang tak lagi muda itu tersenyum bangga.


"Semua berkat papa, papa yang udah didik Ren menjadi seperti ini." Ren pun memeluk sang papa.

__ADS_1


"Hanya ini yang papa bisa lakukan untuk kalian nak." Bimo mengelus punggung putranya, putra yang dia besar kan dengan kedua tangannya sendiri, meskipun di dampingi pengasuh, Bimo bertanggung jawab merawat mereka.


Ketika masih bayi, Bimo menjaga mereka di malam hari, rasa lelah setelah seharian bekerja tak membuatnya merasa letih untuk merawat kedua anak nya, perannya seorang ayah Ia lakukan di malam hari, dimana semalaman Ia menjaga si kembar, dari membuatkan susu, menggantikan popok, dan terjaga di tengah malam hanya untuk memberi kembar susu.


Rasa lelahnya menguar begitu saja ketika melihat dua malaikat kecil nya yang tumbuh dengan baik dan sehat.


Suatu malam dirinya merasa terpukul di mana putrinya mendadak panas hingga membuatnya panik, putrinya terus menangis tidak mau berhenti, di saat itu hatinya mulai hancur dadanya begitu sesak melihat putrinya yang sakit.


Meskipun sudah di tangani dokter Sena kecil panasnya tidak mau turun hingga tiga hari, dan di Bimo pun seperti orang yang kehilangan jiwanya melihat putri kecilnya tertancap jarum infus di tangan mungilnya.


Sakit dan sesak, menggambarkan bagaimana dirinya merasa hancur, melihat buah hatinya menderita tanpa adanya ibu di sampingnya.


.


.


"Hay Kak..!!" Suara Ren begitu nyaring ketika Sena mengangkat panggilan, dan terpampang wajah tengil Ren yang membuat Sena sebal. mereka melakukan panggilan video call.


"Mana papa?" Suara datar Sena membuat Ren mendelik.


"Aku yang telpon kakak, kenapa malah tanya papa.." Ren memasang wajah kesal, padahal Bimo di depannya sedang meminum kopi di siang hari.


"Karena kamu sudah kakak lihat." Ucap Sena santai.


"Dih mentang-mentang udah jadi karyawan pabrik." Ren menggerutu sebal.


Sena hanya mendelik ke arah layar ponselnya yang menampakan wajah kesal Ren.


"Malam sayang.." Bimo tersenyum melihat wajah putrinya yang sepertinya baru selesai mandi, karena kepala Sena masih di lilit handuk.


"Hai Pah, apa kabar, bagaimana pekerjaan hari ini lancar?" Ucap Sena rondom ketika melihat wajah cinta pertamanya itu.


"Seharusnya kakak tanya sama aku, bukan papa.." Terdengar suara Ren yang menyahuti, tapi batang hidung nya tak terlihat.


"Lancar sayang, Ren berhasil menyakinkan klien nya untuk bekerja sama."


"Selamat kalau begitu.." Sena tersenyum senang.


"Papa dengar kamu masuk pabrik, dan memilih menjadi kepala bagian divisi pengemasan, kenapa sayang?" Tanya Bimo yang mendapat laporan dari Yuda jika putrinya memilih bekerja di bagian pengemasan ketimbang menjadi direktur, dan identitas Sena pun juga di sembunyikan, tidak menggunakan nama belakang Bagaskara.

__ADS_1


"Tidak apa Pah, Sena hanya ingin belajar mulai dari bawah, sebenarnya Sena ingin ikut menjadi buruh saja, tapi Om Yuda tidak mengijinkan." Ucapnya cemberut.


"Kamu ada-ada saja, mana biasa Yuda biarin kamu menjadi buruh pabrik, yang sda dia nanti papa penggal lehernya." Bimo terkekeh.


"Nah, itu sama yang dikatakan om Yuda."


Dan mereka pun masih asyik mengobrol panjang lebar, hingga Ren menyudahi panggilannya, karena ingin bertemu dengan klien lagi.


"Duh kok laper sih." Sena melihat jam di dinding dan ternyata sudah lewat jam delapan, kerena asik mengobrol dirinya lupa belum makan malam.


Menyambar switer di dalam lemari, Sena segera memakinya dan keluar apartemen untuk mencari makan malam, tidak jauh dari apartemen nya tinggal banyak penjual yang berjejer di pinggir jalan.


Karena dekat, Sena hanya berjalan kaki, dan tidak menggunakan motor nya, yang sore tadi batu di antar oleh orang yang Yuda suruh, sebenarnya Sena sudah disiapkan mobil, tapi dirinya malah meminta motor untuk transportasi nya pulang pergi pabrik.


"Pak persen bebek goreng sama nasi ya, di bungkus." Ucap Sena pada penjual.


"Muhun, neng antosan sakedap ya.." Jawab penjual itu ramah, Sena hanya tersenyum tipis dan duduk di kursi yang kosong, karena kebetulan tenda yang dia datangi cukup ramai.


"Mang, biasa ya buat saya, jangan pedas." Ucap seorang pria yang baru saja tiba. Penampilan pria itu seperti preman acak-acakan, kaus hitam menggunakan jaket levis, celana yang digunakan nya pun sobek di bagian lutut.


Sena menunduk karena sedang melihat gawai nya, membalas pesan dari papanya dan juga Yuda, yang menanyakan sudah makan belum.


Prang


Karena menunduk dan sedikit menghalangi jalan, tak sengaja ada orang yang menyenggol ponselnya dan terjatuh ke bawah yang berdasar batu paping.


"Aduh, pake nyenggol lagi."Suara pria terdengar panik. Segera pria itu mengambil ponsel yang terlempar itu melihatnya ada yang rusak tidak.


"Untung aja, gak ada yang retak."


Sena pun mendongak, ketika ponselnya sudah di ambil oleh orang yang tidak di kenalnya.


"Maaf nona saya tidak_"


Kedua matanya Sena melotot ketika melihat siapa yang sudah menjatuhkan ponselnya.


"Crazy man..!!" Sena mendelik tajam, menatap pria itu penuh dendam.


"What..? that woman again." Ucap pria itu yang juga terkejut melihat wajah wanita yang sudah dia paksa berciuman di dalam toilet beberapa hari lalu, dan beruntung karena wanita itu dia bisa lolos dari kejaran orang yang mencarinya.

__ADS_1


__ADS_2