Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part97


__ADS_3

Hari ini Diki resmi keluar dari tahanan setelah Bimo mengijinkan Diki untuk dipindahkan ke tempat rehabilitasi rumah sakit khusus gangguan mental, dan itupun atas kesepakatan sang istri.


Di tempat rehabilitasi pun Diki mendapat penjagaan karena Bimo sendiri yang meminta pada pihak rumah sakit untuk menaruh salah satu anak buahnya menjaga ruangan yang Diki tempati. Karena dalam hati kecilnya Bimo tidak yakin jika pria itu tidak akan berbuat macam-macam dan balas dendam mengingat dirinya yang membuat Diki menjadi seperti itu.


.


.


Bimo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, dan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


"Aku bantu Mas." Alena mendekat dan meraih handuk yang di pegang suaminya. "Gak sampe." Ucapnya sambil merengek, tinggi Alena memang hanya sebatas dada Bimo.


"Eh.." Tangan Alena reflek memegangi pundak Bimo.


Bimo mengangkat tubuh Alena dan mendudukkannya di atas meja rias, dia pun duduk di kursi menghadap sang istri.


"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu." tanya Alena ketika mata suaminya tak lepas menatapnya intens.


"Tidak boleh menatap wajah istri sendiri." Ucap Bimo yang masih menatap wajah istrinya lekat.


"Tapi aku jadi salting kalau kamu ngeliatin aku kaya gitu." Ucap Alena yang memang merasa kikuk dan jantung nya berdebar-debar. Padahal mereka hampir satu bulan menikah namun jantung kerap kali berdebar kencang ketika di tatap intens suaminya.


Bimo tersenyum dirinya pun demikian terkadang merasakan hal yang sama.


"Sudah." Alena tersenyum senang. "Tunggu di sini aku ambilkan bajunya dulu."


Alena sedikit meloncat untuk turun dari atas meja, berjalan ke sisi ranjang untuk mengambil pakaian yang sudah Ia siapkan untuk sang suami.


"Nih, buruan gih ganti baju, aku siapkan sarapannya." Alena menyodorkan kemeja dan celana panjang, lengkap beserta pakaian dalam suaminya.


"Tidak mau membantu untuk memakaikannya?" Bukanya menerima baju yang istrinya sodorkan, malah meminta yang lain.


"Emm...Ya udah Mas pakai itu dulu gih." Ucap Alena sedikit kikuk, meskipun setiap hari melihat tubuh polos suaminya Alena masih punya rasa malu.


Bimo terkekeh, dirinya tahu jika istrinya merasa malu. Berdiri mengambil pakaian dalam yang di bawakan Alena.

__ADS_1


"Aakh." Alena langsung menutup kedua matanya. "Kenapa dilepas sih Mas."


"Kan kamu yang nyuruh aku pake ini sendiri yank." Ucap Bimo menyeringai melihat istrinya reflek menutup mata dengan jarinya yang sedikit membuka celah untuk mengintip.


"Tapikan gak harus didepan aku mas." Rengek Alena dengan bibir mengerucut.


"Udah sayang, buka mata kamu." Ucap Bimo santai.


Alena yang percaya pun langsung membuka matanya lebar-lebar.


"Bim-Bim..!!!"


Bugh


Alena memukul dada suaminya dan berlari keluar kamar, ternyata Bimo mengerjainya yang berdiri polos belum memakai apapun.


"Hahaha..." Bimo tertawa terpingkal-pingkal, istrinya sungguh aneh padahal mereka sudah melakukan hal lebih jauh dari hanya melihat, tapi tingkah Alena seperti gadis yang masih perawan.


.


.


Selamat pagi pak?


Bimo memasuki lobby kantor setelah menurunkan Alena di minimarket dekat kantor, selama masuk kerja dan status mereka sudah menikah Alena meminta Bimo menurunkannya didepan karena tidak ingin dilihat oleh karyawan lainya.


"Tuan ada metting dengan pemegang saham pembangunan proyek di kota S." Ucap Daniel yang sudah berdiri didepan meja kerja Bimo.


Bimo menatap Daniel heran, karena sebelumnya tidak ada agenda dengan para pemegang saham proyek di kota S. "Kamu tidak salah baca agenda saya."


Daniel menggeleng. "Saya baru mendapat laporan tadi pagi, bahwa investor terbesar pembangunan proyek di kota S ingin melalukan metting dadakan." Daniel juga merasa bingung kenapa tiba-tiba mendapat laporan seperti itu, karena yang dia tahu semua berjalan dengan lancar, bahkan pembangunan sudah sembilan puluh persen.


"Apa kamu tahu penyebab para pemegang saham mengajukan itu?"


"Kemungkinan ada seseorang yang memprovokasi mereka dan bisa jadi orang yang paling banyak berinvestasi di proyek itu." Ucap Daniel.

__ADS_1


"Apakah yang kamu maksud Tuan Richard." Bimo menebak ucapan Daniel.


"Kemungkinan bos."


Bimo menganggukkan kepalanya, jika benar semua terjadi karena Tuan Richard maka dirinya sudah pasti tahu masalahnya pasti karena putrinya.


"Baiklah kita siapkan semua berkas yang kita butuhkan."


Daniel pun keluar setelah berpamitan dan menyiapkan berkas yang bosnya inginkan.


"Halo.."


"Dimana Alena?" Tanya Bimo yang mendengar suara Gina dari pesawat telepon.


"Lena, bukanya dia tidak masuk hari ini bos?" Tanya Gina balik, karena memang Alena belum datang kekantor, Gina pikir Alena tidak masuk bekerja.


"Kamu jangan bercanda Gin." Suara Bimo terdengar tegas, tidak mungkin jika Alena belum datang, karena sudah satu jam dirinya sampai di kantor, dan Alena hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kantor.


"Buat apa saya bercanda bos, mana berani."


Tut..Tut..Tut..


"Lah, kok udah mati aja." Gina pun kembali menaruh telepon dan kembali bekerja.


"Ah..Shi***." Bimo mengumpat kesal, nomor ponsel Alena tidak aktif.


"Sayang, kamu dimana." Bimo juga mengirim pesan namun hanya centang satu, dan beberapa panggilan pun masih tetap sama tidak aktif.


"Ale..jangan bikin aku panik." Bimo berdiri mondar-mandir masih terus menghubungi nomor Alena dan hasilnya pun sama.


"Halo.." Ucapnya setelah sambungan telepon tersambung.


.


.

__ADS_1


Aku up bab ini dari jam sembilan malam loh gaess...tapi kok lulusnya lama bingits😭


__ADS_2