Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Welcome baby girl


__ADS_3

Birendra membawa sang Istri kerumah sakit dengan mobil dia sendiri yang mengemudi, pria yang akan menjadi ayah itu begitu senang bercampur tegang.


Senang karena twins akan lahir, tegang karena Alexa akan menghadapi persalinan dengan operasi Caesar.


"Mas kamu gugup." Alexa menatap Ren yang seperti gelisah, pria itu sejak tadi tidak bisa diam didalam ruangan observasi karena tiga puluh menit lagi adalah jadwal Alexa masuk keruang operasi.


"aku, aku baik-baik saja sayang." Ren menampilkan senyum, senyum untuk membuat sang Istri percaya.


Tapi kenyataanya dia memang benar-benar tengang dan juga panik.


"Tapi wajah kamu tidak bisa berbohong Mas." Alexa tersenyum.


Ren pun duduk di kursi samping Alexa, pria itu menggenggam tangan Alexa dan menciuminya.


"Em, aku hanya takut jika kamu merasakan sakit sayang." Ucap Ren dengan serius, dirinya mengkhawatirkan Alexa akan kesakitan mejalani operasi nanti.


"Kamu terlalu berlebihan Mas, percayalah jika kamu selalu disampingku, maka rasa sakitnya tidak akan terasa." Hibur Alexa dengan tertawa.


Ren yang seharusnya menghibur sang istri kini malah sebaliknya. Ren pun tersenyum. "Kamu memang wanita kuat." Kecupan di kening Ren sematkan, hingga dua orang perawat masuk dan membawa Alexa yang berbaring di atas ranjang masuk keruang operasi.


Ren pun selalu berada di samping sang istri untuk mendampingi hari spesial dan mendebarkan bagi keduanya.


Sedangkan diluar Bimo ditemani dengan Sena yang baru saja sampai dirumah sakit dan ternyata Alexa sudah dibawa masuk ke ruangan operasi.


"kita do'akan Alexa, semoga berjalan dengan lancar dan mereka semua selamat." Ucap Bimo yang duduk di kursi tunggu bersama Sena.


Tak Gesya datang dengan Diaz, wanita yang masih bau pengantin baru itu langsung datang ketika Alexa akan melahirkan keponakan kembarnya.


"Pak," Diaz menyapa Bimo.


"Bagaimana mbak?" Tanya Gesya pada Sena.


"Alexa baru saja masuk keruang operasi." Jawab Sena tersenyum.


Gesya mengangguk, meskipun bukan durinya yang mengalami, tapi Gesya juga merasa khawatir.


"Pak Ren ajak istri anda bicara agar tidak tidur." Ucap dokter wanita yang menangani Alexa.


Diruangan itu semua wanita hanya Ren yang laki-laki, karena memang dirinya tidak mengijinkan Istrinya di sentuh dokter pria ataupun perawat pria.


"Baik dok." Ren pun mengangguk, dirinya melihat bagaimana pisau itu di arahkan di perut bawah istrinya.


"Apa sakit?" Tanya Ren yang khawatir.

__ADS_1


"Em," Alexa menggeleng.


Sebelum melakukan pembedahan, dokter memberikan suntikan obat bius pada bagian separuh tubuh Alexa, dari dada sampai ujung kaki, dan saat ini kondisi Alexa sadar.


"Sayang, kamu tahu? aku dulu anak yang ceroboh dan jail, dan papa suka menghukunku." Ucap Ren mengajak Alexa bicara, seperti yang dokter katakan.


"Masa." Alexa terseyum, dirinya hanya merasakan bagian perutnya seperti dielus.


"Hm, sampai-sampai aku masuk sekolah taman kanak-kanak papa selalu mendapat panggilan datang ke sekolah."


Alexa tertawa pelan. "Kamu memang nakal Mas."


"Ya, karena itu aku tidak memiliki teman."


Ren ingat jika dulu ketika masuk sekolah taman kanak-kanak sampai sekolah dasar dirinya tidak bisa memiliki teman banyak. dirinya yang suka jahil tidak ada teman yang mau mendekat. Hingga dirinya remaja terpaksa Ren berpenampilan sederhana hingga tidak ada wanita yang tertarik kepadanya meskipun dia pintar. Karena saat itu Ren seperti pemuda culun dan kutu buku.


"Jadi sejak dulu kamu tidak pernah memiliki pacar?" Tanya Alexa yang mendengarkan cerita suaminya.


Ren menggeleng. "Hanya sebatas kagum, tidak dengan jatuh cinta."


Oekk..oekk..


Ren pun mendingak ketika mendengar suara tangis bayi yang melengkin.


"Selamat pak bayinya perempuan." Ucap sang dokter membuat Ren bersyukur.


Oekk..oekk..


"Perempuan lagi pak."


Ren semakin tergugu, kening keduanya menyatu dengan Isak tangis keduanya yang merasa bersyukur dan terharu.


"Mas, mereka perempuan." Ucap Alexa lirih dengan tangis dan senyum menjadi satu.


"Ya sayang, Tuhan mengabulkan doa ku."


Betapa bahagianya Ren ketika mendapat dua bayi perempuan sekaligus, dia menginginkan bayi perempuan dan kini Tuhan mengabulkan.


"Terima kasih sayang, kami wanita terhebatku." Ren menciumi wajah Alexa, ketika bayinya sedang dibersihkan oleh suster, dan dokter pun masih melakukan tugasnya sampai selesai.


Ceklek


Pintu ruang operasi terbuka, Ren muncul dengan wajah sembab dan tersenyum.

__ADS_1


"Pah.." Ren langsung memeluk papanya erat, menagis bahagia karena sekarang dirinya sudah menjadi seorang ayah.


"Selamat Nak, kamu sudah benar-benar menjadi seorang ayah." Bimo menepuk punggung Ren dalam dekapannya. Bahu Ren pun bergetar dirinya sangat bahagia dan mengucapkan syukur.


"Selamat Ren, twins A sudah punya adik." Sena memeluk adiknya.


"Terima kasih kak, setelah ini kakak pasti lebih memilih mengurus twin B dari pada A." Ucap Ren membuat Sena tidak mengerti.


"Alexa melahirkan bayi kembar perempuan." Ucap Ren terseyum didepan Sena.


"Apa?" Mata Sena memebeliak lebar, sedetik kemudian bibirnya membentuk senyum lebar.


"Akhirnya barang-barang yang aku beli kini sudah ada pemiliknya." Sena begitu senang, mendengar jika Alexa melahirkan bayi perempuan, karena dulu Sena menginginkan bayi perempuan dan lahirlah twins A, dua bayi laki-laki.


Bimo ikut tersenyum, dirinya tidak menyangka akan memiliki empat cucu kembar yang akan menemani masa tuanya dirumah, dan sekarang dirinya benar-benar bahagia.


"pak selamat." Diaz mendekati Ren dan memeluknya.


"Terima kasih Diaz, semoga kalian cepat menyusul."


Diaz dan Gesya serempak mengucap aminn.


Alexa sudah dipindahkan di ruang inap, ruangan itu kini ramai dengan kehadiran kelaurga besar mereka, Buyut Lewis pun tidak mau ketinggalan, pria tua itu juga ingin melihat cicit dari adik cucu menantunya.


"Oh Tuhan, mereka sangat cantik dan imut." Sejak tadi Sena tidak berpindah tempat wanita itu sampai melupakan suaminya yang datang langsung dari kantor, bahkan Aaron juga membawa hadiah untuk twins.


"Sayang, apa hanya mereka yang menarik dimatamu." Aaron memeluk pinggang Sena dari samping, pria itu juga menatap kedua bayi cantik dan imut yang sedang terlelap.


"Lihat Ar, mereka lucu sekali." Sena memperlihatkan ekspresi gemas membuat Aaron tersenyum.


"Kami ingin memilikinya?" Tanya Aaron menatap Sena dari samping.


"Em, aku mau Ar, apa kita asuh mereka saja." Wajah sena berbinar.


"Kenapa harus mengasuh, aku saja yang membuatnya untukmu." Aaron tersenyum menyeringai, membuat Sena menatap Aaron kesal.


"A Masih kecil Ar, jangan macam-macam." Ancam Sena dengan wajah garang.


"Lalu apa bedanya kamu mau mengasuh mereka sedangkan kamu tidak ingin A memiliki adik." Tanya Aaron dengan mata memincing.


"Ya, ya beda karena siapa tahu adik A laki-laki dan bukan perempuan."


"Berarti kita belum beruntung, dan coba lagi."

__ADS_1


Aaron menaik turunkan alisnya, dengan kesal Sena menepak lengan suaminya.


"Itu sih mau kamu..!!"


__ADS_2