Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part63


__ADS_3

Kini di ruangan itu hanya ada Bimo, Alena dan Alisa yang sedang tidur siang. Mirna dan suami pulang untuk istirahat dan mengambil baju ganti untuk Alisa.


"Terimakasih." Ucap Alena tiba-tiba. "Terima kasih sudah membatu Alis." Ucapnya lagi menatap wajah Bimo.


Bimo hanya mengangguk dan tersenyum, mereka duduk di sofa berdampingan.


"Sini.." Bimo menepuk bagian sebelah nya duduk, karena Alena duduk sedikit lebih jauh darinya, Bimo memintanya mendekat.


"Apa?" tanya Alena polos.


"Sini sayang.." Ucapnya lagi.


Mendengar kata sayang dari Bimo, entah mengapa membuat Alena merasa senang sekaligus merona.


Alena mendekat meskipun ada rasa was-was karena Bimo terkadang suka bertindak yang membuatnya terkejut.


"Berterimakasih lah yang benar." katanya menatap wajah Alena.


"Maksudnya?" Alena menjadi bingung sendiri.


Bimo berdecak melihat tanggapan Alena yang begitu polos membuatnya kesal sekaligus gemas.


"Ini.." Bimo mengetuk pipinya pelan menggunakan jari telunjuknya.


"Hah.." Alena menelan ludah tahu maksud Bimo.


Selama ini memang Bimo yang selalu memulai duluan untuk mencium dirinya.


Bimo masih menunggu Alena untuk mau menciumnya.


Alena meremat harinya pelan, jantungnya berdebar ini adalah hal pertama dirinya mencium lebih dulu. Karena memang dirinya tidak pernah melakukan nya lebih dulu.

__ADS_1


Pelan Alena mendekatkan wajahnya ke arah pipi Bimo, meskipun dengan ragu dan malu Alena mau melakukanya.


Cup


Bimo menoleh dan segera menyambar bibir ranum Alena untuk di kecup, bahkan Melu*mat dan menyesap bibir yang sudah candunya itu.


Tangannya menekan tengkuk Alena agar ciuman mereka semakin dalam.


Memejamkan mata keduanya begitu menikmati cumbuan di bibir yang selalu berhasil membuat keduanya terlena.


"Apa kamu yakin Nak, jika ini ruangannya."


"Iya mah,m aku yakin."


Sayup-sayup Alena mendengar suara yang dirinya kenal diluar kamar.


"Emmph.." Alena mendorong dada Bimo untuk dilepaskan."


Jari Bimo menyentuh bibir Alena, untuk mengusap sisa Saliva yang tersisa. "Biarin." Wajah Bimo ingin kembali mendekat, namun mendengar pintu di buka membuatnya kembali mundur.


Alena segera menggeser duduknya.


"Ibu, Mas Diki." Alena segera berdiri dengan wajah melihat Diki.


"Sayang, apa yang terjadi pada Alis." Ibu Diki memeluk Alena dengan wajah sedih, beliau baru pulang dan langsung mendapat kabar jika Alisa dirawat karena kecelakaan.


"Sayang.." Diki mendekat dan langsung memeluk Alena, dirinya belum menyadari ada seseorang yang sedang duduk menatapnya tajam.


"Maaf mas baru tahu, maafkan mas sayang." Diki merasa bersalah, ketika kekasihnya sedih dirinya tidak ada untuk menemani.


Alena hanya diam tanpa menjawab ucapan Diki.

__ADS_1


Ehem


Bimo berdehem keras, untuk menyadarkan dua orang yang mungkin sedang berakting salah salah satunya.


Berdiri Bimo mendekati Alena.


"Kamu..!" Diki menatap tajam Bimo yang berada di dekat nya.


Bimo hanya menatap malas, wajah pria brengsek didepanya.


"Aku pulang, jika ada apa-apa kabari aku." Tangan Bimo mengelus pucuk kepala Alena, kepala nya mendekat ingin mencium kening Alena, namun sebuah pukulan lebih dulu yang dia terima.


Bugh


"Jangan sentuh milik gue." Diki menarik kerah baju Bimo dengan amarah.


"Mas..!!"


Diki..!"


Alena berteriak melihat Bimo yang dipukul.


Bimo melepas kasar cengkram tangan di kerah bajunya dengan menatap remeh Diki.


"Masih inget loe sama dia, ck. sepertinya loe kali ini gak akan lolos." Ucap Bimo sambil menepuk pundak Diki dengan senyum remeh, meskipun sudut bibirnya kembali memar.


Diki menatap Bimo sengit, dirinya hanya diam tanpa menjawab, meskipun tahu ucapan Bimo adalah sebuah ancaman.


"Bim.." Alena ingin mengejar Bimo, tapi ditahan oleh Diki.


"Mau kemana, aku merindukanmu." Ucap Diki tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2