
Bimo keluar dari kantornya hampir jam enam sore, dirinya baru ingat jika hari ini Alisa sedang berulang tahun.
Berjalan menuju basemen tempat mobilnya terparkir, Bimo berniat akan membelikan Alisa hadiah ulang tahun.
Empat puluh menit Bimo baru sampai di rumahnya, tepatnya rumah Alena yang telah ditinggalkan.
Bukan tanpa alasan Alena meninggalkan Alisa adik semata wayang nya itu pada Bimo, karena Alena yakin jika Bimo akan merawat dan membesarkan Alisa dengan layak, apalagi ada mbak Mirna yang sudah menganggap Alisa sebagai anaknya.
Alena berharap Alisa akan menjadi gadis yang pintar dan memiliki pendidikan tinggi dengan masa depan cerah, tidak seperti dirinya.
Meskipun berat meninggalkan Alisa, tapi demi kebahagian Alisa, Alena rela. Anggap saja Alisa pengobatan rindu untuk suaminya, karena Alisa sangat mirip dengan nya.
"Kakak..." Alisa berteriak memanggil Bimo ketika pria itu baru masuk setelah membuka pintu.
"Hey.." Bimo berjongkok ketika Alisa akan mendekatinya, sebelah tangannya Ia sembunyikan di belakang punggung.
"Alis..selamat ulang tahun ya, semoga Alis panjang umur dan sehat selalu." Bimo mengecup kening dan pipi Alisa.
__ADS_1
Alisa tersenyum lebar. "Kakak ingat hari ulang tahun Alisa."
Bimo tersenyum. "Tentu saja, karena kak Lena pernah kasih tau kakak." Senyum Bimo berubah masam ketika nama Alena di sebut.
Alisa yang melihat perubahan senyum di wajah kakak iparnya, tangan kecilnya terangkat untuk menangkup kedua pipi Bimo. "Kakak jangan sedih, Kak Lena pasti baik-baik saja, kak Lena pasti kembali untuk Alis dan kak Bimo." Alisa mencium pipi Bimo.
Mendapat ucapan sepeti itu dari Alisa membuat Bimo tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Iya sayang, Kak Lena pasti baik-baik saja, terima kasih sudah mau menemani kakak disini." Tangannya mengelus rambut Alisa.
"Kakak punya hadiah untuk Alisa." Bimo mengulurkan tangannya kepada Alisa terdapat sebuah paperbag.
"Iya dong, karena Alis sudah menjadi gadis kecil yang kuat jadi kakak kasih hadiah." Ucap Bimo dengan senyum.
"Terima kasih kak." Alisa berhamburan memeluk Bimo.
"Iya sayang," Bimo mengelus kepalanya dengan sayang.
Hanya Alisa yang bisa membuat senyum nya terukir karena wajah Alisa selaku mengingatkan nya pada Alena. Beruntung Alena tidak membawa Alisa, jika Ia dirinya pasti tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, karena Alisa lah Bimo masih bisa berpikir waras.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang Alisa bersiap-siap ya kakak ajak Alisa makan diluar."
"Asiikkk..."
"Ajak Ibu juga, kita semua akan makan diluar." Bimo berdiri dari jongkoknya.
"Siap..kakak..!"
Mirna yang sejak tadi menyaksikan interaksi mereka meneteskan air mata, dirinya tidak menyangka jika Alena tega meninggalkan mereka tanpa ada yang diberi tahu. Andai dirinya tahu pasti Mirna akan ikut kemanapun Alena pergi, tapi nyatanya semua penghuni rumah tidak tahu. Apalagi melihat Bimo yang begitu terpukul dan kesedihan selalu yang Mirna lihat di wajah Bimo setiap hari.
Senyum Bimo yang biasanya terukir, kini senyum itu hilang di gantikan wajah dingin, bahkan senyuman itu terlihat ketika hanya berinteraksi dengan Alisa.
"Mbak, tolong bantu Alisa bersiap, dan bilang sama mas Fandy kita semua akan pergi keluar." Ucapnya dengan wajah datar.
"Baik Mas." Mirna menganggukkan kepalanya dan tersenyum, meskipun hanya wajah datar dan dingin yang Bimo perlihatkan.
Bimo berlalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
__ADS_1