Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part47


__ADS_3

Yuda lebih dulu mengantar Alena ke rumah kontrakannya, karena dirinya juga harus mengantar Gina. Mengingat Yuda yang nebeng di mobil Bimo, alhasil dirinya yang menjadi driver.


"Gue anter Gina dulu, ntar gue jemput." Ucap Yuda kepada Bimo yang ikut turun.


"Hm.." Bimo hanya bergumam tanpa menjawab, dirinya menggendong Alisa yang tertidur.


"Ck. sama gue aja kaya kulkas seratus pintu, giliran sama ayang meleleh kaya keju asin." Yuda menggerutu, sedangkan Gina hanya terkikik.


"Alis tidur dimana?" Tanya Bimo yang sudah masuk setelah Alena.


"Biar aku saja." Alena ingin meraih Alisa dari gendongan Bimo, tapi ditolak.


"Tunjukan saja kamarnya." Ucapnya meminta Alena.


Alena sebenernya merasa malu jika Bimo harus masuk kedalam kamarnya, karena memang Alisa tidur bersama dirinya.


"Ale..dimana kamarnya." Ucapnya lagi yang tak mendapat jawaban.


"Eh.." Alena buru-buru berjalan menuju pintu kamarnya diikuti Bimo.


Merebahkan Alisa ditempat tidur, gadis kecil itu sama sekali tak terusik.


Bimo melihat kesekeliling kamar, tanpa bertanya dia tahu ini kamar Alena. Cukup rapi dan nyaman, meskipun sempit tapi nyaman.


"Eh..mau apa?" Alena kaget ketika pinggangnya ditarik dan menubruk dada bidang Bimo.


Keduanya saling bertatapan meskipun tidak ada sepatah kata pun, seakan menyalurkan rasa yang keduanya miliki lewat tatapan mata.


Cup


Bimo mengecup bibir Alena. "Love you."

__ADS_1


Cup


Kali ini bukan hanya kecupan melainkan sebuah luma*tan dan sesapan yang Bimo lakukan.


Alena mulai membalas cumbuan bibir Bimo yang sudah membuatnya terbiasa. Dada Alena terus berdebar ketika merasakan lembut bibir Bimo mencium bibirnya.


"Egh.." Alena mulai kehabisan napas karena Bimo begitu rakus dan menuntut.


Tangannya memukul dada bidang Bimo. "Hah..hah.. kamu mau membunuhku." Dengan napas tersengal Alena menatap kesal Bimo, yang selalu lupa jika dirinya juga harus bernapas.


Meskipun napasnya juga memburu, Bimo hanya tersenyum menanggapi ucapan Alena. "Belajar bernapas jika sedang berciuman." Ucapan Bimo sukses membuat mata Alena melotot.


"Dasar Bim-Bim nyebelin." Alena pergi meniggalkan Bimo.


Melihat Alena kesal Bimo malah tertawa.


.


.


.


"Loe gak tau kalau bos sama temen loe lagi pacaran, ogah gue disana cuma jadi obat nyamuk." Ucap Yuda malas.


"Ya tapikan kasian kalau si bos nungguin kamu?" Ucap Gina yang masih berdiri disamping Yuda.


"Ck. mending kamu buatin aku minum gih, dari pada cerewet." Ucap Yuda melirik Gina.


Gina kesal dikatai pria yang baru dikenalnya cerewet. "Orang mah nyuruh baik-baik bukanya ngatain." Mendengus kesal tak urung Gina pun masuk kedalam.


Yuda hanya tertawa, ternyata membuat Gina kesal juga menyenangkan.

__ADS_1


.


.


.


"Sini.." Ucapnya sambil menepuk sisi kosong disebelahnya.


"Apa?" Tanya Alena.


"Sini duduk, kaya lagi marahan aja duduk pake jauhan." Bimo menarik tangan Alena yang belum beranjak.


Alena menatap wajah Bimo dari samping, yang sedang asik dengan ponselnya.


"Katakan jika ada yang mengganggu pikiran kamu." Ucap Bimo yang sadar jika terus diperhatikan Alena.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Alena yang masih menatap wajah Bimo dari samping, karena pria itu masih asik dengan ponselnya.


"Hem.." Bimo hanya berdehem untuk menanggapi ucapan Alena.


"Benar kamu sudah di jodohkan?" Tanya Alena dengan suara lirih.


Dirinya masih teringat perkataan kedua orang tua Bimo ketika datang kekantor waktu itu, padahal pria itu baru saja mengutarakan perasaanya.


Bimo menaruh ponselnya di meja, bergeser untuk bisa menatap wajah gadis yang sudah berhasil mencuri hatinya.


"Ya, mereka ingin menjodohkan ku." Ucapnya tanpa bohong.


Mendengar itu membuat hati Alena sedih, namun dirinya juga tidak berhak untuk melarang. Bibir Alena tersenyum, senyum yang dipaksakan.


"Kalau begitu kita sama-sama sudah menemukan jodoh masing-masing." Ucap Alena dengan mata menatap wajah pria tampan di depannya.

__ADS_1


Meskipun hatinya terasa nyeri, sebisa mungkin dirinya tidak menunjukan rasa kecewa.


__ADS_2