
Semua yang mereka lalui belum ada apa-apa nya karena usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Pasti masih banyak masalah dan cobaan yang keduanya akan lalui di di masa mendatang.
Malam semakin merangkak naik, angin malam ini cukup kencang mungkin bertanda akan segera datang hujan.
Meskipun keadaan dingin karena angin yang begitu kencang, tidak membuat sepasang suami istri di dalam sana merasa dingin melainkan panas gelora yang kian membara.
Keduanya masih melakukan cumbuan di bibir dengan Alena yang sudah duduk di atas pangkuan Bimo posisinya duduk menyamping.
"Emphh.." Alena membalas lumattan yang dilakukan Bimo kedua matanya tertutup rapat untuk merasakan sapuan lembut yang sudah menjadi panas dan menuntut.
"Mas..ah." Alena meleguh ketika lehernya menjadi sasaran bibir Bimo, menyesap kulit putih itu hingga meninggalkan jejak keunguan.
Tangannya meremas kedua buah dada yang nampaknya mempunyai size yang lebih besar dari sebelumnya. Dan Bimo bertambah menyukai benda kenyal dan bulat itu.
"Kita ke kamar." Bimo membopong tubuh Alena.
"Aku berat ya..?" Tanya Alena, kedua tangannya melingkar di leher suaminya.
"Tidak, buktinya aku masih kuat menggendong mu." Ucap nya dengan suara parau, karena gejolak dirinya sudah di ubun-ubun.
Merebahkan tubuh Alena di atas ranjang, Bimo mencium perut buncit istrinya.
"Malam ini pertama kali papa jenguk kalian." Ucapnya dengan suara berat.
Alena memalingkan wajahnya merasa malu. Entah mengapa dirinya merasa baru pertama kali melakukanya.
"Kenapa sayang?" Bimo mulai membuka pakaian yang Ia kenakan, setelah berhasil melepas pakaian Alena.
"Em.." Alena hanya menggeleng, napas nya berhenti sesaat ketika matanya tak senagaj melihat milik suaminya yang sudah berdiri dengan gagahnya.
Menelan ludah kasar Alena menatap benda itu tak berkedip.
__ADS_1
"Merindukan nya heh." Ucap Bimo yang sudah berada di samping istrinya, Mensejajarkan wajah mereka.
Alena tak menjawab melainkan lebih dulu meraup bibir Bimo.
Dengan senang hati Bimo menyambut bibir istrinya, menyesap dan mellumat benda kenyal itu penuh napsu.
"Boleh aku melakukan nya?" Tanya nya sebelum memulai inti penyatuan mereka.
Alena mengangguk dengan wajah sayu. "Tapi pelan-pelan."
Bimo hanya tersenyum. "Pasti sayang aku akan pelan-pelan." Tidak menunggu lama Bimo menyuruh Alena untuk menungging karena perut nya yang besar dirinya lebih memilih posisi aman saat bercinta.
"Ahh..Mas.." Alena mencekram sprei dengan kuat, ketika miliknya terasa perih dan sakit.
"Maaf sayang, mungkin karena sudah lama di jenguk." Ucap Bimo dengan menggeram rendah karena miliknya benar-benar terasa sempit di dalam sana.
"Egh.." Alena meluguh dan mendessahh ketika Bimo menggerakkan pinggulnya pelan.
"Milikmu sempit sayang.. egh.." Tangan menyusuri punggung polos Alena sesekali kedua tangannya meremas di bokong Alena yang semakin padat.
"Mas aku..emph.." Alena merancau ketika Bimo semakin menusuk miliknya semakin cepat dan dalam.
"Ough..sayang ah.." Bimo tak kuasa menahan dessahannya ketika Alena mendapat pelepasan, membuat miliknya di cengkram dengar erat oleh dinding rahim Alena.
"Arghh.." Tubuh Alena bergetar dengan napas memburu, dada nya kembang kempis demi merasakan kenikmatan yang membuatnya terbang melayang.
Bimo menarik tubuh Alena, untuk berada di atas tubuhnya, kini Alena lah yang memimpin permainan mereka.
"Masukkan sayang." Bimo menatap wajah cantik istrinya yang berkeringat di atas tubuhnya. Alena yang semakin terlihat cantik dan seksi, apalagi ketika perutnya besar seperti ini membuat Bimo semakin menyukai tubuh seksi istrinya.
"Ahh.." Keduanya mendessah bersama ketika merasakan penyatuan mereka sempurna.
__ADS_1
Tangan Bimo meremas kedua buah dada yang menggantung indah di depannya bergerak seirama dengan gerakan Alena yang naik turun.
"Ahh...Mas akuh.. arrgghh..." Alena menekan miliknya ke bawah dengan kuat ketika merasakan kedutan didalam miliknya yang semakin kuat untuk meledak.
Melihat itu Bimo semakin terpana, wajah panas Alena begitu mengairahkan apalagi dengan kulit yang mengkilap kerena keringat membuat Alena bertambah kali lipat terlihat seksi.
Bimo bersandar pada dinding ranjang, kini tangannya membantu pinggang Alena untuk bergerak, karena sepertinya Alena sudah merasa lelah setelah mendapat pelepasan kedua.
Bibirnya menyesap dan mengulum nippel Alena bergantian, sesekali menggigit nya kecil membuat Alena menggerang.
Suara erotis Alena bagai nada indah di telinganya membuat gairah nya kian berkobar dan semakin semangat.
"Mas aku..Uhh.." Alena meremas pundak Bimo ketika rasa sakit bercampur nikmat kembali membuat Kesadarannya berhamburan,
"Tahan sayang sebentar lagi..Ahh." Bimo semakin cepat menggerakkan pinggang Alena ketika miliknya semakin berkedut kuat ingin meledak.
Keduanya berpacu untuk mendapat pelepasan bersama hingga detik berikutnya kamar itu di penuhi dengan erangan keduanya yang bersahut-sahutan.
"Arghh.." Alena menyandarkan keningnya di pindah Bimo. Napasnya memburu tubuhnya terasa lemas dan lelah.
Bimo meraup rambut Alena yang setengah basah karena keringat.
"Apa aku menyakiti mereka..?" Tanyanya setelah merebahkan Alena di samping nya, posisinya miring dengan satu tangan untuk menopang kepalanya.
"Emm.." Alena bergumam dan menggelang matanya sudah tertutup, dirinya merasa lelah.
Cup
"Maaf sayang, semoga papa tidak menyakiti kalian di dalam sana."
Hatinya terlalu bahagia ketika berbicara dengan kedua anaknya, meskipun masih di dalam perut Alena tapi mampu membuat hatinya bergetar hangat.
__ADS_1
"Tidurlah..." Bimo mengecup kening Alena, membawa kedalam pelukannya dengan selimut tebal membungkus tubuh keduanya yang masih polos.
"Terima kasih sudah kembali hadir dalam hidup ku.." Bimo mengecup kepala Alena beberapa kali, perasannya benar-benar membuncah bahagia.