
Alexa bersama teman-temanya memilih cafe yang dekat dengan kantor, selain menghemat waktu disana juga disana juga tempat yang lumayan berkelas. Sehingga banyak pengusaha yang sering datang kesana untuk janji temu.
Mereka semua bertujuh, karena Diaz kebetulan mau ikut setelah Alexa mengajaknya apalagi mereka ramai-ramai membuat Diaz tidak keberatan.
"Wah, kita benar-benar makan besar nih." Raut wajah Mita begitu senang ketika semua hidangan lengkap sudah tersaji di atas meja besar mereka.
Karena mereka beramai-ramai, jadi Alexa meminta pelayan untuk menggabungkan empat meja menjadi satu, agar mereka bisa duduk bersama tanpa pisah-pisah.
"Gak rugi kita punya teman istri bos gini, busettt makan- makanya gak tanggung-tanggung." Ucap Budi rekan pria yang sudah berkeluarga.
Budi terkenal pria yang irit, bukanya Budi yang mengatur keuangannya melainkan isterinya yang memang sangat pelit, bahkan Budi juga sering bercerita jika sedang makan bersama di kantin, dan mereka hanya memberi support dan terkadang saling mengejeknya.
"Ya, makalah yang banyak pasti kamu tidak pernah kan di masakan makanan seperti ini." Ledek Mita, Mita adalah wanita yang paling rame dan berani di antara yang lainnya.
"You know lah, aku hanya makan tahu tempe, paling banter ayam sama ikan laut, itupun tidak setiap hari." Ucap Budi dengan wajah pasrah, dirinya sudah biasa jika rekanya membulinya ataupun mengejeknya, dia tidak tersinggung sama sekali karena mereka tidak pernah memberi saran yang tidak baik, contohnya untuk mencari pengganti istri yang baru.
"Kalian semua bebas makan sepuasnya, jika kurang bisa tambah lagi." Ucap Alexa dengan tersenyum, membuat mereka semua bersorak.
"Selamat Exa, dan terima kasih sudah mentlaktir kami semua." Ucap Diaz yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.
__ADS_1
"Sama-sama kak." Alexa membalas dengan senyum, senyum yang Diaz sukai. Namun dirinya sadar jika wanita yang memiliki senyum manis itu sudah milik orang lain.
Mereka semua makan dengan tenang, meskipun ada kegaduhan kecil untuk menggoda Budi, tapi justru itu membuat suasana meja makan mereka menjadi hangat.
Di tempat lain, Ren selesai bertemu dengan klien yang mengadakan janji, dan bukan Ren namanya jika dirinya tidak berhasil membuahkan hasil.
Ternayata proyek besar yang di menangkan satu bulan lalu, berdampak baik pada perkembangan bisnisnya, banyak pengusaha-pengusaha yang ingin bekerja sama dengan perusahaan nya, dan menjadi investasi dana di proyek yang dia menangkan.
Setelah ini Ren akan mengajak sang istri untuk diner makan malam romantis.
"Baiklah Tuan, kami permisi dulu." Klien bernama Mr. Cris pamit pergi, setelah asistennya mengucapakan perpisahan.
"Ren, kamu disini?" Jihan tersenyum lebar ketika melihat pria yang masih dia kejar berada di restoran yang sama.
Ren hanya mengangguk tanpa ekspresi.
"Ya, ampun Ren aku merindukanmu." Jihan tiba-tiba memeluk Ren yang berdiri hendak pergi.
"Lepas." Ren mendorong sedikit tubuh Jihan yang memeluknya, dirinya risih. Entahlah setelah tahu sifat asli Jihan membuat Ren risih jika berdekatan.
__ADS_1
"Kenapa kamu berubah Ren, kamu bukan Ren yang dulu aku kenal." Ucap Jihan dengan wajah sedih.
"Ck, mau apa lagi sih kamu, belum cukup ucapanku tempo lalu." Ren menatap tajam Jihan.
"Tapi Ren aku masih mencintaimu, aku masih ingin hubungan kita seperti dulu, dan mama, mama selalu menanyakan mu." Tutur Jihan dengan air mata yang jatuh.
Jujur semenjak Ren pergi, Jihan harus kembali banting tulang untuk pengobatan ibunya. Dan Jihan melakoni pekerjaanya seperti sebelum bertemu Ren.
"Cinta, tapi sayang aku tidak punya cinta untuk wanita seperti mu." Ren meninggalkan Jihan yang memanggilnya dengan Isak tangis, tapi Ren tidak peduli dan tetap melangkah pergi.
Dan perdebatan mereka di saksikan seseorang yang tersenyum menyeringai. "Gue punya mainan baru." Ucapnya tersenyum licik.
.
.
Jangan lupa mampir bestiie😂
Like,.komen fav❤️ ke rak baca kalian yaa...😘😘😘
__ADS_1