Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part156


__ADS_3

Setelah membungkam mulut para gadis labil itu, kini Bimo mengajak Alena untuk memakan eskrim yang dia inginkan di cafe yang pernah dulu Alena datangi bersama Bimo.


Dan kini enam buah mangkuk eskrim beraneka rasa dan toping tersaji didepan Alena.


Matanya berbinar, Air liur nya berasa ingin jatuh menetes. "Duh aku jadi bingung yank, mau makan yang mana dulu?" Alena nampak menimang-nimang mana dulu yang akan Ia makan, rasanya Ia ingin melahap semua secara bersamaan.


Bimo hanya terkekeh, hatinya menghangat ketika melihat istri tercintanya begitu menginginkan eskrim di depannya itu. "Semua boleh kamu makan sayang, tidak ada yang melarang." Ucapnya dengan mengambil satu mangkuk eskrim vanila coklat yang toping nya sama dengan eskrim Alena yang jatuh tadi. "Buka mulutnya.." Bimo menyodorkan satu sendok eskrim di depan bibir Alena.


Dengan senang hati Alena membuka mulutnya. "Eemm." Ekspresinya begitu menggemaskan ketika merasakan eskrim berada di dalam mulutnya.


Bimo tersenyum, istrinya itu selalu menggemaskan. Lalu dirinya sendiri memakan eskrim dengan sendok yang sama dengan yang di pakai Alena.


"Sumpah yank, ini rasanya enak banget.." Alena tak melunturkan senyumnya.


"Hem...kamu menyukai tempat ini?" Tanya Bimo yang ingat jika Alena begitu senang pertama datang kemari apalagi waktu dirinya mau di ajak foto Alena sangat bahagia.


"Suka, aku suka tempat ini, selain tempatnya yang bagus dan Instragramabel, pasti banyak anak muda yang menghabiskan waktu di sini." Ucap Alena melihat kesekeliling, dan memang banyak pengunjung dari kalangan anak muda dan remaja.


Bimo mengerutkan keningnya mendengar ucapan Alena yang terakhir. "Anak muda?" Beo Bimo menatap Alena tajam.


"Em..anak muda yang suka nongkrong, dan mereka pasti suka tempat ini." Alena tersenyum masam, dirinya menangkap raut wajah tak suka dari suaminya 'posesif.


"Hm.." Bimo hanya bergumam, tangannya selalu terampil menyuapi Alena eskrim.


Mereka meninggalkan kedua orang tua yang asik berbelanja, karena Bimo sudah memberi tahu jika dirinya akan mengajak Alena untuk makan eskrim, dan akan bertemu dirumah nanti.

__ADS_1


"Permisi Mas.." Ucap pelayan di cafe itu, menghampiri Bimo.


"Ya.." Bimo menoleh.


Alena meraih sendok yang di pegang Bimo dan memakan eskrim nya sendiri, karena merasa tidak sabaran menunggu suapan dari Bimo.


"Ada orang yang ingin bertemu Mas." Ucap pelayan wanita muda itu, karena mayoritas semua pelayan di cafe itu masih remaja yang susah mencari kerja, dan kurang beruntung dalam menuntut ilmu.


"Siapa mbak?" Tanya Bimo.


"Kurang tau Mas."


"Yasudah suruh kesini saja, saya lagi menemani istri saya." Suruh Bimo dan pelayan itu pun pergi setelah menunduk hormat.


"Hm..mungkin karena aku masih muda." Ucapnya seadanya.


"Woy...bos..!!" Seru Jingga dari belakang dengan menepuk punggung Bimo.


"Aje gilee.. pak ketu main nya sama Soleha." Ucap Guntur menimpali.


Ya mereka adalah Jingga dan Guntur sahabat masa sekolah Bimo dulu.


"Ck. Lu pada gue kira siapa.. cuma berdua aja." ketiganya mengulurkan tangan tis ala pria sejati.


"Lagi nungguin Resa, dan Raka katanya mau kesini, kangen kita suasana kek dulu lagi." Ucap Guntur sambil melirik Alena yang masih asik makan eskrim nya.

__ADS_1


"Bos, lu ngak kenalin kita sama onoh, mentang-mentang cantik dan Solehah." Ucap jingga mengedipkan matanya ke arah Alena.


"Mata loe Jing." Bimo mendelik ke arah Jingga.


"Ehh buset, posesifnya kagak ilang." Ucap Jingga melengos.


"Bini gue, berani lu." Ucap Bimo tersenyum miring.


"What??


"Lu kapan merid bos, kagak undang-undang udah punya bini aja." Ucap Jingga ngegas. Pria labil itu memang tidak bisa di rem suaranya, walaupun begitu Kiki Mariki begitu bucin dengan Jingga.


"Udah mau setahun." Ucap Bimo santai. "Sayang kenalin sahabat aku waktu sekolah dulu." Ucap Bimo memperkenalkan pada Alena.


Alena hanya mengangguk dan tersenyum.


"Alena.." Ucapnya mengulurkan tangan, tapi langsung di tarik sama Bimo, ketika Guntur akan meraihnya. "Bukan muhrim, no pegang-pegang." Bimo menatap Guntur tajam.


"Astojim, dari dulu masih sama bree.." Guntur merangkul tangan Jingga.


"Hahaha.. Pak ketu kagak kaya lu, gledek..." Jingga tertawa. "Yang suka tebar pesona buat laku."


"Sialan Lu.." Guntur menoyor kepala Jingga.


Mereka saling lempar ledekan membuat Alena ikut tertawa.

__ADS_1


__ADS_2