
Bimo menatap Alena datar, tidak suka mendengar ucapan Alena.
Bimo berdiri mendekati Alena dan berhenti tepat didepan gadis itu.
"Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi." Ucap Bimo menyentuh wajah Alena.
"Sudah lah, jangan bahas masalah itu lagi, Hem." Alena mengambil gelas minuman yang sudah dia bawakan untuk Bimo. "Minumlah biar seger, jangan banyak minum kopi, kata Gina kamu sudah habis empat gelas." Ucap Alena panjang.
Bimo menerima gelas yang di kasih Alena, dan tersenyum. "Karena mikirin kamu aku jadi banyak minum kopi."
"Alasan.." Ucap Alena mencebik dan berjalan menuju sofa.
Bimo mengikuti langkah Alena yang duduk di sofa.
"Kenapa?" Tanya Bimo menatap Alena yang sepertinya memikirkan sesuatu. "Apa kamu sedang memikirkan ingin kabur dihari pernikahanmu besok." Tanya Bimo lagi.
Alena menatap Bimo sekilas, dan menggeleng. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah hari esok." Ucap Alena pelan.
Alena menghembuskan napas lelah, besok adalah hari pernikahannya namun kenapa tidak ada rasa bahagia sama sekali di hati nya.
Bimo merangkul bahu Alena untuk Ia bawa dalam dekapan nya. "Memikirkan apa? bukanya sebagai calon pengantin kamu seharusnya merasa senang." Ucap Bimo mengelus kepala Alena yang bersandar didadanya.
"Entahlah." tangan Alena melingkar di pinggang Bimo. "Aku malah lebih merasa senang jika seperti ini." Alena mengeratkan pelukannya di pinggang Bimo dengan mata terpejam.
Bimo mengulas senyum, dirinya merasa senang mendengar ucapan Alena. Ternyata seperti ini ketika mencintai dan dicintai seseorang.
"Kamu, ingin aku melakukan apa hm." Tanya Bimo dengan senyum. "Apa kamu mau aku menggagalkan pernikahanmu." Tanya lagi.
"Ale.." Bimo memanggil Alena karena gadis itu diam saja, sehingga dirinya tidak mendapat jawaban.
"Sayang.." Bimo menundukkan wajahnya sedikit. "Ck. kenapa malah tidur sih." gerutu Bimo yang melihat Alena memejamkan mata.
.
.
Di lain tempat dikediaman Diki sudah ramai kerabat dan tetangga yang hadir untuk menyiapkan acara ijab kabul berserta resepsi yang akan dilakukan besok pagi, Diki tidak menyewa gedung atau hotel mewah untuk melangsungkan pernikahannya, karena memang selain mendadak Diki juga tidak suka dengan acara yang terlalu mewah. Dan semua itu keluarga Diki yang menyiapkan.
Semua sudah disiapkan bahkan surat nikah pun sudah Diki siapkan, tinggal hari esok dirinya akan menikahi gadis yang dicintainya itu.
"Ibu, sudah ibu siapkan semuanya kan tanpa ada yang terlewat?" Tanya Diki pada Ibunya yang mengurus semua keperluan.
"Sudah sayang, semua sudah beres..supir juga sudah ibu siapkan untuk menjemput Alena besok pagi." Ucap Hesti pada putranya.
"Terimakasih Bu." Ucapnya memeluk sang ibu.
Diki nampak bahagia selangkah lagi dirinya akan menjadikan Alena miliknya selamanya, dan berharap tidak ada halangan di hari penting besok.
.
.
"Sayang.." Bimo berbisik di telinga Alena lembut ketika gadis itu masih nyaman tidur, padahal hari sudah menjelang sore.
Melihat Alena yang tertidur Bimo menggendong Alena menuju kamar pribadinya dan merebahkan Alena disana, karena dirinya harus menyelesaikan pekerjaannya, sebelum besok disibukkan dengan pekerjaan lain.
Bibir Bimo mengecupi leher samping Alena, karena gadis itu tidur dengan posisi miring.
__ADS_1
"Sayang.." Bimo kembali berbisik, karena tidak direspon oleh Alena. Semakin gencar bibir nya menyusuri leher hingga bagian rahang Alena, Bimo memberikan kecupan lembut dan basah.
"Egh.." Alena melenguh ketika merasakan sensasi basah dan geli.
"Bangun.." Ucap Bimo masih dengan aksinya.
Alena mengerjapkan matanya, dengan wajah menoleh ke asal suara, namun ternyata tindakannya salah.
Cup
Bimo langsung Melu*mat bibir Alena ketika wajah Alena berbalik, dirinya tak menyia-nyiakan hal itu.
Alena membulatkan matanya ketika mendapat serangan tiba-tiba.
"Emph.." Alena meleguh ketika lidah Bimo menerobos masuk menyusuri rongga mulutnya.
Tangan Bimo menyentuh kulit tangan Alena naik turun dengan gerakan lembut.
Alena memejamkan mata ketika dirinya merasa sudah terlena dalam permainan bibir Bimo.
"Engh.." Untuk pertama kali Alena mengeluarkan suara desa*han karena bibir Bimo sudah menyusuri leher jenjangnya.
"Shh..emmh.." Alena semakin dibuat merasa penasaran ketika rasa asing yang juga melenakan pertama kali Ia rasakan.
Tangan Bimo bergerilya menyentuh tubuh Alena yang masih memakai baju, hingga kedua tangannya berhenti di buah dada Alena dan meremasnya pelan.
"Eghh.." Alena kembali Mende*sah dan Bimo langsung kembali Melu*mat bibir ranum Alena.
Keduanya terlena dalam buaian yang begitu memabukkan, hingga tangan Bimo sudah berhasil membuka kancing baju Alena.
"I love you sayang." Bimo membisikan kata cinta didepan bibir Alena, ketika memberikan kesempatan gadis itu untuk bernafas sebentar.
"Ahh.." Alena kembali Mende*sah ketika merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh kulitnya.
Bimo mengecupi dada Alena dengan lembut, dirinya menatap penuh kedua buah dada Alena yang berada di genggamannya dengan masih terbalut b*r*a.
Bimo kembali Mulu*mat rakus bibir Alena, membuat gadis itu menikamati dan terhanyut dalam sentuhannya sehingga membuat Alena tidak sadar jika Bimo sudah melepas penutup kain atasnya yang melindungi dua buah gundukan yang masih ranum itu.
Bimo menelan ludahnya kasar, jakunnya naik turun mendapati pemandangan yang begitu menyesakkan untuk adiknya di bawah sana.
Pelan tangannya menyentuh bagian sensitif Alena bagian atas. Hingga Alena meleguh nikmat ketika dirinya meremas pelan benda lembut seperti squishy itu lembut dan kenyal.
"Emmh..Bim.." Alena meremat rambut Bimo ketika pria itu mencicipi pucuk buah dada Alena yang masih ranum mencuat untuk di sapa.
Bimo semakin rakus melahap dan memilin buah dada Alena yang begitu sangat pas di genggaman tangannya.
Dirinya semakin terbakar gairah ketika Alena semakin meremas rambutnya dan menekan kepalanya.
Posisi Alena sudah setengah folos, Bimo bertelanjang dada.
Lidah Bimo menyusuri dada naik menyusuri leher dan dagu Alena, dan berhenti di bibir Alena yang sedikit bengkak.
Keduanya saling bertatap dengan mata sayu yang berkabut napsuu.
"Bim.." Alena berkata lirih menyentuh wajah Bimo yang berada di atasnya.
Mata Bimo sudah diselimuti kabut gairah. "I'll give it if you want it." Ucap Alena menatap mata Bimo penuh cinta dan hasrat.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Tanyanya dengan mengelus pipi Alena.
Alena hanya mengangguk, dan tangannya meraih tengkuk Bimo untuk di Lum*at nya bibir Bimo.
Alena melahap rakus bibir tebal Bimo, dirinya tidak perduli jika dirinya terlalu berani, karena Alena belajar dari Bimo.
Dengan senang hati Bimo menerima cumbuan Alena untuk pertama kali gadis itu berani memulai lebih dulu.
Tangan Bimo menyentuh karet pinggang ****** ***** Alena, ketika dirinya berhasil menurunkan celana panjang yang Alena pakai.
Bimo menatap wajah Alena dan menatap pemandangan di bawah sana dengan hati berdebar. "Kamu yakin?" Tanya Bimo melihat wajah Alena, dan gadis itu pun mengangguk.
Bimo tersenyum, tangannya semakin membuka kaki Alena lebar, ketika gadis itu berusaha untuk merapatkan kakinya.
Belahan indah terpampang didepan wajahnya dengan warna ranum yang begitu menggoda.
"Bim..apa yang kamu lakukan." Alena memekik ketika intinya mendapat sentuhan lembut dan hangat dari bibir Bimo.
"Sayang..ahh.." Alena menggelinjang ketika tubuhnya pertama kali merasakan hal yang asing namun begitu memabukkan.
Bimo memainkan lidah nya dibawah sana dengan gemas, lidahnya menusuk, menji*lat dan menyesap daging irisan kecil yang begitu menggoda untuk dinikmati.
"Ahh..shh.. yank..ahh." Alena mengangkat kepalanya dan menekan kepala Bimo agar lebih dalam lagi ketika sesuatu dalam dirinya mendesak keras untuk keluar.
Bimo semakin cepat memainkan lidahnya dibawah sana ketika merasakan kedutan di area dinding yang begitu hangat.
"Bim..aku mau pi-pis..ahh.." Suara Alena tersengal napasnya memburu ketika dirinya sudah tak tahan untuk menahan gejolak dalam dirinya untuk meledak.
"Bim.. ahhhwsshh..ahh." Tubuh Alena bergetar hebat ketika dirinya mencapai klim*aks untuk yang pertama kali dirinya rasakan.
Sungguh perasaan nya begitu lega ketika dirinya berhasil melesakkan sesuatu yang begitu mendesak untuk keluar, dan rasanya luar biasa.
Bimo menyesap kuat area inti Alena, bersamaan dengan cairan hangat kental yang semakin membuatnya kian tersiksa.
Napas Alena memburu dengan keringat membasahi wajah dan tubuhnya, Alena menatap wajah Bimo yang memandangnya dengan tatapan sayu.
Cup
"Kamu mendapatkan nya sayang." Ucap Bimo kembali mel*umat sebentar bibir Alena.
"Kamu mau kemana?" tanya Alena yang melihat Bimo beranjak dari nya.
"Mau menidurkan bayi kecil sayang." Ucap Bimo tersenyum, pandanganya turun kebawah perutnya yang terlihat mengembung dengan ketat, menahan gairah.
"Bim.." Ucap Alena menatap Bimo tak percaya.
"Tidak apa sayang, aku tidak ingin membuatmu menyesal."
Cup
Setelah mengecup bibir Alena sekilas Bimo langsung pergi ke kamar mandi untuk bersolo karir menidurkan bayi kecilnya.
Alena tersenyum menatap punggung Bimo yang hilang di balik pintu. "Kamu memang pria baik Bim."
.
.
__ADS_1
Bang Bemo berdosa banget..😩