
Kehidupan di dunia memang tidak ada yang abadi semua hanya titipan semata, nyawa kita termasuk titipan-Nya.
Setelah menyelesaikan urusannya, Bimo masuk ke ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamar nya.
Berkutat dengan pekerjaan, layar laptop menyala di depan wajahnya. Sudah satu jam dirinya berada di ruang kerja, menyelesaikan apapun yang bisa di selesaikan jika tidak ada dirinya mencoba mengulangi pekerjaannya yang sesungguhnya sudah benar.
Tapi itulah Bimo yang sekarang, Bimo pria yang cuek dan kaku itu menjadi sangat lebih dingin semenjak menjadi duda di tinggalkan istri nya untuk selama-lamanya.
Bukan perkara mudah baginya menjadi seorang ayah yang mengasuh dua anaknya, dirinya selalu berperan sebisa mungkin untuk membuat putra dan putrinya merasa cukup dengan dirinya saja.
Di usianya yang semakin matang, tak membuatnya terlena dengan wanita yang selalu mengelilingi nya, karena dunia luar tahu jika dirinya sama sekali belum Menikah dan orang berpikir jika dirinya pria lajang yang matang.
Karena memang pernikahannya dengan Alena akan di gelar meriah setelah Alena melahirkan, tapi takdir berkehendak lain dengan hidupnya.
Tok...tok..tok..
"Papa, Sena boleh masuk?" Suara putri kecilnya, membuatnya mengalihkan perhatiannya.
"Masuk sayang.." Bimo melepas kaca mata bacanya, dan meletakkan di atas meja.
"Papa belum makan, Sena bawakan makan malam untuk papa." Ucap Sena dengan membawa nampan berisikan makan malam papanya, lengkap dengan jus jeruk.
Bimo tersenyum lebar, dirinya suka mendapat perhatian dari putri nya yang dingin dan cuek itu, tapi bisa hangat jika di waktu yang tepat.
"Terima kasih sayang." Bimo menerima nampan itu dan menaruh nya di atas meja, lalu menyuruh putrinya untuk mendekat.
Sena menurut ketika papanya mengangkatnya untuk duduk di atas pangkuannya. "Boleh papa tanya?" Tanya Bimo mengelus rambut Sena.
"Kenapa ada dua makanan ini di sini?" Ucapnya menunjuk dua makanan yang menurutnya sangat tidak asing dengan aromanya.
"Sena sedang belajar membuat makanan itu untuk papa, Sena tadi siang belajar bikin rendang sama Nek Mirna, terus nasi goreng itu baru Sena buat sebelum kesini di bantu Nek Mirna juga." Ucap Sena menceritakan asal usul dua makanan favorit papanya itu.
Mata Bimo menatap sendu wajah putrinya, saat ini mengingatkan makanan yang suka Alena masak untuknya.
"Yakin Sena yang buat?"Tanyanya lagi.
Sena mengangguk mantap. "Sena cuma minta resep, terus caranya aja gimana gitu, abis itu soal rasa Sena sendiri lah yang nilai." Sena kembali berbicara panjang lebar.
Inilah kelebihan Sena di depan orang lain, jika hanya berdua Sena termasuk manja dengan papanya.
"Oke, papa akan coba masakan putri papa ini." Bimo meraih sendok dan mencoba mengambil nasi rendang lebih dulu.
"Gimana Pah, enak?" Tanya Sena penuh harap menunggu penilaian rasa dari papanya.
__ADS_1
Bimo masih mengunyah dengan pelan, dirinya tidak menyangka akan merasakan masakan seperti ini lagi.
"Enak sayang, bahkan lebih enak dari yang pernah papa makan."
Wajah Sena berbinar senang mendengar pujian papanya.
"Berarti Sena berhasil donk, bikin masakan yang sama kaya Mama." Ucapnya girang.
Deg
Jantung Bimo mencolos mendengar ucapan putrinya, meskipun tidak adanya Alena tapi semua yang berkaitan dengan Alena selalu Bimo ceritakan kepada dua anak-anak nya.
"Tentu sayang, kamu sudah berhasil membuat masakan yang enak seperti Mama." Matanya berkaca-kaca memeluk putrinya dan menciuminya.
"Terima kasih papa." Sena mencium pipi Bimo.
"Iya sayang, kalau begitu ayo temani papa makan." Bimo dengan senang hati menerima suapan demi suapan dari putrinya, diselingi dengan candaan mereka berdua.
Memang rasa masakan putrinya sama dengan Alena, dan Sena sudah mulai belajar masak sejak usianya menginjak enak tahun, gadis kecil itu bersikeras untuk mengenal pendapuran sejak dini, karena ingin belajar masak makanan kesukaan papanya.
"Boleh Sena tanya sesuatu?" Tanya Sena ketika keduanya sudah menyelesaikan urusannya.
"Apa sayang, katakan." Bimo menatap mata coklat bulat Sena, mata yang selalu membuatnya merasa kehadiran sang istri.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang, tentu saja papa sangat mencintai Mama kalian." Bimo berbicara sambil menyelipkan rambut Sena kebelakang telinga.
"Jika Sena dan Ren menyetujui papa menikah lagi, apa papa mau?" Tanya Sena dengan wajah menunduk.
Bimo terhenyak mendengar perkataan putrinya. "Maksud kamu apa sayang, lihat Papa." Bimo meraih wajah putrinya yang menunduk agar mau melihatnya.
"Katakan apa kamu bicara seperti ini atas kemauan mu sendiri?" Bimo menatap lekat kedua mata putrinya.
Sena hanya diam saja, beberapa kali matanya mengerjap.
"Sena jawab papa?"
Sena hanya menggeleng dengan mata yang sudah menggenang.
"Dengar sayang, Papa tidak akan mengatakan Mama dengan siapa pun, meskipun papa hanya memiliki kalian papa sangat menyayangi kalian, kalian adalah kebahagiaan papa ingat itu." Bimo menegaskan ucapanya.
Dirinya tidak suka jika ada orang lain yang ikut masuk kedalam urusannya apalagi mengunakan putra putrinya untuk menjadi alasan.
"Sena sayang Ren, dan papa, meskipun Sena tidak pernah merasakan kasih sayang Mama, tapi Sena menyayangi Mama." Sena menangis di dalam pelukan sang ayah.
__ADS_1
"Sayang..cup..cup..Papa juga menyayangi kalian, meskipun tidak ada Mama ada papa yang akan selalu ada untu kalian oke.." Bimo menciumi kepala putrinya dengan dada yang sesak, sesakit inikah hatinya ketika putrinya tidak bisa membiarkan ada pengganti untuk Mamanya.
Jika di suruh pun dirinya tidak akan mengijinkan wanita manapun untuk masuk dalam hidupnya.
Biarlah dirinya hanya hidup sendiri, memiliki kedua anaknya sudah membuatnya cukup.
Sena menangis sesenggukan di pelukan sang Papa, gadis kecil yang sebenarnya memiliki hati yang lembut dan mudah terluka, tapi berhasil menutupi sisi rapuhnya dengan sifat cuek dan dingin.
.
.
Pagi ini semua sudah berkumpul di meja makan, tanpa ada yang tertinggal hanya saja, gadis remaja yang usianya sudah lima belas tahun itu belum menampakan batang hidung nya.
"Ren dimana Aunty mu." Tanya Bimo pada putranya, yang memang lebih dekat dengan Alisa.
"Satu..dua...tiga.." Bukannya menjawab Ren malah berhitung.
"Ren papa bertanya, kamu malah berhitung." Ucap Bimo lagi yang hanya mendapat pelototan dari Ren.
"Ssttt papa, tunggu saja." Ucap Ren dan kembali berhitung. "Empat...lim_"
"Holaa....selamat pagi..keponakan-keponakan Aunty yang ganteng dan imut." Alisa turun dari tangga dan langsung menciumi dua keponakan nya itu.
"stop...!! you are annoying aunty..!!" Sena mendelik tajam ketika Alisa ingin mencium pipinya.
"Ya Tuhan Sena, kamu galak sekali." Alisa langsung kembali duduk di kursinya di sebelah Sena dan Ren, karena dia duduk di tengah-tengah mereka.
Gadis yang menginjak remaja dengan pakaian biru putih itu mengerucutkan bibir nya sebal, Sena pasti tidak mau jika dirinya cium.
"Aunty cium saja pipi Ren, Ren tidak akan menolak." Ucap Ren dengan senyum mengembang, menurutnya senyuman paling manis untuk menaklukan wanita. Ohh may good Ren 🙈.
"Aduhh cayang ku, kamu emang boyfriend nya Aunty." Alisa pun menciumi pipi Ren gemas.
Mereka yang melihat pemandangan itu hanya geleng kepala, apalagi Sena menunjukan wajah yang sepeti jijik ingin muntah.
.
.
Yuhuuu...yang mau kepoin FB Mak otor boleh sayang...🤣🤣
_Shanty Setiawan_ Jan salahðŸ¤
__ADS_1
Mak otor jarang online di IG🙈