Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Part133


__ADS_3

Bimo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, amarah kesedihan dan kekecewaan menjadi satu kini dirinya hanya bisa menangis untuk meluapkan rasa sakit yang selalu menyesakkan dadanya.


Tidak perduli jalanan yang masih ramai kakinya semakin dalam menginjak pedal gas.


Hingga sampai di persimpangan, karena kecepatan tinggi dirinya tidak melihat lampu yang akan berubah merah.


Tiinnnn


Brak


Suara beraturan begitu keras diiringi bunyi suara kelakson yang nyaring.


Beberapa orang yang berada di sekitar langsung mengerubungi mobil sport berwarna putih itu yang menabrak pohon karena menghindari mobil yang sedang melaju dari arah berlawan.


"Panggilkan ambulance..!!" Teriak seseorang yang membatu mengeluarkan Bimo dari dalam mobil.


Prang...


Alena terkejut ketika bingkai foto suaminya tiba-tiba jatuh ke lantai dan pecah.


"Ya Tuhan." Perasaanya tiba-tiba menjadi khawatir.

__ADS_1


Tangannya ingin mengambil bingkai yang jatuh. "Ahh...shhh.." Alena memegangi perutnya yang terasa nyeri di bagian bawah secara tiba-tiba.


"Fiuhh.." Membuang napas pelan, dan kembali menghirup secara teratur Alena melakukan itu sampai berulang-ulang kali hingga merasa lebih baik.


Ketika sudah tenang dada begitu sesak entah karena apa yang jelas dirinya sangat khawatir melihat bingkai foto suaminya pecah di lantai.


"Semoga kamu selalu dalam lindungannya Mas." Alena mengambil foto Bimo dan mengusapnya perlahan.


.


.


"Lukanya tidak parah, hanya terdapat benturan di kepala yang cukup serius, tapi kami sudah bisa mengatasi hal itu dan pasien akan segera di pindahkan ke ruang rawat." Ucap dokter kepada Rendy.


"Syukurlah." Rendy memeluk Leina yang sejak tadi terisak di sampingnya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi."


Dokter itupun pergi setelah Rendy mengucapkan terima kasih.


Ketika masih dalam restoran ponsel Rendy berdering mendapat panggilan dari Bimo, tapi ternyata suara di sebrang sana bukan suara putranya.

__ADS_1


Rendy yang terkejut mendengar jika putranya mengalami kecelakaan dan di larikan kerumah sakit pun panik.


Apalagi Leina yang sempat syok dan mendadak tak sadarkan diri ketika tak sengaja mendengar percakapan mereka.


Mirna di suruh pulang membawa Alisa, dan Fandi di minta Rendy untuk mengemudikan mobilnya, karena Leina juga sedang pingsan.


Disinilah mereka bertiga berada di dalam ruangan rawat Bimo yang masih memejamkan matanya hingga sekarang.


"Bim, maafin Mama.." Leina berulang kali meminta maaf dengan serai air mata, dirinya selalu berada di samping putranya.


Rendy pun hanya menatap sendu putranya, tidak di sangka putranya akan sehancur ini ketika di tinggalkan istrinya, jika itu dirinya mungkin akan bernasib sama, apalagi istrinya pergi dalam keadaan hamil.


"Pah bantu Mama untuk mencari keberadaan Alena." Ucap Leina menatap suaminya dengan wajah memohon.


"Tanpa Mama minta papa sudah melakukannya, dan memang sampai sekarang anak buah papa belum menemukan di mana Alena." Rendi menghela napas kasar. "Semoga Alena dalam keadaan baik-baik saja, papa tidak tahu apa yang akan terjadi pada Bimo jika terjadi sesuatu kepada Alena."


Leina semakin terisak dengan menggenggam tangan Bimo. "Maafin Mama nak, Mama sudah membuat hidup kamu hancur."


Bukan tanpa alasan Rendy berkata seperti itu, karena anak buahnya sampai sekarang belum menemukan titik terang keberadaan Alena.


Gadis itu seperti hilang di telan bumi, tanpa ada jejak yang di tinggalkan untuk bisa melacak keberadaanya.

__ADS_1


__ADS_2