
Setelah acara lamaran Gesya, Alexa mulai menyiapkan barang keperluannya yang penting. Dirinya akan tinggal di rumah papa Bimo menjelang melahirkan.
Ren juga sudah menyuruh Alexa untuk resign, dan Alexa akan mengundurkan diri lusa rencananya karena dia juga ingin membantu keluarga Gesya untuk menyiapkan keperluannya.
Alexa tahu jika Mama Diaz tidak merestui hubungan Gesya dan Alexa akan membantu keluarga Gesya termasuk dari segi finansial.
Alexa sudah berbicara pada suaminya dan Ren juga menyetujuinya. Ren sudah menyerahkannya pada Alexa jika memang itu diperlukan.
"Sayang, tidak usah bawa semua, bawa saja yang penting." Ucap Ren yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
"Iya, Mas. Ini hanya yang penting saja." Jawabnya dengan menarik resleting koper yang sudah dia siapkan.
Ren masih mengusap rambutnya dengan handuk kecil.
"Sini aku bantu." Ucap Alexa yang meraih handuk kecil di tangan Ren.
Ren tersenyum lalu menempatkan diri duduk di kursi depan meja rias, dengan Alexa yang berdiri didepannya.
Tangan Ren melingkar di pinggang istrinya yang lebar, karena perutnya yang buncit.
"Kita pergi kerumah papa besok sore saja, setelah pulang dari kantor." Ucap Ren dengan mencium perut buncit istrinya.
Alexa masih mengusap rambut Ren dengan lembut.
"Terserah kamu mas." Alexa tersenyum.
"Em, kenapa kamu semakin seksih jika seperti ini." Ren mengusap perut buncit Alexa memutar dengan tangan kiri yang melingkar di belakang pinggang Alexa.
"Jangan gombal, mana ada ibu hamil seksih." Alexa mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan suaminya yang mengada-ada menurutnya.
"Ck, benar sayang. aku tidak bohong." Ren mendongak menatap wajah Alexa.
Memang semenjak Alexa hamil Ren sangat menyukai tubuh istrinya yang lebih berisi dan sekal, apalagi bagian-bagian tertentu yang semakin membuatnya menggilai tubuh Alexa.
Alexa menangkupkan tangannya dikedua sisi pipi Ren. "Modus untuk merayu hm." Alexa tertawa. "Apa setelah ini akan terjadi sesuatu." Tanya Alexa dengan mengerutkan keningnya.
Ren tersenyum menyeringai, "Jika Nyonya menginginkan maka aku bisa apa." Kedua tangan Ren mengelus kaki Alexa hingga atas dari dalam dress yang Alexa kenakan.
Plak
Alexa menepuk pundak suaminya yang polos. "Bukan aku, tapi kau papa yang mesum."
"Aku dan kamu sama saja, karena sudah menjadi kita." Ren menarik Alexa untuk duduk di atas pangkuannya.
Cup
Mengecup bibir Alexa sekilas, Ren menatap lekat wajah sang istri. "Terima kasih sudah menemaniku, selamanya aku ingin kita selamanya bersama."
Ren memajukan wajahnya untuk meraih bibir Alexa lebih intens.
Alexa menyambut bibir suaminya dengan senang hati, kedua tangannya sudah melingkar di leher suaminya.
__ADS_1
Kegiatan yang disukai suami Istri adalah saat seperti ini dimana keduanya saling menghangatkan tubuh masing-masing, memenuhi kebutuhan gairah yang harus tersalurkan. Ren memperdalam cumbuannya dengan mengapsen setiap inci rongga Alexa, menyesap dan melumatt benda kenyal yang selalu candu baginya.
"Masss.."
Alexa mendongak dengan mata terpejam, ketika Ren semakin turun menjelajahi leher hingga bagian dada yang semakin membuat tubuh Alexa meremang.
"Ini, semakin bulat dan besar." Ren memijat lembut kedua kelembutan Alexa, dress yang Alexa pakai sudah turun sampai di pinggangnya. "Sebentar alahi milik twins dan aku tidak bisa memilikinya lagi.
"Ah, Mas." Alexa meleguh ketika Ren langsung menyesap pucuk dadanya dengan kuat, pria itu seperti bayi yang kehausan.
"Sayang emmh, pelan-pelan." Alexa mengigit bibir bawahnya, antara enak dan perih menjadi satu.
"Aku tidak bisa menahannya sayang." Ren langsung menggendong tubuh Istrinya untuk berbaring di atas ranjang.
"Aku mau diatas." Ucap Alexa dengan malu, wajahnya merona dengan kembali mengigit bibir bawahnya.
"Em, jangan digigit." Ren mengecup bibir Alexa sekilas. Dirinya tahu jika istrinya lebih nyaman memimpin kendali dengan perutnya yang buncit.
"Uhhm."
Keduanya kembali melakukan penyatuan yang tidak pernah ada habisnya. Dimana kegiatan yang tidak pernah ada puasnya.
.
.
Seperti yang sudah dipersiapkan papa Dean. Diaz dan Gesya hanya tunggal mencoba baju pengantin.
Mendengar suara kekasihnya, Diaz berbalik.dan dirinya melihat dari bawah gaun Gesya hingga pandanganya jatuh terakhir di wajah sang kekasih.
Diaz terseyum, Gesya begitu cantik dengan balutan gaun pernikahan yang dia kenakan.
Langkah kaki Diaz maju, hingga tangannya merangkul pinggang Gesya.
"Cantik, sangat cantik. Aku tidak sabar menunggu malam pernikahan kita." Ucapnya didepan wajah Gesya, membuat wanita itu tersenyum malu, dengan wajah terasa panas.
"Kak Diaz suka ini." Tanya Gesya untuk memastikan.
"Em, apapun yang kamu pakai akan tetap cantik, apalagi kalau_" Diaz tidak melanjutkan ucapanya. Dirinya menatap Gesya dengan tatapan mesum.
"Ihh, jangan berpikiran mesum." Kesal Gesya, yang langsung berbalik untuk kembali masuk keruang ganti baju.
Diaz hanya tertawa kekasihnya memang menggemaskan jika kesal bercampur malu.
Setelah selesai mencoba baju pengantin Diaz mengajak Gesya untuk makan siang di restoran tempat yang belum Gesya masuki.
"Kak kenapa kesini." Tanyanya Gesya yang melihat restoran mewah bintang lima, dan untuk pertama kali Gesya memasukinya.
"Makan lah, memang apa lagi." Jawab Diaz santai, dan menggandeng tangan Gesya untuk masuk ke dalam.
"Kenapa tidak ketempat biasanya aja sih." Keluh Gesya yang merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? lagian aku belum pernah mengajak kamu kesini." Ucap Diaz yang memang sudah sering keluar masuk restoran mahal.
Diaz tahu jika kekasihnya tidak pernah menginjakkan kaki di tempat seperti ini, karena Gesya bukan tipe wanita yang suka kemewahan, Gesya adalah gadis sederhana dengan keadaanya.
"Tidak apa, aku hanya ingin menyenangkan calon istriku." Diaz menarik kursi untuk Gesya duduk. Pria itu tersenyum yang membuat Gesya ikut tersenyum.
"Nikmati hidup sayang, jika tuhan memberikan kesempatan maka jangan di sia-siakan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok. Dan selagi kita diberi kesehatan maka apapun yang kita inginkan jangan pernah dipendam." Ucapan Diaz membuat Gesya terharu.
"Iya Kak."
Diaz terseyum, dirinya menyukai perangai Gesya yang lembut dan penyayang apalagi Gesya selalu mengerti keinginannya.
Keduanya saling duduk berhadapan, dan tak lama pesanan yang sudah Diaz pesan datang.
"Kamu suka kan." Diaz memberikan piring yang berisikan stik bumbu lada hitam, karena Gesya suka makanan pedas.
"Terima kasih." Gesya menerima piring yang sudah Diaz potong kecil-kecil.
Gesya mencicipi makanan menu terbaik di restoran itu, dan tiba-tiba.
Byuuurr
Kepala Gesya basah dengan air jus.
"Fiola..!!" Bentak Diaz yang melihat Fiola tersenyum puas.
"Ahhss," Gesya mengibaskan bajunya yang basah.
"Sayang, kamu tidak apa-apa." Diaz langsung melepas jas yang dia kenakan untuk menutupi tubuh Gesya yang basah.
"Dasar jal*ng perebut laki orang." Sinis Fiola tajam.
"Jaga ucapan kamu Fiola. Kamu seharusnya ngaca siapa diri kamu." Diaz pun menatap tajam Fiola dengan amarah.
"Kak, apa bagusnya wanita jal*ng ini dibandingkan aku," Tunjuk Fiola pada Gesya yang berdiri disamping Diaz.
Pertengkaran mereka disaksikan pengunjung yang datang.
"Jangan panggil dia sebutan jal*ng jika kamu sendiri yang patas di sebut jal*ng." Desis Diaz tajam.
Pria yang tidak pernah memperlihatkan sisi kini Ia perlihatkan, Gesya yang melihat merangkul lengan Diaz.
"Sudah kak, lebih baik kita pergi." Ucap Gesya mencoba untuk menenangkan Diaz, agar pria itu tidak terbawa emosi.
Fiola menatap Diaz tajam, dengan napas memburu wanita itu merasa di rendahkan dengan sebutan jal*ng.
"Kenapa? kamu tahu, kamu jauh lebih buruk dari pada wanita panggilan diluar sana." Sinis Diaz menatap Fiona yang terkejut. "Mereka menjual diri karena dibayar, tapi kamu." Diaz menatap Fiola dari atas sampai bawah. "Sampai tega menggugurkan kandungan demi sebuah kepuasaan."
Setelah mengatakan itu, Diaz merangkul bahu Gesya untuk pergi, tidak lupa meninggalkan uang untuk membayar makanan yang tidak jadi mereka makan.
"Kalian sialan..!!" Fiola mengepalkan kedua tangannya, dengan penuh amarah. Bisa-bisanya Diaz mengetahui apa yang selama ini dia sembunyikan.
__ADS_1