Pembantuku Canduku 2

Pembantuku Canduku 2
Season_2


__ADS_3

Aaron merangkul pinggang sang istri ketika memasuki lobby kantor. Semua orang menunduk hormat ketika melihat pimpinan mereka berjalan memasuki lobby, menyapa keduanya dengan ramah dan hanya mendapat tatapan datar dari pimpinan mereka, berbeda dengan sang sekertaris yang juga berstatus sebagai istrinya, Sena sedikit melengkungkan bibir nya ketika berpapasan dengan para karyawan yang juga menyapanya.


Ting


Pintu lift terbuka, Aaron menyuruh Sena lebih dulu masuk.


"Ar, kenapa wajah kamu selalu kaku di depan para karyawan?" Sena menatap wajah sang suami yang berada di pundaknya, Karena saat ini Aaron sedang memeluk tubuh Sena dari belakang. Dan ini kebiasaan Aaron ketika di dalam lift menuju lantai enam.


"Yang boleh mendapat senyum ku cuma kamu sayang, jadi untuk apa aku senyum dengan mereka." Aaron menggoyangkan tubuhnya, sehingga Sena yang berada di pelukannya juga ikut bergerak ke kanan dan kiri.


"Jika untuk karyawan aku rela berbagi senyum dengan mereka, hanya senyum dan itu tidak lebih." Tangan Sena menyentuh pipi Aaron, "Jika kamu membalas sapaan mereka pasti mereka sangat senang, apalagi kamu mau tersenyum. Di gedung LWS ini kita adalah satu keluarga, tanpa mereka kita tidak akan menjadi seperti ini, jadi tidak ada salahnya jika kita juga menghormati mereka."


Aaron tersenyum, hatinya berdebar setiap kali melihat ataupun mendengar ucapan bijak sang istri, ternyata selain jutek dan dingin, Sena memiliki sifat lain yang semakin lama semakin membuatnya kagum.


"Hm..kamu benar sayang. Terima kasih sudah mengingatkan." Aaron mendekatkan wajah nya untuk meraih bibir sang istri.


Ting


"Ar.." Kedua orang yang berada di dalam lift menoleh ketika mendengar seseorang memanggil.


"Ish.. Mama ganggu aja sih." Aaron mendengus kesal ketika melihat sang Mama pagi-pagi sudah berdiri di depan pintu lift, padahal dirinya sebentar lagi mendapatkan bibir sang istri.


"Jangan berbuat mesum di sini." Arin mendelik ke arah sang putra, tangannya menarik lengan Sena. "Hari ini Mama pinjam istrimu, tidak boleh ada penolakan." Ucap Aron yang sudah merangkul lengan Sena.


"Tapi mah hari ini ada met_"


"Sudah keluar sana, Mama mau pergi sama mantu Mama." Arin mendorong punggung Aaron agar keluar dari dalan lift, dan Arin langsung menekan angka satu untuk mengantar mereka ke lobby.


"Tidak usah menunggu istrimu, karena hari ini Sena untuk mama." Arin berbicara ketika pintu lift akan tertutup, Sena hanya tersenyum melihat wajah suaminya yang kesal.


"Mah..mah..gak bisa gitu..!!" Aaron ingin menghalangi pintu lift agar tidak tertutup, tapi terlambat.


"Ah..sial..!!" Aaron mengumpat kesal.


Arin dan Sena hanya tertawa di dalam lift, Aron tahu seposesif apa Aaron pada istrinya, pria itu tidak akan bisa lama-lama Jauh dari Sena.


"Lain kali mungkin Mama akan culik kamu agar Ar mau memberikan kamu pada Mama." Arin masih tertawa.


"Iya mah, biar Ar kelimpungan." Sena yang juga suka menjahili suaminya ikut pro dengan Arin.


"Kita mau ke mana mana?" keduanya keluar dari lift setelah pintu terbuka.


"Mama mau ajak kamu ke acara anak teman mama yang mengadakan syukuran."

__ADS_1


Bukan tanpa sengaja Arin pagi-pagi menyambangi gedung LWS kalau bukan karena sesuatu, wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat sangat cantik itu ingin membawa Sena ke acara syukuran yang temanya rayakan, di sana mengadakan pengajian dan memberi santunan, maka dari itu Arin juga ingin ikut berpartisipasi.


"Tapi Sena ngak bawa baju mah." Sena menatap penampilannya sendiri, dan memang bukan pakaian untuk ke acara syukuran.


"Kita akan belanja dan kesalon dulu, mama juga belum ada persiapan acara nya masih nanti siang, masih banyak waktu untuk kita pergi ke salon." Arin tersenyum lebar.


Keduanya memasuki mobil yang sudah terparkir didepan lobby.


Jika kedua wanita berbeda generasi itu sedang bersenang-senang lain dengan Aaron yang sejak tadi uring-uringan.


Bukanya sibuk bekerja, Aaron malah sibuk menghubungi sang istri yang sengaja mensilent ponselnya karena sedang melakukan perawatan spa.


"Ck. kamu keterlaluan sayang." Aaron menghela napas kasar, dirinya memang tidak bisa jauh dari Sena, pikirnya selalu memikirkan Sena jika wanita itu tak terlihat di matanya.


Tok...tik...tok..


Ketukan pintu terdengar, membuat Aaron semakin kesal.


"Masuk.."


"Tuan ada metting dengan klien Amerika, dan sekarang sudah saatnya." Niko mengingatkan Aaron.


"Nik, apa tidak bisa di wakilkan?" tanya Aaron menatap Niko penuh harap.


Aaron menghela napas kasar, mau tidak mau dia akan pergi tanpa Sena.


"Baiklah ayo.." Aaron berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya, Niko mengikuti dari belakang.


Kemanapun dirinya pergi Sena selalu berada di sampingnya, dan itu adalah mood booster bagi Aaron, karena adanya sang istri.


Niko membukakan pintu mobil setelah mereka sampai di basement, mereka akan bertemu klien di restoran hotel xx.


.


.


.


Sena menatap dirinya di pantulan cermin, ibu mertuanya memilihkan baju kaftan untuk acara ini, dan Sena juga mengenakan hijab sederhana, namun malah terlihat sangat cantik.


"Sayang kamu sudah selesai." Arin memasuki kamar pas, di mana Sena sedang tersenyum menatap sang mertua.


"Masyaallah anak Mama." Arin menatap Sena takjub.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali sayang." Menyentuh wajah Sena Arin mencium kening Sena.


"Bagaimana mah, apa Sena pantas memakainya." Tanyanya yang langsung mendapat anggukan cepat dari Arin.


"Cantik sekali, mama sampai kagum." Sena tersenyum canggung mendapat pujian dari Arin.


"Sebentar sayang." Arin merogoh ponsel yang berada di dalam tasnya.


"Kita foto, dan mama akan kirim ke grub keluarga." Arin mengarahkan kamera ponselnya untuk foto selfi.


Cekrek


Cekrek


Beberapa foto Arin ambil dan berbeda gaya, lalu memilih yang bagus untuk di kirim ke grub keluarga.


"Dua bidadari tersesat." Gumam Arin saat menulis caption di foto yang dia kirim.


"Sudah, ayo kita berangkat." Arin merangkul lengan sang mantu dengan senyum bahagia.


Grub keluarga terdiri dari dua keluarga besar, di mana penghuni wanita hanya mereka berdua, dan mereka adalah dua bidadari di antara para pria.


'Papa love'


"Masyaallah dua bidadari papa... cantik semua.." Arthur pertama yang membalas pesan di grub itu.


"Kakak mu memang paling cantik, tapi mama memang paling cantik." Ren menambhakan emot love dua mata.


"Produk keluarga LWS memang tak ada saingan." Kakek Lewis juga ikut membalas.


Aaron yang masih sibuk, belum membuka ponsel, dan belum melihat penampilan sang Istri yang belum pernah dia lihat.


"Anak papa memang paling cantik... pertahankan sayang.." Bimo mengirim banyak emot love, untuk sang putri.


Di ruangan kerja Bimo tersenyum pilu, di mana Sena benar-benar mengingatkan nya pada sang istri.


"Kamu rindu.." Bisikan suara yang sangat Bimo rindukan.


"Selaku sayange, lihat putri kita mirip sekali denganmu." Bimo menunjukan foto Sena mengenakan hijab.


"Ya, karena dia adalah diriku masa kini." Alena merangkul leher suaminya dari belakang.


"Kalian bertiga adalah kebahagiaan ku." Bimo tersenyum dan mengelus tangan Alena yang berada di lehernya.

__ADS_1


Alena tersenyum melihat putrinya begitu cantik saat mengenakan hijab, dan memang Sena mirip sekali dengan dirinya.


__ADS_2