
Gesya langsung mematung sedangkan Diaz melepas pelukan Fiola paksa.
"Maaf kami permisi." Tanpa mengurangi rasa hormat Diaz pamit dan menunduk, pergi membawa Gesya dengan tangannya.
"Diaz, jangan sampai Mama berbuat nekat, kamu akan tanggung sendiri akibatnya." Mama Diaz berteriak tapi tidak di hiraukan oleh Diaz. Pria itu tetap melangkahkan kaki pergi dari rumah kedua orang tuanya.
"Mas.." Gesya menatap Diaz yang menahan amarah dia tahu kekasihnya itu sedang tidak baik-baik saja. Bukan hanya Diaz, Gesya juga merasa sakit hatinya.
"Ayo, sepertinya malam ini bukan malam keberuntungan kita." Diaz memaksakan senyum untuk Gesya.
Mereka tidak tahu bagaimana, menyembuhkan luka hati Diaz beberapa bulan lalu. Dan ketika Diaz menemukan wanita yang Dian cintai, lagi-lagi Diaz terluka lagi karena wanita itu dinikahi pria lain.
Dan sekarang Diaz kembali menemukan Wanita yang dia sudah mengobati luka hatinya, namun lagi-lagi cintanya kembali di uji dengan perjodohan yang orang tuanya lakukan.
Dian mengemudikan mobilnya menuju rumah Gesya, dia ingin melakukan sesuatu sebelum Diaz kehilangan wanitanya lagi. Kejadian yang pernah orang tuanya lakukan tidak akan pernah Diaz lupakan dan sebelum itu terjadi Dian tidak ingin kwhilangan Gesya.
Gesya hanya diam, menatap Diaz dari samping, Wanita itu tidak tahu ingin bilang apa, karena dia tidak tahu ada masalah apa Diaz dengan keluarganya.
"Dulu Mama sempat berbuat nekat, untuk memisahkan aku dan mantan kekasihku." Diaz tiba-tiba bicara dengan menatap Gesya, seolah tahu apa yang sedang Gesya pikirkan.
"Mama sengaja menyuruh wanita itu pergi dan memberikan sejumlah uang agar wanita itu menjauhiku." Diaz melanjutkan ceritanya.
Mila adalah mantan Diaz sebelum bertemu Alexa beberapa bulan, dan Mila juga wanita sederhana dengan kebaikannya, Diaz yang baru berpacaran tiga bulan harus rela ditinggalkan sang kekasih pergi, dan itu semua ternyata karena Mamanya. Mamanya sudah menjodohkan Diaz dengan Fiola sejak dulu, dan sekarang Fiola sudah lulus kuliah perjodohan itu tetap berlangsung meskipun Diaz tidak menginginkannya.
"Kenapa tidak mencoba untuk menerima Fiola." Tanya Gesya, setelah lama terdiam mendengar cerita Diaz.
Diaz melirik Gesya sekilas. Bibirnya tersenyum tipis. "Karena aku ingin wanita baik-baik untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anakku, bukan wanita yang hanya baik di luar dan kelakuannya minus dibelakang." Ucap Diaz kembali fokus menyetir.
"Maksud kamu." Gesya tidak mengerti.
"Fiola sudah pernah melakukan aborsi."
Glek
__ADS_1
Gesya menelan ludahnya kasar, ternyata Wanita cantik seperti Fiola bisa melakukan hal tercela seperti itu.
"Fiola pintar menutupi keburukannya, didepan kelaurga, dan kedua orang tuaku." Diaz kembali menatap Gesya sekilas. "Aku hanya tidak ingin membuka aib orang lain, selagi orang itu tidak mengusik hidupku, dan aku tidak akan diam jika mereka mulai membuat masalah."
Gesya hanya diam, entah apa yang dia pikirkan. Yang jelas hubungannya dengan Diaz sudah pasti tidak mendapat restu dari keluarganya.
Tak lama mobil Diaz berhenti didepan rumah Gesya, padahal baru setengah jam lalu Diaz meminta ijin untuk membawa Gesya dan pulang mungkin akan sedikit larut.
Tapi karena kejadian tadi, membuat Diaz mengantarkan Gesya pulang lebih cepat.
"Loh nak, kok udah pada pulang." Tanya ibu Gesya, yang membuka pintu karena mendegar suara mobil.
"Iya Bu, ada sesuatu yang penting, jadi kami cepat pulang." Jawab Diaz membuat Gesya menatap Diaz memincing.
"Oh, yasudah ayo masuk kebetulan ibu dan anak-anak lagi makan." Ibu Gesya menyuruh Diaz untuk ikut makan, meskipun hanya makanan sederhana tapi bagi Diaz kehangatan di meja makan adalah yang membuatnya terharu.
"Maaf, tapi ibu hanya bisa memasak seperti ini." Ucap ibu Gesya merasa tidak enak, karena Diaz termasuk orang mampu.
"Tidak apa Bu, Diaz suka masakan ibu." Diaz menerima piring yang sudah diisi nasi dan juga sayur tumis kangkung dengan lauk ikan lele goreng dan tempe, tahu goreng.
Diaz memang bukan pertama kali memakan masakan ibu dari kekasihnya, terkadang Gesya juga membawa bekal ke kantor dan Diaz dengan sengaja mengambil jatah bekal Gesya menjadi dua.
Setelah selesai Diaz mencuci tangannya, dan kembali duduk di meja makan. Dia sudah membulatkan tekadnya dengan niat ingin melamar Gesya.
"Bu, Diaz ingin meminta ijin." Ucap Diaz bicara didepan ibu Gesya.
Gesya sendiri masih mencuci piring, tapi telinganya bisa jelas mendengar.
"Ijin apa nak." Ibu Gesya nampak bingung.
"Diaz minta ijin untuk melamar anak ibu, Diaz mencintai Gesya dan ingin menjadikan Gesya menjadi istri Diaz." Ucap Diaz jujur dan tulus.
Gesya yang mendengar perkataan Diaz. Tersenyum haru.
__ADS_1
"Ibu terserah pada Gesya, jika Gesya menerima dan mau, maka ibu akan senang hati menerima. Keputusannya ibu serahkan pada anak ibu Gesya.
.
.
Ren memasuki kamar setelah mendapatkan apa yang Istrinya mau.
"Sayang di makan dulu." Ren menaruh piring yang berisikan makanan yang Alexa minta, sate kambing tidak menggunakan tusuk sate.
Ren saja sampai mikir keras. Minta sate kambing tapi tidak pakai tusuk sate?
Pada akhirnya Ren berangkat membeli dan memesan seperti apa yang Istrinya katakan, dan Ren malah jadi bahan ledekan para pembeli disana.
Beruntung bapak penjual mengerti dengan permintaan Ren, apalagi Ren mengatasnamakan ibu hamil sedang ngidam. Ren belajar dari pengalaman yang pernah dia rasakan.
"Ini namanya sate kambing tanpa menggunakan tusuk sate." Ucap Ren tersenyum.
Alexa menatap piring yang Ren bawa, dirinya merasa sudah kenyang hanya melihat saja.
"Tapi aku sudah tidak ingin." Ucap Alexa dengan kembali berbaring di kasur.
"Eh, kok. Jangan gitu dong kamu harus makan ini nanti anak kita ileran." Ucap Ren yang masih menunggu Alexa untuk memakan sate tanpa tusuk sate.
"Ngak mau Mas, aku ingin makan eskrim saja." Alexa duduk dengan wajah menatap suaminya. "Pengen makan eskrim." Ucap Alexa dengan wajah imutnya.
Ren menghela nafas, dirinya sudah susah-susah mendapatkan sate yang butuh perjuangan mengantri. Tapi istrinya malah menginginkan makanan lain lagi.
"Boleh, tapi kamu harus makan ini dulu setidaknya sedikit agar bayi kita tidak kelaparan." Ren mengulurkan sendok berisikan nasi dan juga sate yang tadi dia beli. Mau tidak mau Alexa menerima suapan dari suaminya dan dia segera mendapatkan apa yang dia inginkan.
Setelah beberapa saat pada akhirnya Nathan mampu membuat Alexa memakan semua nasi dan sate yang dia bawa tadi, bibirnya menyongking kan senyum melihat piring yang dia pegang sudah kosong.
"Sekarang ayo kita beli es krim." Ucap Alexa dengan wajah berbinar. Membuat Ren geleng kepala.
__ADS_1
"Begitu cepat mood ibu hamil berubah." Gumamnya, mengikuti langkah Alexa yang sudah lebih dulu keluar dari kamar.