
Mobil Bimo keluar dari perkarangan rumah menuju ke alamat kedua orang tuanya. Sepanjang jalan Alena hanya diam, entah apa yang Ia pikirkan.
Tidak ada, tentu saja tidak?
Alena menatap keluar jendela dengan pikiran berkelana, bagaimana reaksi atau tanggapan kedua orang tua Bimo nanti. Dan bagaiman jika dirinya tidak diterima walaupun sudah menikah dengan Bimo.
Entah mengapa dalam hatinya mulai merasa takut, dirinya baru saja memulai hidup baru dengan pria yang dicintainya setelah di khianati pria mantan kekasihnya.
Mengingat hal itu, entah mengapa membuat Alena tidak sedih sama sekali, malah perihatin dan merasa bersalah kepada kedua orang tua Diki. Baginya kedua orang tua Diki sudah seperti kedua orang tuanya, namun karena sikap Diki semua menjadi seperti ini.
Sedih dan hancur ketika di khianati?
Jawabannya tentu tidak. Entah mengapa dirinya tidak sedih sama sekali meskipun pria yang menjadi tunangan nya berselingkuh mengkhianati nya.
Yang Alena sesali kenapa Diki tega membiarkan Alisa tak berdaya di jalan, dan tidak membantu untuk di bawa kerumah sakit, dan malah kabur bersama wanita selingkuhannya.
Dirinya sudah melupakan masalah itu, dan sekarang masalah terbesar mungkin sudah ada di depan matanya, yaitu meminta restu kepada kedua orang tua suaminya.
Cup
Alena tersentak ketika pipinya dicium oleh Bimo.
"Kita sudah sampai." Bimo tersenyum ketika Alena menoleh.
"Sudah sampai?" Tanya Alena cengo.
"Hm..kamu melamun dan tidak menyadarinya." Bimo mengusap kepala Alena. "Jangan khawatir, aku akan selalu ada di samping kami." tangannya di kecup lembut oleh Bimo.
Hati Alena pun menghangat, meskipun jantungnya berdebar tak karuan.
"Janji, apa pun yang terjadi jangan pergi dariku." Bukan Alena yang berbicara melainkan Bimo yang menatap intens manik coklat Alena.
Alena merasa hatinya terenyuh, sebegitu besarkah cinta suaminya padanya? jika Ia, beruntung kah dirinya memiliki cinta pria seperti Bimo.
Sepetinya Iya, dan benar kata Indira, jika dirinya beruntung di cintai oleh seorang pria dingin bernama Bimo Bagaskara.
"Janji." Bimo masih menatap lekat wajah cantik didepanya dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
Alena menggangguk." Janji." Senyum manis terbit dari bibir keduanya, mereka sama-sama saling mencintai.
Bimo menarik tubuh Alena untuk mendekat, dan mendaratkan lummattan kecil di bibir ranum istrinya.
"Emph.." Alena mendorong dada Bimo, ketika dirinya kehabisan napas.
"Maaf." Bimo terkekeh mendapat tatapan tajam dari istrinya. Jarinya mengusap lembut sisa Saliva di area bibir tipis Alena.
Bimo keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintu Alena.
"Ayo.." Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Alena.
Tak lama seorang pelayan membukakan pintu untuk dirinya.
"Aden, sudah ditunggu tuan dan nyonya dimeja makan." Ucap pelayan itu dengan senyum karena melihat putra satu-satunya majikanya membawa gadis kerumah.
Hari sudah siang, padahal Bimo sempat mengirim pesan kepada Mama nya akan datang sebelum siang. Karena kendala ranjang dan hasrat yang tak bisa di tunda akhirnya dirinya datang hingga siang hari.
"Siang.." Sapa Bimo ketika sampai di meja makan, namun dirinya tak menyangka melihat Siera dan orang tuanya ada dirumah nya juga.
"Sayang kamu sudah datang." Leina langsung berdiri menyambut kedatangan putranya dengan wajah bahagia.
"Kamu bikin Mama kesal, dan lama menunggu." Ucap Leina dengan wajah pura-pura kesal.
"Hanya sebentar Mah, tidak sampai sehari." Ucapnya dengan terkekeh.
"Pah.." Bimo mendekat ke arah Rendy, dan Rendy pun memeluk putra satu-satunya itu.
"Apa kabar Nak?" Ucap Rendy menepuk punggung putranya. "Sepertinya kamu jauh lebih baik." Tambahnya lagi setelah melepas pelukannya.
"Papa tau aja." Bimo tersenyum lebar mendengar ucapan papanya.
Alena hanya berdiri diam melihat interaksi ketiga orang yang sedang melepas rindu, bisa dipastikan mereka sangat menyanyangi dan merindukan Bimo.
Tanpa Alena sadari, sejak dirinya datang, sepasang mata menatapnya dengan tatapan menyelidik. Siera menatap Alena dari atas hingga bawah, penasaran kenapa wanita yang bekerja sebagai OB di kantor Bimo bisa datang bersama Bimo.
"Nak siapa yang kamu bawa?" Rendy yang menyadari sejak Bimo datang membawa seorang gadis, dirinya penasaran dan juga kepo karena putra nya pertama kali membawa gadis kerumah.
__ADS_1
"Oh..iya..kenalin Pah, Mah, ini Alena." Bimo berjalan mendekati Alena, mengandeng tangan Alena untuk dikenalkan kepada kedua orang tuanya.
"Alena?" Tanya Leina mengerutkan keningnya.
Alena pun mendekat dan menyapa Rendy dan Leina dengan mencium tangan kedua orang tua Bimo.
"Ya sudah berhubung sudah waktunya makan siang, kita makan bersama..kebetulan Mama mengundang Siera dan kedua orang tuanya karena kamu mau datang kerumah." Leina segera duduk di kursinya kembali tidak ambil pusing dengan gadis yang Bimo bawa.
Alena menatap wajah Bimo, dibalas dengan senyum dan elusan di tangan Alena. Kegiatan mereka tak luput dari mata Siera yang terus menatap keduanya berusaha menerka-nerka hubungan Bimo dan gadis OB itu.
"Sayang ayo duduk." Liena kembali bersuara ketika Bimo tak kunjung duduk.
"Ayo, semua akan baik-baik saja." Ucapnya pelan, seakan mengerti kegelisahan yang dialami istrinya.
Rendy hanya tersenyum tipis, melihat putranya yang begitu hangat dan perhatian dengan Istrinya. Ehh kok?
Ya, Rendy sudah tahu jika putranya menikahi gadis yang bekerja di kantornya sebagai OB itu, awalnya Rendy tidak percaya ketika melihat Bimo berduaan dengan gadis itu di dalam ruang kerjanya, karena yang Rendy tahu putranya itu sudah untuk di dekati oleh wanita.
Tanpa Bimo dan Leina tahu, Rendy mengirim orang untuk mengawasi kegiatan putranya dan benar saja ternyata putranya itu sudah jatuh cinta pada gadis cantik yatim piatu itu. Rendy tidak marah ataupun melarang, diri nya justru senang karena putranya mencintai gadis cantik dan baik seperti Alena, apalagi Alena adalah korban yang di khianati. Apapun tentang putranya Rendy sudah lebih dulu tahu sebelum Bimo sendiri mengantakannya, selama tidak melampaui batas Rendy akan membiarkan hal itu.
"Apa kabar Bimo, lama kita tidak bertemu?" Sapa tuan Richard kepada Bimo yang sudah duduk di kursi sebrang meja.
"Baik Om, seperti yang anda lihat." Tegas dan wibawa Bimo masih membawa perannya ketika bertemu dengan orang dewasa apalagi rekan kerja perusahaanya.
"Anak jeng Leina, tambah ganteng aja..lihat Siera saja sejak tadi tak berkedip." Canda istri Tuan Richard yaitu nyonya Yola.
Siera yang tertangkap basah oleh Mama nya pun tersenyum malu dan menatap Bimo sekilas.
"Ah..jeng Yola bisa aja, mereka .emang cantik dan tampan sudah pasti cocok." Ucap Leina dengan wajah bahagia tanpa melihat wajah putranya yang terlihat tak suka.
Lagi-lagi Rendy hanya menghela napas dalam, sebelum mengundang keluarga Mahren, Rendy sudah melarang istrinya untuk mengundang mereka, karena dirinya tahu jika putranya datang untuk memperkenalkan gadis yang sudah Ia nikahi tanpa sepengetahuan mereka. Dan akhirnya Rendy mengalah karena malas harus berdebat dan mendengarkan Leina yang mengoceh tanpa henti.
Tidak ada yang tahu hati Alena seperti apa, meskipun suaminya cuek dan tidak menanggapi ucapan mereka namun Alena cukup mengerti jika dirinya seperti tak ada di antara mereka.
Sedih tentu saja, namun tangan hangat di bawah sana selalu membuatnya merasa dimiliki oleh pria yang mereka bicarakan.
Melihat Siera, Alena tidak ada apa-apa nya dibandingkan wanita yang pernah Alena dengar yang akan dijodohkan kepada suaminya. Siera cantik dan berkelas, beda dengan dirinya yang apa adanya.
__ADS_1
Meskipun begitu dirinya lah pemilik hati dan tubuh pria yang mereka bicarakan.