
"Jangan terlalu lelah mas.." Seorang wanita membawakan minuman hangat untuk suaminya yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Bimo tersenyum, lalu menegakan tubuhnya untuk bersandar di bahu ranjang. "Terima kasih sayang." Senyum rupawan selalu Bimo berikan kepada sang Istri. Hanya Alena yang bisa melihat senyum itu setiap hari.
"Aku hanya capek, Istirahat pasti sudah kembali bugar." Ucapnya dengan memberikan gelas yang Alena kasih, Alena menerima dan menaruhnya di atas nakas.
"Kamu terlihat kurus, aku selalu memperhatikanmu yang mulai sedikit makan." Alena bersandar di dada suaminya, meskipun sudah mau kepala lima dada itu adalah tempat pertama bersandar, masih sama tidak ada bedanya.
Tangan Bimo mengelus kepala sampai lengan Alena, "Itu wajar sayang, karena usia ku sudah tak muda, dan dengan sendirinya mengurangi napsu makan, tidak usah khawatir." Bibirnya mengecup pucuk kepala Alena.
"Kamu tidak kasihan anak-anak, mereka begitu menyayangimu, apalagi cucu kita mereka ingin di gendong kakeknya jika bermain." Alena mendongak menatap sendu wajah pria yang begitu dia cintai. Wajah yang masih tampan, meskipun sedikit ada guratan kulit di sekitar matanya.
Bimo terkekeh, "Kenapa kamu melihatku seperti itu, aku akan baik-baik saja menunggu cucu kita semua berkumpul, dan besar bersama."
Alena kembali merebahkan kepalanya di dada suaminya, "Aku tidak bisa menjaga mereka, hanya kamu yang bisa membantuku menjaga mereka." Alena berkata dengan suara lirih, merasakan sesuatu yang sesak di dadanya.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga mereka semampu yang aku bisa." Keduanya saling memeluk, memeluk dengan perasaan yang berbeda. Hanya ada cinta di dalam diri keduanya.
__ADS_1
Bimo membuka kedua matanya, mengusap sudut matanya yang basah.
"Aku janji sayang, aku bertahan demi janjiku padamu." Bibirnya menyunggingkan senyum ketika matanya melihat senyum Alena di atas sana. Senyum yang selalu membuatnya tak bisa berpaling.
Jam menunjukan pukul dua malam, Bimo bangun untuk melakukan shalat malam, mencari ketenangan untuk hati dan pikirannya yang selalu tertuju pada mending Istrinya.
.
.
.
Pagi hari Alexa selalu riweh dengan aktifitas nya, dari mulai bangun tidur, menyiapkan sarapan, belum lagi sekarang suaminya begitu manja tidak seperti biasanya.
Meskipun begitu Alexa tetap tersenyum, karena dua senang melakukan hal yang suaminya minta, itu berarti Ren membutuhkannya untuk membantu.
"Sudah rapi." Alexa mengusap dasi yang baru saja dia pasangkan.
__ADS_1
"Terima kasih." Ren merangkul pinggang Alexa dan mencium keningnya.
"Ayo sarapan, katanya kamu ingin makan nasi liwet, sudah aku buatkan." Alexa tersenyum.
Ren pun ikut tersenyum. "Terimakasih sayang." Mereka duduk di kursi berhadapan, karena Alexa ingin berbicara masalah Jihan, tadi malam dirinya terlalu lelah, jadi tidak sempat membicarakannya.
"Enak?" Tanya Alexa yang melihat suaminya memakan dengan lahap.
"Em, enak, aku baru pertama makan nasi seperti ini." Ucap Ren ketika sudah menelan habis makannya, hingga tak tersisa di piring.
"Mas, aku mau bicara." Alexa berkata lirih, menatap wajah Ren yang menunggu ucapanya. "Kemarin aku bertemu ibunya Jihan, dia meminta agar kamu mau membebaskan Jihan." Alexa menatap suaminya lekat, menunggu reaksi Ren. Tapi Alexa melihat ekspresi wajah Ren biasa saja tidak terkejut.
"Lalu?"
"Em, aku kasihan melihat beliau seperti itu, dia bilang beliau sedang sakit dan harus mencari uang untuk biaya pengobatannya." Ucap Alexa lagi dengan menatap sendu suaminya.
"Aku ingin Mas, membebaskannya."
__ADS_1