
Malam nampak suasana hangat di kediaman Richard karena makan malam dengan Rendy Bagaskara. Meskipun diawal Richard nampak kecewa karena putra Rendy tidak ikut, namun hal tersebut tidak mengurungkan niatnya untuk mengutarakan maksud pertemuan dua keluarga ini.
"Sayang sekali putramu tidak bisa ikut hadir Ren, padahal putriku sangat ingin bertemu." Ucap Richard dengan suara khas nya.
"Maklum saja Rich, putraku memang selalu sibuk dengan pekerjaan nya, pulang kerumah saja tidak pernah." Rendy mencoba untuk memberi pengertian, agar tidak membuat Richard terlalu kecewa, padahal Richard sudah menginvestasikan dana yang begitu besar untuk pembangunan proyek di kota S. Tapi yang namanya Bimo tidak bisa di atur, apalagi pertemuan bukan masalah bisnis.
"Anak muda jaman sekarang memang susah diatur." Ucap Richard yang menyesap minumnya.
"Oh, ya nak Siera sibuk sebagai model majalah, atau apa?" Tanya Leina berusaha mengalihkan pembicaraan tuan Richard yang membahas Bimo.
"Saya sedang sibuk syuting majalah fashion Tante, dan kebetulan sedang dapat job di Jakarta." Ucapnya dengan senyum ramah.
"Kenapa tidak melanjutkan usaha tuan Richard, malah lebih memilih karir sebagai model." Ucap Leina lagi.
"Bukanya saya tidak mau Tante, tapi saya masih ingin mencari kebebasan untuk menyalurkan hobi saya, jika sudah masuk di perusahaan Daddy pasti Siera tidak akan bisa kemana-mana yang ada hanya pemandangan kertas menumpuk saja." Siera dengan wajah cemberut menceritakan kenapa dirinya belum tertarik untuk terjun ke dunia bisnis keluarganya.
Mereka semua tertawa mendengar keluhan Siera. "Mungkin Siera akan mencari calon suami yang bisa menjalankan bisnis ayahnya." Ucap Nyonya Richard yaitu Yola.
"Jika begitu beruntung sekali yang akan menjadi suami mu nak, yang akan langsung menggantikan tuang Richard." Rendy mencoba berkelakar.
"Jangan salah kamu Ren, menjadi suami Siera juga harus lulus seleksi kriteria yang pantas." Ungkap Richard, secara tidak langsung nilai putrinya harus sebanding dengan pria yang akan menjadi suaminya.
"Ya, dan jika aku punya anak perempuan satu-satunya pasti aku juga akan melakukan hal sama dengan mu."
"Memangnya pria mana yang beruntung mendapatkan gadis cantik dan pintar seperti Siera ini, pasti pria itu sangat beruntung." Ucap Leina dengan menatap Siera dengan senyum dan kagum.
"Siera belum punya pacar ataupun kekasih Tante." Ucap Siera dengan wajah anggunya.
"Mumpung kita bicara soal anak-anak kita, bagaimana jika kita jodohkan anak-anak kita?" Ucap Richard dengan menatap semua orang yang ada di ruangan itu satu persatu. "Jika keluarga kita memiliki ikatan maka sudah pasti kedua perusahaan kita akan mendapat urutan paling atas." Richard kembali berbicara.
Mendengar ucapan Richard membuat Rendy merasa risih karena membawa anak mereka dalam perjodohan bisnis. Dan banyak di kalangan pengusaha seperti mereka melakukan perjodohan anak mereka dengan dalih bisnis tidak akan membuat anak mereka bahagia.
__ADS_1
"Wah..itu ide bagus, apalagi saya juga sangat ingin segera memiliki menantu." Leina begitu berbinar mendengar ucapan tuan Richard yang akan menjodohkan gadis secantik Siera dengan putranya.
"Mah.." Rendy menatap Leina tidak suka dengan ucapan nya barusan.
"Anda benar sekali jeng, saya juga ingin melihat Siera menikah dengan pria yang tepat, jaman sekarang kan susah mencari pria yang baik dan sepadan dengan keluarga kita." Ucap Yola mengamini ucapan Leina.
"Ya..dan jika kalian setuju kami akan mengatur acara pertunangan anak-anak kita, saya juga sudah yakin dengan putramu Ren, yang ambisius dalam bisnis." Richard menepuk pundak Rendy.
"Jika Maslah itu, nanti saya akan bicarakan dulu dengan putraku, saya sebagai orang tua tidak bisa memaksa jika dia tidak menginginkan hal ini." Ucap Rendy yang sebenarnya tidak setuju dengan pernyataan Richard.
"Papa tenang saja nanti mama yang akan membujuk anak kita." Leina begitu antusias tidak bisa mengartikan ucapan Rendy yang sebenarnya menolak secara halus.
"Baiklah jika begitu saya tunggu kabar baik dari kalian." Richard menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Dirinya akan berusaha untuk membaut putrinya bisa bertunangan dengan putra tunggal Bagaskara.
Siera Mahren adalah putri satu-satunya Richard Mahren. Siera yang menggeluti hobi nya di bidang permodelan membuat gadis berusia 23tahun itu banyak yang mendekati dan mengincar untuk menjadi salah satu orang terdekatnya, meskipun mempunyai paras cantik dan pintar, Siera bukan wanita yang gampang di rayu. Siera adalah gadis yang akan berusaha mendapatkan apapun yang Ia inginkan.
Lahir di keluarga kaya raya, tidak membuat siera sombong, justru gadis cantik yang berprofesi sebagai model itu lebih ramah dan baik.
.
.
"Ck. ternyata Ale tidak datang." Bimo mendesah kesal.
Beranjak dari sofa ruang tv menuju kamarnya, berniat membersihkan diri.
Karena terlalu lelah dan capek dengan pekerjaan hari ini Bimo sampai ketiduran di sofa sambil menunggu Alena datang namun, hingga dirinya bangun pun, Alena juga tidak kunjung datang.
Entah mengapa melihat Alena di jemput oleh tunangannya membuatnya tidak suka, jika dipikir-pikir tidak ada yang salah jika mereka pergi berdua.
Bimo mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang hangat, hingga tiga puluh menit dirinya selesai dengan ritualnya.
__ADS_1
Memakai kaus polos dan celana pendek Bimo keluar kamar berniat untuk memesan makanan online karena dirinya sangat lapar.
"Kenapa seperti bau masakan." Bimo mengendus aroma yang begitu menggugah selera, membuat cacing diperutnya kian meronta.
Dari belakang bisa dirinya lihat jika ada seorang gadis yang sedang asik memasak, tanpa bertanya pun Bimo tahu siapa gadis itu.
Alena datang ketika Bimo sedang mandi, dan dirinya berinisiatif untuk memasak, karena Alena yakin jika bosnya itu belum makan malam, terlihat dimeja tidak ada bekas sampah makanan, selain itu juga sebagai tanda permintaan maafnya karena sore tadi tidak bisa datang.
Bimo berjalan mendekati Alena yang sedang bertempur dengan alat masaknya, tubuh Bimo menunduk untuk mengunci pergerakan Alena dari belakang, tangan nya bertumpu di sisi tubuh Alena.
"Kamu datang." Napas Bimo terasa hangat menerpa kulit pipi Alena dari samping.
Alena membeku merasakan betapa dekatnya posisi mereka, jantung nya kian berdebar tak karuan.
"Ba_bapak sedang apa?" Alena gugup bahkan tangan nya mencekram erat spatula yang dirinya pegang.
"Jangan panggil aku bapak, jika sedang berdua Ale." Bukanya menjawab dan menyingkir Bimo malah mendekatkan dada nya pada punggung Alena. Meskipun tubuh Bimo lebih tinggi namun karena menunduk membuat Alena merasakan jantung bosnya yang juga sedang berdebar kencang seperti dirinya.
"Maksudnya tolong minggir pak."
Bimo menunduk kan kepalanya bertumpu dipundak Alena, tangan nya meraih tombol kompor untuk mematikan nya.
"Kenapa jantung aku berdebar dua kali lebih cepat ketika dekat sama kamu Ale."
.
.
.
Semangat Yoo semangat,,,,caranya๐๐Like sebanyak-banyaknya..dan komen di setiap bab..itu sudah sangat membantu author untuk semangat update..๐๐๐
__ADS_1
Jantung ayang aman kok,,,,tenang saja๐