
Seira dengan menahan amarah keluar dari ruangan Bimo dengan wajah kesal.
"Loh.. nona." Daniel yang ingin masuk pun kaget tiba-tiba Siera keluar dengan wajah menahan amarah.
"Ini sebenernya kenapa sih, tadi pagi Alena, sekarang anak sultan." Daniel menggelengkan kepala dan tidak jadi masuk keruangan bosnya, karena niatnya ingin memberi kan berkas. Mengingat sudah dua kali mendapat tatapan tajam bosnya membuat Daniel tidak mau untuk ketiga kali.
Bimo melepas jasnya dan melempar ke sembarang arah, tubuhnya Ia rebahkan di ranjang king size nya.
"Ale.." Bimo bergumam lirih dengan mata terpejam, pikirnya selalu tertuju pada Alena.
Bukan salah Alena jika sedang marah padanya, melainkan keadaan yang belum berpihak padanya. Bimo hanya ingin memberikan Alena waktu agar memahami perasaanya sendiri, jika hatinya bukan lagi untuk tunangannya.
.
.
Alena menangis dalam diam, dadanya begitu sesak membuatnya merasa lelah.
Jam menunjukan pukul tujuh malam, semua karyawan sudah pulang ke tempatnya masing, kecuali bagian divisi yang harus mengejar Dateline untuk lembur, itupun hanya sebagian orang saja.
Bimo menatap jam di pergelangan tangannya, dirinya enggan kembali ke apartemen namun tubuhnya terasa lelah. Seharian dirinya hanya bekerja, menyibukkan diri agar bisa mengalihkan pikiranya dari Alena.
Besok dirinya akan pergi ke kota S dengan waktu yang lumayan lama, sementara di kantor akan di handel oleh papanya.
__ADS_1
Bimo menggulung kemeja lengan panjangnya sampai siku, dasinya sudah Ia lepas dan kancing dua teratas sudah tidak pada tempatnya. Hari ini sungguh pekerjaan yang menguras tenaganya.
Keluar dari ruangannya sudah tidak ada sekertaris ataupun Asisten nya Daniel, karena mereka Memeng sudah pulang sebelum petang.
Bimo berjalan menuju lift, namun baru dua langkah membuatnya kembali berhenti.
Matanya tak sengaja melihat lampu pantry masih menyala terang, karena biasanya jika malam hanya ada satu lampu yang di hidupkan.
Bimo kembali berbalik dan melihat ke pantry apa masih ada orang disana.
Melihat kesekeliling tidak ada siapa-siapa. Namun ketika ingin berbalik ekor matanya melihat kaki seseorang sedang duduk di lantai.
Bimo mendekat dengan langkah pelan, melihat siapa yang berada disana.
Dadanya berdebar, perasaanya begitu perih melihat Alena yang memejamkan mata dengan kepala bertumpu kesamping.
Bimo berjongkok didepan Alena dirinya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik yang sudah membuatnya merasa rindu.
Wajah itu kini terlihat pucat dan sembab, pasti Alena menangis lagi.
"Kenapa kamu jadi begini." Bimo mengelus pipi Alena lembut.
"Kamu demam..?" Bimo memegang kening dan leher Alena yang terasa panas. Bahkan Alena sempat menggigil.
__ADS_1
"Sayang...Alena..bangun..!!" Bimo menepuk pipi Alena untuk menyadarkan nya.
Tangan nya meraih tubuh Alena untuk dirinya gendong.
Bimo mendorong pintu mengguna kan kakinya, masuk kekamar pribadinya dan merebahkan Alena disana. Tidak mungkin dirinya membawa Alena pulang dalam keadaan seperti ini. Pasti Alisa akan panik.
"Ale..sayang?" Bimo mengelus kepala Alena, namun gadis itu tidak mau membuka mata.
Bimo melepas baju dan celana yang Ia kenakan, dan hanya menyisakan celana pendek saja.
"Maaf Ale...Hanya ini yang bisa aku lakukan." Bimo melepas kemeja yang Alena pakai hingga hanya menyisakan dalaman Alena saja, meskipun sempat menelan ludah kasar sekuat tenaga agar dirinya tidak akan hilaf. Melihat tubuh mulus Alena yang hanya menggunakan dalaman membuat Bimo tersiksa sendiri.
Bimo merebahkan tubuhnya disamping Alena, sehingga kulit mereka saling menempel. Bimo menggunakan cara skin to skin agar demam Alena menurun.
"Jangan sakit hanya gara-gara aku, maaf sudah membuatmu menangis dan sakit." Bimo mengecup kening Alena. "Hanya butuh waktu untuk kita bersama." Mengecup bibir Alena sekilas Bimo ikut memejamkan mata dan memeluk Alena dengan erat.
.
.
Hilaf gaess🙈
Semoga juga kalian hilaf, kirim banyak hadiah dan kopi🥱👉☕
__ADS_1