
Nisa melihat Daniel yang keluar dari mobil heran, "Loh mas kenapa duduk disitu." Karena melihat Daniel duduk Nisa ikut keluar dan bertanya.
Lila yang tadinya ceria, sekarang malah sudah tidur di dalam mobil karena nyaman.
Mereka sama-sama duduk di bawah pohon dengan kursi kayu yang tersedia.
"Menunggu Bimo lama, bosan jika di dalam mobil." Ucap Daniel dengan mengeluarkan bungkus rokoknya, Daniel memang perokok tapi jika berada di luar kantor.
"Memangnya mas Bimo suka lama di sana?" Tanya Nisa lagi yang sepertinya penasaran dengan aktifitas yang Bimo lakukan.
Daniel mengembuskan kepulan asap ke atas, jarak duduk mereka cukup jauh. "Ya, bisa berjam-jam malah." Ucap Daniel tanpa melihat Nisa yang wajahnya sudah berbeda.
Nisa mencerna ucapan Daniel, paling lama orang berziarah mungkin hanya tiga puluh menit, dan kata Daniel Bimo bisa berjam-jam. Lalu apa yang pria itu lakukan di sana, apakah dia menangis?
__ADS_1
Pikiran Nisa malah berkelana memikirkan Bimo. "Kalau mbak mau pulang saya antar lebih dulu, takutnya nanti kelamaan di sini, karena Bimo biasanya menghabiskan waktu sampai dua jam." Daniel menatap Nisa sekilas. Dirinya tahu jika wanita yang duduk didekatnya menaruh hati pada bos yang juga sudah dia anggap kerabat, tapi Daniel tidak yakin jika perasaan wanita itu akan terbalas.
"Kak kenapa kita disini?" Lila tiba-tiba bangun dan keluar dari mobil membuat Nisa yang sedang berkelana kembali sadar.
"Eh, Oya sayang. paman Bimo sedang berziarah." Ucap Nisa menghampiri Lila.
"Ayo saya antar pulang, kasian Lila jika lama disini." Ucap Daniel yang juga merasa tidak enak, jika mereka ikut menunggu Bimo yang menjenguk makam Istrinya.
Nisa pun tidak ada pilihan, dirinya juga memikirkan Lila, apalagi di panti juga akan ada acara dan Nisa memilih untuk di antar pulang lebih dulu.
.
.
__ADS_1
"Mas, nanti obatnya jangan lupa diminum." Alexa memberikan kantung plastik obat yang dia beli tadi, takutnya Ren akan mengalami sakit perut seperti yang sudah-sudah.
"Iya deh, orang dibilangin aku gak kenapa-kenapa." Jawab Ren sambil meraih obat yang Alexa berikan.
"Hanya untuk berjaga-jaga, jika mas tidak sakit maka ayah baby twins patut di acungi jempol." Ucap Alexa dengan mengacungkan kedua jari jempolnya.
Ren tersenyum. "Sepertinya sekarang yang ngidam aku, bukan kamu." Ucap Ren lagi, sambil menekan angka untuk sampai di lantai tujuh.
Alexa tersenyum. "Itu bagus, tandanya mereka juga ingin papanya merasakan apa yang di alami Mamanya." Alexa mengelus perutnya yang masih rata.
"Ya, sepertinya mereka juga ingin aku merasakannya." Ren memeluk Alexa dari belakang, dan mencium pipinya.
Kehamilan Alexa masih berjalan empat Minggu, dan Ren berusaha menjaga dengan baik, dirinya yang suka seenaknya meminta jatah kini harus bersabar menahan hasrat ketika mendengar penjelasan sang dokter. Demi keselamatan dua buah hatinya, Ren rela puasa hingga berminggu-minggu.
__ADS_1
Sungguh hal seperti yang Ren tidak bisa hindari untuk sekarang semenjak dirinya memiliki Alexa. Jika dulu dirinya tidak memusingkan hal seperti itu, tapi sekarang jika satu Minggu tidak menyentuh sang istri membuat Ren uring-uringan, dan pasti Juno yang akan menjadi pelampiasannya.
'Semoga imanku kuat tuhan, jauhkan dari godaan sang istri.' Doa Ren dalam hati.