
Waktu sudah menunjukan jam makan siang Sena yang sejak tadi berkutat dengan pekerjaannya lupa jika sudah waktunya makan siang.
tok..tok..tok
Pintu terbuka ketika mendengar sautan dari dalam. Kemal masuk dengan geleng kepala.
"Kak ayo makan siang." Ucap Kemal yang berdiri di ambang pintu, pria itu hanya kagum melihat Sena yang begitu antusias dan serius bekerja hingga sampai lupa waktu.
Sena pun mendongak menatap sekilas Kemal.
"Apa banyak pekerjaan, sehingga kakak lupa waktu." Ucapnya lagi karena tidak mendapat jawaban dari sang empu.
"Sebentar lagi." Jari Sena menari indah di atas keyboard laptopnya.
"Laporan nya masih akhir bulan kak, tapi kenapa terlihat sibuk sekali." Kemal berjalan mendekati meja dimana Sena sedang fokus.
"Kakak lagi buat data baru biar kakak lebih mudah untuk melakukan nya, karena data yang lama menurut ku rumit, masih pakai cara lama." Sena fokus pada layar di depannya, sedangkan Kemal berdiri di samping Sena, melihat bagaimana wanita yang sudah Ia anggap kakak itu mengakses semua data menjadi mudah.
"Ok.." Sena menekan tombol enter, dan selesai.
"Hah, akhirnya." Bernapas lega Sena begitu luas dengan program barunya, pasti akan sangat mudah baginya untuk melakukan pekerjaan nya sekarang ini.
"Ayo.." Sena berdiri.
"Kakak hebat." Kemal memberi applause kepada Sena.
"Ck. lebay." Sena ngeloyor keluar lebih dulu.
"Tapi beneran kakak hebat, memiliki program baru bahkan aku sendiri belum bisa membuat program itu." Ucap Kemal yang sudah berjalan di samping Sena.
"Kamu berlebihan Mal."
Keduanya berjalan beriringan sambil berbincang.
Dan kedekatan mereka dilihat banyak para pegawai yang juga keluar pabrik untuk istirahat.
"Ya Tuhan, senyum pak Kemal manis banget." Ucap Windi teman mawar, kedua gadis itu melihat Kemal dan Sena berjalan beriringan, Kemal yang tersenyum dan kadang tertawa membuat para wanita yang mengidolakan nya girang bukan kepalang.
"Ck. Apa bagusnya nya sih cantikan juga gue." Mawar menatap malas kedua orang itu. "Yuk cabut."
"Mal, Aku ingin makan di kedai sana." Ucap Sena pada Kemal.
"Oke, Kemal temani." Kemal pun membukakan pintu mobilnya untuk Sena.
__ADS_1
Semua perlakuan Kemal tak luput dari bibir karyawan yang sudah trending di grub lambe-lambe lamis di karyawan pabrik.
"Mereka cocok ya, apalagi pak Kemal jadi murah senyum waktu itu cewek masuk pabrik."
"Iya, gak kayak biasanya terlihat cuek dan datar."
"Siapa sih yang gak senang punya cewek cantik kaya kepala bagian di pengemasan itu."
"Iya, pasti keduanya beruntung."
Banyak bibir-bibir yang masih asik menggosipkan mereka berdua.
"Eh..mak-mak netizen biang gosip, hp gue aja sampai lowbat gegara gak bisa nampung gibahan kalian,ini masih saja pada gibah." Dadang menatap beberapa wanita yang sedang membicarakan atasannya.
"Ck, lu juga bilangin orang, tapi lu juga jadi kompor." Rian merangkul leher Dadang menggunakan tangan kekarnya, membuat Dadang terseret dan kesusahan bernapas.
'Kenap gak asing liat tu cewek dari belakang' Batin Rian.
.
.
Kedai restoran yang Sena datangi cukup ramai siang ini. karena karyawan kebayangkan juga makan di sini.
Pelayan itu menatap Sena dengan kening berkerut.
"Bilang saja jika Biana Sena Bagaskara ingin bertemu." Ucap Sena pada pelayan wanita itu yang seperti nya bingung dia siapa.
"Em..baik nona." Pelayan itu segera berlalu pergi menuju di mana ruangan bosnya berada.
"Kita duduk sana kak." Sena mengikuti Kemal menuju meja pojok yang sedikit jauh dari para pengunjung lainya.
Sena mengedarkan pandangannya menyusuri kedai yang lumayan besar dan nampak sejuk karena banyak pepohonan di samping kedai, parkiran pun juga luas.
"Permisi.." Karyawan itu mengantarkan pemilik kedai yang ternyata sudah lumayan tua karena berjalan saja sudah menggunakan tongkat.
Sena menoleh dan mendapati wanita tua yang masih sehat berdiri di belakangnya.
"Em..nenek.." Sena langsung berdiri.
Weni menatap wanita muda dan cantik didepanya dengan terpaku, wajah gadis itu mengingatkan dirinya dengan Alena yang sudah lama pergi.
"Kamu benar cucu nenek?" Tanya Weni dengan suara khas tuanya.
__ADS_1
Sena tersenyum dan mengangguk. "Cucu nenek yang pernah disini saat masih dalam kandungan." Ucap Sena dengan mata yang juga berkaca-kaca.
"Ya Tuhan, cucu nenek." Weni langsung memeluk Sena begitu erat, dirinya tidak perlu meragukan siapa gadis yang Ia peluk, karena wajah nya sangat mirip dengan Alena.
"Apa kabar Nek." Sena tersenyum haru, dirinya senang masih bisa bertemu orang baik yang sudah menolong Mamanya.
"Baik nak, nenek baik." Weni menangis di pelukan Sena.
Kemal pun hanya diam memperhatikan dirinya juga terharu melihat kakaknya bertemu dengan wanita baik yang sudah menolong Mamanya.
"Kamu hanya sendiri, dimana kembaran kamu?" Tanya Weni ketika hanya ada Kemal yang sudah dia kenal semenjak masih kecil.
"Ren sama papa nek, mengurus usaha yang di Jakarta, jadi Sena hanya sendiri." Ucap Sena yang sudah duduk di samping Weni.
"Syukurlah cucu-cucu nenek tumbuh dengan baik dan pintar, pasti Ren sangat tampan..nenek belum bertemu dengannya." Weni tersenyum haru, mengelus pipi Sena.
"Ya, Ren lebih mirip papa." Sena tertawa.
Ketiganya larut dalam obrolan yang hangat, Sena yang lebih banyak bercerita, Weni sekali menceritakan semua kegiatan Alena selama tinggal bersamanya, dan bagiamana wanita kuat itu menjalani hidupnya di saat jauh dengan suami dan keluarga ketika hamil.
Sena dengan senang hati mendengarkannya, sambil menyantap makan siangnya, sesekali juga menceritakan kehidupan nya tumbuh besar dengan Ren.
.
.
"Ian, lu kek nya hari ini lolos, gak dapet Surat peringatan." Ucap Dadang yang sedang duduk santai di kantin, menunggu jam kerja di mulai.
"Iya loh, neng geulis teh enteu manggil kamu." Kata Asep menimpali.
"Bagus deh, gue jadi bisa kerja lagi." Ucap Rian santai.
"Hay mas Rian.." Sapa wanita cantik dengan penampilannya yang sama seperti mereka menggunakan pakaian seragam pabrik, hanya saja beda warna, karena mereka beda bagian.
"Duh speak bidadari kedua nonggol." Ucap Dadang tersenyum lebar, menampilkan jejeran giginya yang sedikit menguning, maklum orang kampung kalau ngerokok teh kuat.
Rahma hanya memutar kedua matanya malas, ketika mendengar ucapan Dadang yang jelas dirinya sekarang ada saingan.
"Nanti Rahma nebeng ya Mas, soalnya ban motor Rahma bocor." Ucap gadis cantik dengan wajah bulat itu manis.
"Hm.." Rian hanya bergumam, sebenarnya dirinya malas tapi mengingat Rahma pernah menolongnya membuatnya tak ada pilihan lain anggap saja berbuat baik untuk membalas budi.
"Duh neng, kenapa gak sama mang Asep aja atuh, kan jalan rumah kita searah." Ucap Asep dengan gaya cool nya untuk menarik perhatian Rahma, bidadari speak kedua.
__ADS_1
"Ogah, kalau wajah Asep ganteng kaya Mas Rian, pasti Rahma_" Gadis itu menatap Asep dari bawah sampai atas. "Tetep nolak Asep." Ucap Rahma menatap Asep sinis.