
POV Alena
Kehidupanku begitu sempurna ketika dia datang sebagai pelindung dan menjadi teman hidupku.
Seorang gadis yatim piatu yang dari keluarga miskin, tidak pernah aku mengharapkan dan meminta banyak pada Tuhan untuk hidupku, hanya satu kebahagiaan untuk kami berdua yaitu aku dan adik kecilku.
Ketika sorang pria mengatakan cinta, jantung ini sudah berdebar-debar entah mengapa melihat pria itu membuat hati ku merasakan desiran aneh, di tambah ungkapan cintanya yang tidak ku sangka dan tidak ku duga membuat ku tak bisa berkata-kata.
Lambat laut karena sering nya bertemu dan mendapat perhatian kecil tulus darinya membuat hati ini semakin dalam memiliki perasaan untuk nya. Seorang pria tampan, bahkan sangat tampan, baik dan pengertian dia adalah Bimo Bagaskara, pria dingin dan cuek tapi sayangnya sangat menyebalkan bagiku.
Pria itu yang mampu membuat hatiku jatuh cinta sedalam-dalamnya, pria yang menjadi bos ku di tempatku bekerja.
Dia rela melakukan apapun demi membahagiakanku, sungguh cinta nya yang begitu besar dan tulus membuat hati ini tidak sanggup untuk berpaling sedikitpun dari nya.
Bimo Bagaskara, aku Alena Adhisti istri yang sangat mencintaimu, jika suatu saat takdir memisahkan kita aku harap dirimu selalu menjaga cinta kita, begitu pun sebaliknya jika aku tiada aku akan bawa cinta ini sampai mati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papa...!!"
Teriakan bocah laki-laki berusia tujuh tahun menggema di rumah besar lantai dua itu ketika melihat sang papa membuka pintu rumah.
"Hay.. boy.." Bimo langsung menangkap tubuh putranya untuk di gendong.
"Papa, pasti capek pulang kerja, ayo turunkan Ren." Ucap anak itu dengan wajah menggemaskan.
"Memangnya kenapa jika papa capek, papa masih kuat gendong kalian berdua." Bimo mengulas senyum dengan mengusap kepala putranya penuh kasih sayang.
"Ren sudah besar papa, sudah SD dan Ren_"
"Ren tidak malu minta gendong papa." Ucap saudari kembarnya yang datang dengan wajah datarnya menatap adik laki-laki nya itu.
"Ck. ayo Pah, turunkan Ren, kalau tidak Sena akan mengejekku terus." Ren menggoyangkan tubuhnya agar papanya mau menurunkan nya.
__ADS_1
"Oke, baiklah boy." Bimo akhirnya menurunkan putranya setelah mencium pipinya.
"Ck. Papa, I don't want to be kissed anymore..." Ren mendelik menatap papanya kesal.
"Why?"
"Aku sudah besar papa." Ren mendengus kesal.
Bimo hanya tertawa, sedang kan Briana hanya memutar kedua matanya malas.
"Ladies kamu tidak mau mencium Papa." Ucap Bimo yang melihat putrinya asik dengan buka nya, tidak heboh seperti Ren yang selalu membuat ramai ketika dirinya pulang kerja.
Briana langsung berdiri dan mendekati papanya.
Cup
Satu kecupan Ia berikan di pipi papanya.
"Good girl." Bimo mengelus kepala putri pertamanya itu dengan senyum mengembang, entah kenapa putrinya itu malah menuruni sifatnya yang cuek dan dingin, padahal dia adalah seorang perempuan, bahkan Bimo berharap putrinya itu akan memiliki sifat seperti Mama nya, tapi malah kebalikannya.
Bayi pertama yang lahir adalah bayi perempuan, dan yang kedua adalah laki-laki.
Bimo memberikan nama kedua anaknya seperti apa yang Ia ucapkan terakhir kali kepada mendiang istrinya yaitu, Briana Sena Bagaskara yang di panggil Sena, dan untuk bayi laki-laki Bimo memberinya nama, Birendra Seno Bagaskara atau yang suka di panggil Ren.
Sifat kedua nya berbanding balik, Ren yang memiliki sifat ceria dan humoris atau cerewet, berbeda dengan si sulung yang memiliki sifat cuek, dingin dan datar, dan Briana sama sekali susah untuk di dekati.
Bimo seperti bercermin pada dirinya sewaktu kecil ketika melihat sifat Sena yang dingin dan datar, tapi wajah putrinya itu mirip sekali dengan mendiang istrinya, mungkin istrinya dulu membenci sifatnya yang menyebalkan, hingga membuat Sena memiliki sifat yang sama dengannya.
Ren pun demikian wajah putra kecilnya itu, sama persis seperti dirinya, tidak ada yang mirip dengan Alena.
"Cucu Oma, ayo kita makan sayang, semua sudah siap, Ren, Sena?" Panggil Leina dari ruang makan.
"Papa bersih-bersih dulu kalian duluan, nanti papa menyusul, papa masih ada pekerjaan yang belum selesai" Bimo mencium kepala kedua anaknya bergantian.
__ADS_1
Sena dan Ren hanya mengangguk, dan Bimo pun pergi menuju kamarnya dan mendiang istrinya yang selama tujuh tahun ini sudah meninggalkannya untuk selamanya.
"Loh kok cuma berdua, papa kalian sudah pulang kan?" Tanya Leina ketika melihat hanya kedua cucunya yang datang, padahal dia tahu jika Bimo sudah pulang dari kantor.
"Papa masih ada pekerjaan Oma." Ucap Ren dengan posisinya yang sudah duduk di kursi.
"Sena?" Leina menunjukan ekspresi bertanya, tapi cucu perempuannya itu hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
Leina hanya menghela napas, sering sekali Bimo melakukan hal seperti ini, selalu menghindar setiap ada kesempatan, putranya itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, meskipun waktu untuk kedua anaknya tidak berkurang, tapi sekarang Bimo lebih pendiam dan menutup diri.
Leina tidak akan ikut campur dan memaksa putranya untuk membuka lembaran baru, karena dirinya pernah mencoba sekali, dan itu mengundang kemarahan besar dari Bimo dan dari saat itu Leina diam tanpa mau mengulanginya lagi, cukup melihat kedua cucunya bahagia dan tidak kekurangan kasih sayang sudah membuatnya bahagia, meskipun kasih sayang seorang ibu sangat penting dan mereka berdua tidak pernah merasakan hal itu sejak lahir.
Bimo memasuki kamarnya yang luas, hawa dingin selalu Ia rasakan setiap kali memasuki kamar itu.
Menaruh tas kerjanya disofa, Bimo membuka kancing kemejanya satu persatu, matanya mengedarkan kesetiap penjuru ruangan, dimana dirinya selalu berdua dengan Alena.
Bayangan mereka berdua selalu terlihat di setiap sudut nya, bayangan yang selalu membaut nya merasakan rindu yang semakin dalam hingga membuat dadanya berdenyut ngilu.
Melepas semua pakaian yang Ia kenakan hanya menyisakan bokser saja yang melekat pada tubuhnya.
Berjalan menuju kamar mandi, bibirnya mengulas senyum ketika melihat wanita yang begitu di cintai nya berdiri dengan menuangkan aroma terapi sambil menunggu air balthub penuh.
"Sayang, kamu sudah pulang." Senyum manis yang selalu mengambang membuat bibirnya ikut tersenyum.
"Aku sudah siapkan air untukmu." Wanita itu mendekatinya.
"Mau mandi bersama?" Tanya nya, namun hanya mendapat senyuman dan gelengan kepala.
"Kamu mandi dulu sayang, karena aku sudah mandi."
Cup
Bimo memejamkan kan mata ketika bibirnya dikecup dan terasa dingin. Dadanya bergemuruh dengan rasa nyeri dihatinya kian membuatnya tak kuasa menangis.
__ADS_1
Mengusap wajahnya kasar, Bimo menatap nanar tempat itu dengan mata penuh kesedihan.
"Sayang, aku merindukanmu."