
Krucuk...krucuk..
Bunyi suara nyaring berasal dari dalam perut Sena.
"Kamu belum makan?" Tanya Aaron yang tahu jika itu suara dalam perut Sena.
Sena menjadi malu, dan hanya geleng kepala dan nyengir.
"Hah..Kenapa? mau sakit lagi hm."
Aaron mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa uang lembar, di dalam dompetnya dan itu semua tidak lepas dari perhatian Sena, yang melihat beberapa Blackcard seperti yang dia miliki, bahkan lebih banyak milik Aaron.
"Kalian belikan kami makan, di tenda mang Juki, bilang Sena yang nyuruh." Ucap Aaron memberikan uang itu.
"Bukanya ini kebanyakan Ian." Ucap Dadang, yang melihat lima lebar uang berwarna merah.
"Beli apa saja makanan di supermarket, kalian terserah mau beli apa, antar ke lantai 59." Dan Aaron pun langsung membopong Sena untuk masuk ke dalam apartemen.
"Ar..turunin.." Sena memukul bahu Aaron.
"Kamu belum makan pasti lemes." Kilahnya mencari kesempatan.
Sena memanyunkan bibirnya, secepat kilat Aaron segera menyambar bibir itu.
"Ar.."
Bugh
Bukanya marah Aaron malah tertawa, karena Sena semukul bibirnya.
Mereka tidak tahu jika dua orang jomblo sejati masih memeperhatikan dan melihat kelakuan Aaron.
"Ya salam, kenapa cobaan yang ini lebih berat." Ucap Dadang mengelus dadanya.
Aaron menurunkan Sena di sofa ruang tamu, dan mengambilkan air minum untuk Sena.
"Terima kasih." Sena menerima gelas yang Aaron berikan. Aaron hanya mengangguk dan mengambil duduk di samping Sena.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya nya dengan tangan mengelus pipi Sena, merapikan anak rambut kebelakang telinga Sena.
"Em..tidak, terima kasih sudah menolongku." Ucap Sena yang sebenarnya banyak pertanyaan bermunculan di dalam kepalanya.
__ADS_1
Aaron yang dia kenal adalah pria biasa saja, meskipun memiliki motor terbilang mahal, tapi Aaron juga bekerja dan pasti dia bisa membayar cicilan, jika dia beli kredit. Tapi yang Sena pikirkan bagaimana isi dompet Aaron penuh dengan kartu-kartu keramat yang dimiliki bukan sembarang orang.
Dari wajah pria itu sudah jelas jika dia bukan keturunan asli Asia, wajah Aaron mirip dengan bule.
"Melamun heh." Aaron meniup wajah Sena yang menatapnya dengan pandangan kosong.
"Iss.. ganggu aja sih." Sena kesal, kembali duduk dengan benar.
"Apa kamu tahu siapa mereka tadi." Tanya Sena hanya untuk memancing, karena dirinya tahu penjahat yang sebenarnya bukan lah pria yang berpakaian serba hitam tadi.
"Tidak." Ucap Aaron dengan santai, dirinya tidak ingin membahas dan Sena tahu tentang siapa mereka. Karena baginya mereka kini adalah musuh yang harus di waspadai, takut jika nanti Sena akan di culik kembali.
Sena hanya mengangguk, pria di depannya ini ternyata menyimpan suatu rahasia yang dirinya tidak boleh tahu, dan itupun juga terjadi padanya.
"Kamu tahu, di pabrik lagi heboh dengan ini.." Aaron mengeluarkan ponselnya, dirinya menunjukan foto yang heboh di pabrik, foto itu Aaron minta dari Dadang.
"Em.." Sena mengangguk.
"Hanya itu." Aaron menaikkan alisnya ke atas, melihat reaksi Sena. "Kamu tidak merasa terganggu, atau terancam." Tanya Aaron lagi.
Lagi-lagi Sena hanya menggeleng.
"Fix, calon istri gue banget." Aaron memeluk tubuh Sena dan menaruh dagunya di pundak Sena.
"Duh mas, kata-katanya sok bijak banget." Ledek Sena dengan menahan tawa.
Dirinya tidak percaya mendengar yang Aaron katakan. Apalagi pria itu banyak mesumnya ketimbang warasnya.
"Demi kamu, aku rela menderita."
"Lah, malah nya-ir." Sena tak kuasa menahan tawa, dan wanita itu meledakan tawanya untuk pertama kali didepan seorang pria.
Aaron tak lepas menatap wajah Sena yang begitu cantik ketika tertawa, bahkan bagi Aaron ini adalah anugerah melihat Sena yang tertawa, karena biasanya gadis itu hanya bicara ketus kepadanya.
Aaron memajukan wajahnya, mendekati wajah Sena yang terlihat merah karena lama tertawa.
"Ar..kam_ emph.." Suara Sena tenggelam dalam ciuman yang Aaron lakukan, pria itu mencium dan mellumat bibir Sena dengan lembut. Keduanya larut dalam cumbuan cukup lama hingga Sena kehabisan napas, dan terdengar suara bel berbunyi.
"Biar aku yang buka."
Cup
__ADS_1
Aaron mengecup bibir Sena kembali, sebelum beranjak untuk membuka pintu, dan Sena hanya duduk diam dengan jantung tak berhenti berdetak cepat.
"Lama amat Ian, buka pintu. Aku kira salah alamat." Ucap Dadang membawa dua bungkusan plastik besar, diikuti Asep membawa satu kantong plastik berisikan makan malam.
Sena menyiapkan tempat di meja makan, kebetulan meja itu cukup untuk empat orang.
Dan Aaron pun mengajak kedua temanya itu masuk kedalam, membuat Dadang dan Asep takjub tak berkedip melihat apartemen mewah milik Sena, atasannya.
Bagi Dadang dan Asep, tempat seperti ini sudah bisa di katakan orang sangat kaya, apalagi mereka dari keluarga biasa aja, bisa bekerja di pabrik dan mendapat penghasilan pun mereka sudah bersyukur, dari pada berkeliaran di jalanan menjadi pemulung.
Beruntung pabrik itu di beli oleh orang baik, dan menjadikan warga sekitar yang usianya masih bisa masuk ke dalam kriteria bisa bekerja, meskipun tidak memiliki ijazah yang tinggi, tapi pabrik itu menerima siapa saja asal mau bekerja dan jujur.
Jam menunjukan hampir dua belas malam, tapi mereka masih asik bermain di apartemen Sena, bahkan Sena sendiri ikut kumpul bersama mereka.Tak ayal Dadang dan Asep menjadi obat nyamuk dan iri melihat perlakuan Aaron kepada Sena.
"Balik lu Ian, awas aja lu apa-apain si bos." Ucap Dadang yang sudah berdiri di luar pintu dengan Asep untuk pulang.
"Bawel, usah sana duluan, tar gue juga balik." Aaron mengibaskan tangannya mengusir kedua temannya.
"Awas aja lu, kalau ngibul."
Aaron menutup pintu dan menguncinya ketika kedua temanya sudah pergi.
"Loh, kamu masih disini?" Tanya Sena yang keluar dari kamar, dirinya ingin mengecek pintu. Ia pikir Aaron juga sudah ikut pulang.
Aaron maju mendekati Sena yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Mau tidur disini." Ucapnya santai, dan langsung membuka kembali kamar Sena.
"Eh..gak bisa gitu, aku panggilin security nih." Ancam Sena yang melihat Aaron masuk ke dalam kamarnya.
Pria malah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ar..!!" Sena mendelik tajam.
"Kemarilah, tidak usah teriak-teriak." Aaron menepuk tempat kosong sebelahnya. "Kemarin saja kamu memeluk tubuhku erat, dan sekarang kamu tidak ingin tidur denganku." Ucap Aaron menggoda Sena.
Sena mendelik, mendengar ucapan Aaron yang sama sekali tak benar.
"Tidak isah terkejut, apa perlu aku perlihatkan foto waktu kamu memelukku ketika tidur." Goda Aaron mengambil ponselnya.
"Lihat.." Benar saja, di foto itu Sena terlihat sekali memeluk tubuh Aaron.
__ADS_1
"Brengsek kau Ar..!!" Sena menerjang Aaron, dan memukuli nya membabi buta.
Hingga membuat keduanya perang di atas ranjang dengan Sena yang kesal dan marah.