
"Weeess nih bos kedua kita nih." Ucap Guntur ketika melihat Resa datang.
"Men.." Resa memeluk Bimo ala pria, karena mereka berdua memang tidak pernah saling ketemu.
"Apa kabar Res." Bimo menyambut dengan hangat.
"Baik.."
"Dia mah, selalu baik kalau sakit ya tinggal di suntik sama si Arum." Guntur menimpali.
Bimo terkekeh. "Gak bawa bini lu."
"Masih kerja, anak juga sama Mama gue baru pulang ngantor langsung kesini gegara ni cunguk." Resa melirik Jingga.
"Santai bos...lu gak tau kalau kita disini karena keberuntungan bisa kumpul."
"Bener banget Jing, kalau gak pas kita kemari mana tau mau ketemu bos yang punya cafe." Ucap Guntur menatap Bimo.
Alena menatap suaminya yang hanya tersenyum. "Bos yang punya cafe." Beo Alena membuat Bimo menoleh.
"Lah, jangan-jangan bininya kagak tau lagi kalo yang punya cafe nih lakinya." Ucap Guntur melirik keduanya.
__ADS_1
"Ya, memang dia tidak tahu." ucap Bimo santai.
"Aje gilee.. parah lu bos." Jingga menepuk pundak Bimo.
"Lu udah merid." Tanya Resa.
Bimo hanya menganggukkan kepalanya. "Dia bini gue." Bimo menatap Alena dengan senyum penuh cinta. "Dan disini calon anak-anak kita." tangannya mengelus perut Alena yang nampak sedikit dari atas meja.
"Eh..Busyeett... udah Tek dung." Jingga tak percaya dan berdiri melihat perut Alena dan benar saja sudah besar. "Bos lu gak MBA (married by accident) kan?" Lanjut Jingga tak percaya.
"Ngaco lu, mana ada bos kaya gitu. lu gak liat dia dulu jagain Dira kaya apa." Ucap Guntur menimpali pertanyaan Jingga.
"Ck. lu pada suka gak di rem kalo ngomong." Ucap Resa.
"Kalian pesan apapun, anggap aja gue telaktir karena gue udah nikah sama dia." Bimo merangkul bahu Alena.
"Widihh ceritanya telaktir di cafe sendiri, bukan maen.." Guntur senang bukan main.
"Gasskeun lah, nunggu Raka gak bakalan Dateng, karena calon bininya lagi minta di temenin." Jingga pun memanggil pelayan cafe.
Jingga memesan banyak makanan, karena aji mumpung di traktir yang punya cafe.
__ADS_1
.
.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Bimo yang melihat Alena diam saja sejak tadi
Kini keduanya berada di dalam mobil, setelah lumayan lama berkumpul mereka memutuskan pulang pukul tujuh malam.
"Sayang..hey.." Tangan kiri Bimo terulur untuk mengelus kepala Alena. "Kamu kenapa hm." tanyanya lagi dengan mata fokus kedepan.
"Jadi cafe tadi milik kamu." tanya Alena akhirnya, karena sejak tadi dirinya memikirkan hal itu.
"Ya ampun sayang, jadi kamu diam sejak tadi mikirin apa yang di bilang Jingga tadi." Bimo terkekeh dengan menggelengkan kepalanya.
"Hem.." Alena mengangguk polos.
"Benar itu cafe milik ku sayang." Katanya jujur. "Dulu sebelum aku menjadi CEO di kantor papa, aku buka cafe itu dari hasil uang tabunganku semenjak sekolah." Bimo mengingat dimana dirinya mengumpulkan uang nya untuk mendirikan cafe itu, cafe yang Ia rintis sendiri dari hasil uangnya, tanpa minta bantuan siapapun. Siapa sangka jika cafe yang Ia miliki menjadi ramai dan banyak peminat, bahkan sudah ada dua cabang di tempat berbeda.
Alena menatap suaminya dari samping, dirinya tidak menyangka selain seorang bos CEO ternyata suaminya juga seorang pemilik cafe sungguh dirinya sangat terpesona dengan suaminya ini.
"Jangan liatin aku seperti itu sayang." Ucap Bimo membuat Alena melengos.
__ADS_1